I’ve reached a point where I’m like not excited about new models. There are too many releases, too many people overhype those releases, and it feels like marginal gains.
I feel like the models from the last few months are good enough for my coding needs at least.
Day 1: You don't know how to use abstractions, so you write flat code.
Day 1000: Your code is fancier and full of abstractions. It's "flexible", "scalable", "observable", and a bunch of other "-able".
Day 3000: You realize over-engineering is the biggest mistake of your career. You start writing flat code again.
DIRECTOR'S NOTE
Pengepungan di Bukit Duri jelas menceritakan kelompok masyarakat (termasuk pelajar) yang memiliki nilai hidup yang rusak termasuk menjadi pelaku kekerasan dan rasisme. Perilaku seperti ini tidak mungkin terjadi di ruang hampa. Ini adalah produk dari SISTEM YANG GAGAL. Dengan menggambarkan kerusuhan sebagai siklus, film ini justru mengkritik pembiaran struktural—yang tentu saja mencakup negara sebagai aktor besar. Ini adalah pilihan kami ketika memutuskan untuk bersuara lewat Pengepungan di Bukit Duri. Kami tidak ingin membuat film ini menjadi panflet politik (walaupun kalau ada filmmaker lain yang melakukannya ya nggak apa-apa). Tapi setiap ruang kosong yang dibiarkan oleh negara—dalam pendidikan, keadilan, dan keamanan—diisi oleh kekacauan. Dan itulah bentuk kritik kami. Perhatikan di awal film ketika ada demonstrasi dan peserta demonstran dilempari, polisi hanya diam dan membiarkannya terjadi)
Ini adalah film tentang akibat. Tapi semua akibat punya sebab—dan itulah yang kami sisipkan dalam lapisan narasi. (Termasuk di berita-berita, bahkan public annnouncement di stasiun kereta).
Film ini nunjukin anak-anak yang brutal, tapi perilaku mereka bukan lahir begitu saja. Perilaku itu lahir dari masyarakat yang sudah terbiasa menyakiti. Dan masyarakat itu dibentuk oleh arah kebijakan, nilai-nilai negara, dan cara bangsa ini menyikapi luka.
Tipe film yang menunjukkan 'akibat' seperti film Pengepungan di Bukit Duri ini bukan baru. Malah biasanya film yang 'mengkritik vertikal' biasanya menunjukkan keabsenan penguasa dalam hidup karakter-karakter rakyatnya. Seperti film Parasite (2019). Film ini tidak menyebut pemerintah Korea Selatan secara langsung. Tidak ada menteri, presiden, atau polisi yang dikritik secara verbal. Tapi kita diperlihatkan ada keluarga miskin yang rumahnya setengah di permukaan setengah di basement yang toiletnya aja hampir setinggi langit-langit. Di sisi lain, keluarga kaya hidup di rumah beraksitektur keceh, yang bahkan nggak terbiasa dengan “bau” orang miskin.
Atau Shoplifters (2018), di mana satu Keluarga miskin dalam film ini mencuri bukan karena ingin jahat, tapi karena sistem ekonomi tidak memberi ruang hidup yang layak. Tidak ada menteri sosial dalam cerita. Tidak ada poster kampanye pemerintah. Tapi ketimpangan hidup kerasa banget.
Atau, nah ini salah satu film favorit saya, Bully (2001) bikinan Larry Clark yang juga nunjukin sekelompok remaja yang nilai hidupnya kacau. Tidak ditunjukkan secara eksplisit dalam film bahwa mereka adalah produk dari sistem yang gagal, dari pemerintah yang gagal melindungi mereka. Tapi jelas bisa ditarik kesimpulan.
Penonton kita nggak bodoh. Dan kita seharusnya berhenti bilang bahwa kalau bikin film harus dijelas-jelaskan sejelas-jelasnya, severbal-verbalnya biar penonton paham dan nggak salah paham seolah-olah cuman kita yang bisa paham dan orang lain nggak punya kemampuan untuk memahami. Betapa arogannya kita kalau begitu. Rasisme tidak pernah dilahirkan. Nggak ada anak terlahir rasis. (Ini kami tunjukkan secara gamblang lewat karakter Anak Pembuka Pintu). Tapi anak diajarkan untuk jadi rasis, oleh orang-orang dewasa yang terbentuk jadi rasis karena dibiarkan (bahkan dibentuk) oleh penguasa. Sejarahnya panjang di negeri kita, yang akan membuat penonton mau mendalaminya setelah menonton film ini. Sebuah film genre. Film yang penyajiannya dibuat agar aksesibel untuk siapa saja, bahkan mereka yang hanya hadir untuk menikmati filmnya sebagai hiburan. Dan dengan cara inilah kami percaya pesannya akan sampai ke lebih banyak orang. Karena film adalah pengalaman manusia dan bukan hanya slogan.
Terima kasih dan selamat menyaksikan.
The registration for my animation course is open for the next 10 days.
Now with new lessons and components.
We'll build all of these and more, source code included.