Tweet ini aku buat untuk membagikan responku terhadap buku ini. Semuanya adalah murni pendapat dan pandangan terhadap kumpulan esai ini. Mohon dikoreksi kalau ada sepatah dua kata yang menurut kalian kurang berkenan.
Lagi-lagi, penerbit itu berulah lagi anjir. Dari yang jualan buku sejuta sekarang jualan buku dari dark romance bonusan lingerie. Pasar begini mah kebanyakan orang fomo makanya tren perintilan enggak penting amat ini yg buku sudah produk bisnis kapitalis para penulis baru di wtp
@senogp Sudah menjadi tradisi lama bagi kompas untuk menerbitkan buku biografi para pejabat negeri ini jadi enggak usah heran apalagi tahu sendiri kan buku-buku tersebut isinya kosong penuh dengan pencitraan enggak penting. Tapi, kompas sekali ngeluarin buku bagus ya bestseller
Ini baru cerpen pertama, ya. Sudah kerasa banget aura kesedihan yang cukup meresahkan bagiku. Belum kalau sudah memasuki cerpennya yang kedua hingga seterusnya.
@KawananPenembak Lucu banget ya 🤭cari buku Na Willa di Gramedia reguler enggak bakalan ketemu. Lagian Na Willa ini kan terbitnya indie jadi otomatis buku seperti itu bakalan mejeng di toko buku indie. Kalau nanyain di Makarya atau Post Press wajarlah. Tapi kalau nanya di GM reguler. Hmmm 🙄
Btw, sebetulnya buku-buku Maria A. Sardjono sudah di cetak ulang sama Gramedia. Tapi aku lebih memilih untuk mengoleksi versi vintage-nya saja. Soalnya versi yang belum disentuh revisi terasa lebih otentik ceritanya ketimbang versi yang diotak-atik
Kedatangan paket buku dari salah satu penulis produktif di era 80an-90an yang sezaman dengan Marga T dan Mira W. Siapa lagi kalau bukan Maria A. Sardjono
Buku-buku lawas yang kumiliki ini diterbitkan oleh penerbit Sanjaya dan Bahtera. Memang di zaman sekarang tak banyak pembaca yang mengetahui penerbit ini. Tapi bagi mereka yang menyukai cerita romansa di era tersebut pasti familiar.
Aku iseng-iseng bikin listopia dari beberapa cerber yang sudah di bukukan dari beberapa majalah Indonesia pernah aku baca dan ketahui. Kalau ada yang mau ngisih listopia dari beberapa cerber yang pernah dibaca boleh banget di isi.
https://t.co/56iAybtqnh
@astinasekar@suhairi4hmad Aku ada buku Divakaruni judulnya Istana Khayalan. Bagus banget, kisahnya tentang Mahabarata dari sudut pandang Drupadi, sayang bukunya di cetak sekali
Dulu saat mulai berjualan buku bekas sekitar tahun 2017, di benak saya cuman ingin menjual buku bacaan yg saya suka dengan harga terjangkau. Rasanya senang jika ada yg membeli dan ternyata suka juga dengan buku-buku yg saya jual.
Saya pernah menjual buku Arok Dedes seharga 65rb, pernah menjual Bumi Manusia seharga 100rb.
Di ekonomi sekarang, hal tsb sulit lagi dilakukan. Saya jualan buku bekas sekarang agar bisa dapet untung walo sedikit.
Pengalaman saya ada beberapa penjual buku bekas bagus di linimasa twitter. Berikut penjual buku bekas yg buku2nya menurut saya bagus:
@theKumajas@septembooks@soentingmelajoe@ujungbuku@kabukuan@MakaruMakara
Jika pembeli di "Ari" diibaratkan Ferrari di trek lurus Silverstone. Maka pembeli di "Jojomerdeka" adalah pesawat tercepat di dunia. Hanya mereka yg kaffah dan terpilih sang kudus yg bisa menang di sini.
Ending yang enggak akan pernah ditemukan. Akhirnya kasus ini naik kembali juga ya. Aku dulu ngikutin kasusnya sampai nama ripan telah menjadi legenda urban yang enggak diketahui keberadaannya.
Buat yg belum tau kasus @rumahliterasii, akan saya ceritakan sedikit kasus ini.
Si pemilik bernama Ripan, ia membuka lapak baca dengan narasi kesedihan pengunjung lapak bacanya, yg sama secara berulang agar mendapatkan simpati netizen. Di akhirnya ia membuka donasi untuk rumah bacanya.
Dan ternyata donasi tersebut ia gunakan untuk membeli buku-buku bagus yg menurut dia layak koleksi. Ia tidak menerima buku yg menurut dia jelek.
Saat dimintai pertanggungjawaban soal donasi, Ripan membuat laporan ala kadarnya. Donasi yg mencapai puluhan juta dan puluhan buku bagus.
@tmptmengeluhku Cepat pulih kak. Rasanya enggak pantes sekali seorang PS ini menyandang beberapa gelar sastra yang diperolehnya selama ini. Sastra bagi PS hanyalah kedok memuaskan hasrat bejatnya itu
Setelah baca thread ini sesak sekali. Emang kek tai ya PS ini. Baca bio si pelaku pun bawaannya istighfar. PS mendingan luh psikiater aja sana, heran dah sekolah tinggi-tinggi tapi sangean kelas kakap pun percuma.
Tetap semangat ya, Sun 😭
TW: ABUSIVE RELATIONSHIP, SH, RAPE AND SABOTAGE TO MENTAL HEALTH ACCESS (Kronologi Peristiwa Kekerasan Seksual Berbasis Relasi Kuasa dan Manipulasi Psikologis)
- thread memuat dokumen visual dan peristiwa di atas yang dapat memicu, prioritaskan keselamatan sebelum lanjut membaca
@meowlcat@tirnoyo@devoutcyborg Pernah baca sekilas kedua buku tersebut soalnya formatnya novella. Isinya lebih banyak membahas relasi kuasa ya walau agak timpang soalnya narasi ceritanya terkesan maskulinitas
Melayangkan pertanyaan dengan menyerempet ke tudingan plagiarisme itu sangat serius. Dan kalau baca komennya, ada yang langsung menuduh saya njiplak, mungkin tanpa baca dua bukunya. Akan baik jika dibuat sidang pembaca luring saja, untuk membedah dua buku itu secara objektif
Nah, penerbit jepang lebih banyak melakukan serialisasi lewat majalah manga masing-masing penerbit. Kalau di Indonesia lebih familiar judul-judul dari majalah Shonen Jump, Nakayoshi dan Ciao.
Karena saya suka sekali dengan konten ini jadi saya akan membagikan sedikit hal yang saya ketahui tentang perkembangan manga di indonesia.
https://t.co/Omkvtk4Opb
Sebetulnya tiap penerbit dan lini punya ciri khas masing-masing untuk membedakan judul-judul dari berbagai demografi tersebut. Kebanyakan manga di Indonesia di ambil dari penerbit Shueisha, Shodensha, Shogakukan, Hakusensha, Kadokawa, dll.