Kalo narsum 3 org sejenis & dr kubu yg sama semua, dgn host yg punya track record bias ke kelompok yg sama, itu namanya bukan diskusi, tapi product marketing. Pelakunya biasanya disebut sales.
kalian udah tau blom?
Sertu Riza Pahlevi yg menewaskan MHS (15) hanya divonis 10 bln penjara & tidak dipecat dari TNI
ibu korban, Lenny Damanik menangis histeris & minta keadilan untuk anaknya
selain penjara, Riza cuma diminta bayar uang ganti rugi Rp 12,7 jt ke ibu korban
MBG itu ketika di sekolah menjadi school meals, maka harus mendukung pembelajaran. Daya dukung ini,
❌ tidak membebani guru
❌ tidak menggangu jam pelajaran
❌ sesuai kalender pendidikan.
Ternyata, MBG merepotkan guru, mengurangi jam belajar siswa dan tidak mengikuti KALENDER pendidikan.
Kenyataannya sasaran MBG 82 juta, melebihi jumlah siswa seindonesia yang hanya 50 juta. Artinya MBG bukan School Meals dengan maksud peningkatan Gizi anak yang sedang sekolah.
Apalagi MBG tetap jalan meski libur, ramadhan dan lebaran. Maka MBG sudah diluar kurikulum dan kalender pendidikan. Diberikan di luar jam sekolah, bahkan siswa-orang tua direpotkan untuk mengambilnya.
Ketika sasaran MBG diperluas menjadi ibu hamil, lansia dll, maka ini merupakan fungsi kesehatan dan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, ini bukan daya dukung yang langsung kepada kualitas pembelajaran di sekolah.
Bukankah jika sasaran MBG diperluas, maka makin bagus? Mungkin saja, namun ingat, ketika cakupan diperluas dan ini ternyata untuk maksud-maksud lain untuk keamanan sosial dan kesehatan, dan apalagi dimaksudkan untuk multiplier effect (ekonomi), lantas mengapa sekitar 60% anggaran MBG diambil dari pendidikan, yaitu sekitar 223 Triliun?
Hal-hal yang tidak masuk akal ini sudah sering disampaikan kepada pemerintah, namun tidak digubris. Oleh sebab itu hanya kepada MK--penjaga pintu konstitusi-- kita berharap.
Maka, kami mengajukan JR terhadap MBG dalam UU APBN 2026. Untuk menegaskan bahwa telah terjadi perampokan anggaran pendidikan yang seharusnya bisa mensejahterakan guru dan berdampak pada kualitas pendidikan kita.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Appalling. Komunitas pesantren bisa bikin org dipecat, ancem pidana, kampanye masif di sosmed sampai turun ke jalan utk sebuah kritik sosial. Energi yg sama hampir ga pernah dikerahkan utk isu2 krusial yg merugikan rakyat, bahkan ketika santri sendiri yg menjadi korban.
Pram decision makingnya jago banget 😭😭👍🏻👍🏻
1. Dia gratiskan transum selama masa demo.
2. CFD tetep ada.
Keduanya nunjukin supremasi sipil. Transum itu simbol kedaulatan rakyat. Dibayar dari pajak, terjangkau, manfaat langsung terasa. CFD nunjukin kalau rakyat tidak takut.
Jurnalis utamanya tapi juga untuk semua: Ayo hentikan pakai ter-[kata kerja] seolah things just happen randomly. Jangan membeo aparat.
Say it as it is.
DITABRAK. Bukan tertabrak.
DILINDAS. Bukan terlindas.
DIINJAK. Bukan terinjak.
DICULIK. Bukan diamankan.
Come on.
Polisi Konoha adalah sosok iblis masa kini.
Dengan jubah dan sorotan mereka berdiri dibalik rezim.
Menghakimi masyarakat dg segala kejahatan dan kriminalisasi.
Terimakasih Polisi Konoha......🏃♂️➡️
Masjid tidak sesakral itu jadi cuma boleh digunakan buat ibadah. Sejak zaman nabi malah kayak Shelter.
Buat istirahat, tidur, berteduh, jualan, bahkan anak bermain.
Cucu nabi dulu main di masjid. Bahkan ada momen nabi lagi sujud sebagai imam solat, eh cucunya naik ke punggung.