RIP SUAKA MARGASATWA KERUMUTAN!
Rumah Harimau Sumatera Lenyap Jadi Arang!
Mencekam dan membagikan kebiasaan lama yang tak pernah usai: Suaka Margasatwa Kerumutan di Riau salah satu benteng pertahanan terakhir ekosistem alam dan habitat Harimau Sumatera kini luluh lantak dibakar oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab!
Pohon-pohon hijau yang tinggi menjulang berubah jadi hamparan arang hitam. Tak ada lagi naungan bagi satwa langka, semuanya ludes dilahap si jago merah karena keserakahan manusia.
📍 Realita Pahit & Rincian Krusial yang Harus Dibuka ke Publik:
1. Pembunuhan Pelahan Harimau Sumatera & Satwa Endemik
Kerumutan bukan sekadar HUTAN KAYU BIASA, melainkan kawasan konservasi benteng habitat Harimau Sumatera yang statusnya sudah Sangat Terancam Punah. Saat rumah mereka dibakar, satwa ini terdesak keluar menuju permukiman warga yang ujung-ujungnya berakhir dengan konflik, perburuan, atau kematian.
2. Pola Lama: Bakar, Lenyap, Lalu Jadi Perkebunan Sawit?
Kita semua tahu pola sistematis ini: Hutan lindung/suaka dibakar -> statusnya dianggap rusak/kritis -> lalu tiba-tiba diusulkan alih fungsi jadi kawasan perkebunan kelapa sawit atau konsesi industri. Butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk memulihkan ekosistem gambut dan hutan Kerumutan, itu pun JIKA tidak diubah statusnya secara senyap oleh oligarki!
3. Di Mana Ketegangan Penegakan Hukum?
Riau kembali membara, dan yang dikorbankan adalah ruang hidup masyarakat adat, kualitas udara, serta keanekaragaman hayati. Penangkapan eksekutor lapangan saja TIDAK CUKUP jika aktor intelektual dan pemodal di balik pembakaran kawasan konservasi ini tidak diseret ke meja hijau dan dimiskinkan!
Semoga masih ada keajaiban bagi harimau dan satwa-satwa lainnya untuk selamat dan menemukan ruang baru. Namun, sampai kapan kita cuma bisa ngucapin PRAY FOR KERUMUTAN?
Apakah kasus Kerumutan ini bakal menguap begitu saja seperti karhutla tahun-tahun sebelumnya? Suarakan dan tanyakan keberadaan penegak hukum
Laporan langsung media Internasional Al Jazeera dari lokasi gempa di Flores,NTT.Jelas menelanjangi kebohongan pemerintah soal penanganan bencana.
**Pemerintah radue isen blas
A Gen Z joined the team.
Week one.
During onboarding, the manager said,
“We sometimes stay late during peak periods.”
Gen Z nodded.
Then asked,
“Is that paid… or just expected?”
The room went quiet.
- No attitude.
- No rebellion.
- Just a question.
Later that day, HR mentioned “growth opportunities.”
Gen Z replied,
“Does growth include raises, or just more responsibility?”
Again, silence.
- No laziness.
- No entitlement.
- Just clarity.
That’s when the team realized something.
When people say
“Gen Z is lazy,”
what they really mean is:
Gen Z watched old generation
- skip meals,
- miss birthdays,
- work weekends,
- and burn out
only to be told
“budgets are tight”
and “be grateful you have a job.”
So Gen Z chose differently.
- They don’t romanticize overwork.
- They don’t confuse suffering with ambition.
- They don’t trade health for praise.
They still work hard.
They just refuse to work for nothing.
It’s not laziness.
It’s pattern recognition.
And honestly,
after everything old generation went through…
Can you really blame them?