"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung"
Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
"8+2 = 11"
"Sawit itu kan juga pohon, kan? Ada daunnya, kan?"
"Orang-orang pintar di Jakarta tidak peduli dengan nasib nelayan."
"Orang desa tidak ada yang pakai dolar kok."
Empat kalimat bodoh, dan yang melempar keempat kalimat bodoh ini adalah orang yang memimpinmu saat ini.
pada nyangka ga si? kalimat “rakyat di desa ga butuh dollar” bakal keluar dari mulut seorang presiden..
padahal itu kalimat yang biasa dikeluarin oleh mulut buzzer yg ga berpendidikan. jujur aja my expectation was low but what the helly??
kedelai 90% aja import, dan dia bisa bisanya ngomong “orang desa ga pake dollar”
Fun fact
Inti dari kasus Nadiem adalah jaksa menganggap pengadaan Chromebook terlalu mahal dan tidak diperlukan
Padahal kalau kita bandingkan dengan IKN dan MBG
Chromebook vs MBG
• Kerugian kasus Chromebook 2,1 T (total)
• Pengeluaran untuk MBG 1,2 T/hari
Chromebook vs IKN
• 97% Chromebook udah digunakan pelajar
• IKN malah jadi tempat piknik keluarga bukan jadi ibu kota
Kenapa Tuntutan Jaksa di Kasus Nadiem ini Gk Masuk Akal?
Ayo kita bandingkan
Harvey Moeis
• Kerugian negara 300T
• 20 tahun penjara
Pak Nadiem Makarim
• Kerugian negara 2,2 T
• 27 tahun penjara
Asli udah pesimis banget sama negara ini
sakit banget hati gw tiap ngeliat berita nadiem. bayangin dia S1 udah di Brown University, S2 di Harvard University pada masanya, sepinter apa coba?! terus balik ke Indo ngasih kontribusi ke negara dengan bikin hampir 4 JUTA lapangan pekerjaan buat rakyat — lanjut memperluas kontribusi lg di Pemerintahan, eh tau-tau DITUNTUT TOTAL 27,5 tahun untuk KASUS GAJELAS (pidana penjara 18 tahun, denda 1M (subsidair 190 hari), dan pidana tambahan uang. pengganti (809M) & 4.8T (subsidair 9 tahun) atas SEDERET DENGAN DAKWAAN 0 BUKTI 😭😭😭💔
@txtdrimedia kmrn waktu orang sekitarku yg milih beliau aku tanya "kenapa kok kalian pilih beliau?" jawaban mereka merata "pengen liat aja apasih yg beliau kejar sampe ikut nyalon sampe berkali-kali" nah sekarang gimana? udah liat kan hasilnya? apa tanggapan kalian?
Ini adalah komen yang sangat cerdas soal MBG.
Kalo cerdas pasti paham
Mbg buka lapangan kerja?
Nope
Hanya menciptakan kontrak kerja,
Yg saat mbg dihentikan, di detik itu jg ngk ada pekerjaan
Mikiirrr
Halo, Netizen. Assalamualaikum. Btw, ini pertama kalinya aku bikin utas. Aku bukan siapa-siapa, tapi aku merasa perlu meluruskan ini. Semoga siapa pun yang baca, gak akan lagi nyampe menghujat si perempuan maupun alm. Aku cuma berempati kepada mereka. Mohon disimak ya🙏
Kenapa ngotot banget MBG DAN KOPDES?
Karena itu lumbung suara mereka 2029, tiap2 pemilik SPPG dan kepala KOPDES akan diberikan tugas memenangkan calon mereka di 2029 nanti, kalau sampai mereka tidak menang di daerah itu, siap2 pemilik SPPG dan kepala KOPDES nya diburu KPK 2029 , bahasa pendeknya adalah SANDERA POLITIK
MBG kan ada SPPG
sppg yang akan di bangun tuh 30.000
sementara kopdes akan ada 80.000 unit
kita anggap aja tiap sppg dan kopdes yang kerja 10 orang
SPPG:
35.000 unit × 10 orang = 350.000 orang
KOPDES:
80.000 unit × 10 orang = 800.000 orang
Total keseluruhan:
350.000 + 800.000 = 1.150.000 orang
Jadi kalau asumsi tiap unit diisi 10 orang, totalnya sekitar 1,15 juta orang.
1.15 juta suara terkumpul tanpa perlu sogokan dll
Kalau tiap unit 20 orang
115.000 × 20 = 2.300.000 orang
Kalau tiap unit 30 orang
115.000 × 30 = 3.450.000 orang
Kalau tiap unit 40 orang
115.000 × 40 = 4.600.000 orang
Kalau tiap unit 50 orang
115.000 × 50 = 5.750.000 orang
privilege terbesar tuh kayanya bukan warisan, tapi punya orang tua yang ga mewajibkan bulanan, ga mengharuskan bayar hutangnya, ga jadiin anaknya dana darurat, tapi malah selalu bisa bantu anaknya.
Selama kurang lebih 1,6 tahun masa pemerintahan, berbagai indikator penting menjadi sorotan publik. Mulai dari nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh angka sekitar 17.300 per dolar, hingga pergerakan IHSG yang dinilai tidak menunjukkan performa terbaiknya.
Di sisi lain, isu kesejahteraan masyarakat juga ikut menjadi perhatian, dengan jumlah penduduk miskin yang masih tinggi. Kualitas pendidikan pun kembali dipertanyakan, seiring dengan berbagai penilaian global yang menempatkan Indonesia dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Tak hanya itu, angka utang negara yang mencapai ribuan triliun rupiah serta defisit anggaran yang besar turut memicu diskusi di berbagai kalangan. Semua data ini menjadi bahan evaluasi yang terus diperbincangkan oleh masyarakat.
Pada akhirnya, publiklah yang menilai apakah capaian ini merupakan keberhasilan, atau justru menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan.
cc: musrhid