@tempodotco Ada kasus kereta tabrakan saya diam
Ada kasus daycare bermasalah saya juga diam
Tetapi disini soal prabowo-teddy saya sampaikan SAYA AKAN LAWAN!!!
@SATUSEHAT apk error, mau daftar cek kesehatan diminta lengkapi identitas dulu, tapi tiap ngisi selalu ada notif NIK tidak ditemukan
Tolong segera diperbaiki, tks.
Oke, mari kita lihat konteksnya.
MBG lahir dengan cita2 ingin menurunkan stunting, ada keresahan calon anak2 tidak mendapatkan gizi yg baik. Visinya? Bagus dong.
Prevensi stunting itu dengan pemenuhan gizi 1000 hari pertama. Namun, dari awal, sasaran MBG adalah anak-anak sekolah.
Kemudian, tiba-tiba diperluas menjadi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah, yang usianya sudah lewat dari 1000 hari pertama.
Visinya bagus, misinya? Tidak selaras karena tidak melalui pengecekan fakta ilmiah yang benar.
Dari awal, sudah ada penyimpangan berpikir dalam memahami akar masalah maka tidak heran selanjutnya ada banyak kesalahan berpikir lainnya. Artinya, program tidak memiliki landasan berpikir yang kuat dan jelas.
Hal ini kemudian melahirkan masalah-masalah lainnya: bagaimana menjaga kualitas makanan tetap baik, bagaimana dengan potensi alergi thdp anak, dan lainnya.
Dalam lingkup penelitian yang objeknya melibatkan manusia saja, kita harus melalui kaji etik. Membuat proposal yang isinya:
- menjelaskan prosedur dengan detail tentang apa yang akan kita lakukan terhadap objek penelitian kita
- menjelaskan potensi dampak negatif pada orang yang kita teliti
- menjelaskan cara menanganinya jika itu terjadi
Semua dilakukan untuk memastikan keamanan manusia yang menjadi objek penelitian.
Tujuan penelitian tentu bagus, untuk kemajuan ilmu pengetahuan tapi ada yang namanya batasan etika dan moral.
Jika, penelitian dalam lingkup kecil saja dituntut dengan sangat ketat agar sebisa mungkin tidak membahayakan manusia, bukankah seharusnya program MBG yang skalanya nasional memiliki standar etik yang lebih tinggi?
Seperti yang kita ketahui, banyak kasus keracunan massal tapi tampaknya tetap tidak mendapat perhatian yang cukup untuk evaluasi besar2an.
Seolah setiap reaksi yang terjadi, itu adalah kesalahan rakyat (blm pernah makan makanan tsb, dll.)
Boleh berbeda keras tetapi tetap sisakan ruang untuk rasa juga. Kemanusiaan itu bukan hanya statistik, data. Setiap anak dan rakyat yang meninggal itu nyawa yang berharga.
Tidak mementingkan rasa dalam membuat program hanya akan melahirkan program yang tidak etis dan tidak memanusiakan manusia itu sendiri.
https://t.co/ofFlkGSm61
https://t.co/lw08ja7vdG
@NataliusPigai2 Memuji diri sendiri dan keluarga tapi juga dengan menyindir dan merendahkan orang lain adalah hal yg menjijikkan, kalo ada yg kerja sama saya kualitas hatinya spt ini sudah saya rumahkan pak, gak sehat utk lingkungan kerja.
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Rentang perhatian (attention span) kita kian pendek. Biasanya itu disematkan dalam cara kita menikmati bacaan dan tontonan.
Beberapa hari lalu, misalnya, secara ironis satu akun yang mendaku diri sebagai akun TXT literasi (perbukuan) mendegradasi kapabilitas literernya setelah mereviu novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Pak Ahmad Tohari sebagai salah satu contoh buku jelek/overrated.
Gara2nya, dia merasa ceritanya slow pacing (nyiput/selamban gerak siput kalau kata saya mah. Atau ngukang, merujuk ke kukang, ngungkang juga boleh; tapi ingat, kukang dan kungkang adalah dua hewan yang berbeda).
Soal tontonan, sudah kian lazim bagi kita untuk tidak tahan lagi menonton film/seri yang berdurasi panjang atau berepisode lebih dari, rata-rata sekarang, 8 episode yang masing-masingnya rata-rata berdurasi 40 menit. Lebih parah lagi, di Youtube, banyak para kreatornya mendapatkan banyak engagement dari hasil meracik potongan2 klip dengan disertai narasi yang merangkum film rata-rata 2 jam-an atau serial satu musim hanya dalam video berdurasi tak lebih dari 10 menit (jangan2 malah kurang dari ini).
Oke, sekarang, bisakah konsep tentang penurunan attention span diterapkan kala kita membahas politik rezim?
Tidak usah didebat bahwa di bawah arahan delusional Prabowo, kondisi poleksosbud (politik, ekonomi, sosial, dan budaya) kita sangat memprihatinkan.
Yang paling mudah ditengarai, pemerintahan sekarang sangat budek kupingnya dan tipis empatinya terhadap kondisi riil di masyarakat yang gelisah.
Protes dan kritik kita justru dinafikan, bahkan dianggap ancaman.
Kasus terbaru adalah penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras.
Oleh karena suara kita mentok, secara ironis kita justru berharap pada imajinasi jenaka tentang, misal, lantai kamar mandi.
Intinya, kemuakan kita sepertinya membuat kita menenggang suatu keajaiban di tengah jalan walaupun kita yakin bahwa penggantinya akan sama saja, bahkan mungkin lebih buruk.
Karena kita kian tidak sabar, attention span kita kian tergerus, tetapi nyali kita kian ciut di hadapan represi sehingga situasinya sudah seperti Deus Ex Machina dalam pentas drama Yunani. Kita kian berserah diri agar ada campur tangan ilahiah yang bisa mengudar keruwetan hidup sebagai WNI.
Soal "kekuasaan ini dari Tuhan" ini kan sudah diingatkan oleh Pak Quraish Shihab kepada Prabowo langsung.
Kita tadinya berharap dia langsung sadar diri bahwa kekuasaan tidak langgeng, bisa lepas kapan saja.
Eh, yang keluar malah pidato bahwa kemenangannya adalah takdir Tuhan.
Bisa beda banget itu pemaknaan atas hikmah yang seharusnya diambil dari nasihat tersebut. Tujuan nasihatnya supaya orang berendah hati, eh justru dijadikan justifikasi ala teokrasi.
Ya Allah, Ya Robbi!
Unpopular opinion:Kampus Top 3 (UI, UGM, ITB) itu overrated. Dosennya banyak yang sibuk proyek, fasilitas ga sebagus UKT-nya, mahasiswanya individualis abiss
jujurrr, mending masuk kampus "tier 2" kaya UB/Undip/Unpad, vibes-nya lebih manusiawi dan sender liat-liat banyak yang sukses juga yaa?? ptn!