Bau itu masuk pertama kali di KM entah berapa di dalam hutan. Sangit. Kampas rem yang terbakar. Tapi kita nggak ngerem ekstrem sejak masuk hutan ini, dan bau kampas gosong itu dateng dari luar kabin, bukan dari mesin.
Terus bau kedua nyusul, lebih deket, lebih dalem. Anyir. Darah segar yang belum kering.
Dinda yang pertama noleh ke Najmi di pojok kursi belakang. Najmi dari tadi nggak ngomong, nggak gerak, nggak tidur. Cuma duduk dengan tangan di mulut, nutupin gigi copot yang lukanya masih nyeri dari Semarang. Badannya gemeteran pelan yang dia pikir nggak keliatan.
Dinda geser ke sebelahnya dan meluk tanpa bilang apa-apa.
“Dimas.” Suara Raka dari depan, pelan tapi datar. “Liat ke kaca samping lu.” Dimas noleh ke kaca samping kiri. Gua dari jok belakang bisa liat dari sudut mata dia langsung kaku. Sing ireng. Yang ikut dari Sindoro, yang berhenti di pagar Hotel Sky Garden karena takut sama Wewe. Di luar hutan Tahura yang gelap ini, dia nggak perlu takut sama siapa-siapa. Dia merayap nempel di bodi luar mobil, jari-jarinya mencengkram as roda depan, badannya terseret di aspal tapi nggak ada suara. Kepalanya naik pelan ke arah kaca samping dan natap Dimas dari jarak sepuluh senti kaca.
“Jangan rem mendadak,” kata Dimas pelan. “Gas terus.”
Raka gas. Kabut tetep tebal, jalur tetep curam, sing ireng tetep nempel. Terus kita masuk turunan Gotean. Pendaki dan pengendara yang hapal jalur ini tau: Gotean itu turunan panjang yang curam dengan tikungan di ujung. Kalau rem blong di sini, pilihan cuma dua. Jurang kanan, atau tebing kiri. Raka nginjek rem pelan buat kontrol kecepatan. Pedalnya turun sampai lantai. Nggak ada respons. “Rem,” kata Raka.
“Apa?” kata Dimas. “REM BLONG.”
Hutan Tahura Raden Soerjo jam dua pagi.
Jarak pandang mungkin dua meter. Bukan lebay, beneran dua meter. Headlight mobil sewaan yang udah redup dari awal nyorot ke depan dan cahayanya balik mentok kabut putih pekat. Kayak nyetir di dalam susu. Dimas duduk shotgun sambil ngelap kaca depan yang berembun terus dari dalam. Ngelap, nunggu sepuluh detik, kabut dari napas kita nempel lagi. Ngelap lagi. Nggak ada gunanya tapi dia terus lakuin itu kayak ritual. Suhu di kabin turun. Bukan pelan-pelan, tapi drop, kayak ada yang buka pintu freezer dari dalam.
Raka nyetir dengan muka yang udah beda dari Raka yang gua kenal. Dua jam dari Semarang, bahu dia udah nggak bergerak dari posisi tegang. Sekali-kali dia mukul setir pelan dengan telapak tangan, bukan marah, lebih kayak orang yang lagi ngebangunin diri sendiri. “Setirnya terus narik ke kiri,” kata dia. “Mungkin ban,” kata Dimas. “Ban bagus gua udah cek tadi.” Raka mukul setir lagi. “Kayak ada yang narik dari luar.”
Dimas nggak jawab. Gua nggak jawab. Kita semua tau itu bukan ban.
Jembatan Cangar itu bukan cuma jembatan biasa di Pacet. Hampir tiap bulan ada yang lompat dari sana. Bukan karena kecelakaan. Tapi karena ada yang bisik dari bawah, dan bisikannya kedengeran kayak suara orang yang paling lu sayang.
Kita nyetir ke sana jam dua pagi dengan rem yang blong di tengah turunan dan puluhan arwah yang serempak nunjuk ke jurang. Kita nggak lompat. Tapi Najmi hampir.
Dan Raka yang udah kuat dari Kawi sampai Semarang, yang nggak pernah sekalipun gua liat dia beneran pecah. Malam itu dia ngamuk di aspal sambil mulutnya keluar busa, minta dilepas biar bisa lompat.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Raka masuk ke turunan panjang arah Semarang waktu itu terjadi. Dari jok belakang yang kosong, ada suara. Berat, serak, kayak keluar dari tenggorokan yang penuh lumpur. Tepat di telinga kanan Raka. “Mandek kene… melu aku…”
(Berhenti di sini… ikut aku…) Raka mendadak pegangan setir lebih kenceng. Urat di lehernya keluar semua. Gua kenal Raka dari SMA, dia tipe yang di situasi paling parah tetap bisa senyum setengah mulut dan bilang “santai”. Malam ini ekspresinya nggak ada. Ekspresi kosong itu yang bikin gua lebih takut dari suaranya tadi.
Tanjakan Gombel, jam dua pagi. Jalannya meliuk tajam, tebingnya di kanan, jurang di kiri, kabut nutupin sebagian marka jalan. Nggak ada lampu jalan yang nyala. Raka masuk belokan pertama normal. Belokan kedua, setirnya macet. Bukan keras susah diputar, tapi kaku total, kayak dikunci dari luar. Raka ngejan, dua tangan narik kiri, nggak ada respons. Mobilnya lurus terus ke arah pembatas tebing. “RAKA BELOK”
“GUA COBA BANGSAT”
Dari Kledung ke Semarang harusnya satu setengah jam. AC mati duluan di KM pertama. Raka nyalain heater. Kabin jadi hangat dua menit, terus bau itu dateng. Anyir. Campur sesuatu yang lebih dalam dari anyir. Tanah yang udah lama nutup sesuatu yang membusuk.
Gua noleh ke belakang. Nggak ada apa-apa. Cuma empat orang di dua baris kursi belakang, dan satu area yang harusnya kosong di antara Dinda dan pintu kanan. Tapi baunya dari sana.
Napas Raka keluar jadi uap. Di dalam kabin yang harusnya anget dari heater, napas kita semua keluar jadi uap tipis kayak lagi di luar gunung. Gua taruh tangan ke ventilasi heater. Anginnya panas. Tapi udara di kabin dingin.
Najmi di belakang nutup kuping dengan dua tangan, matanya merem kenceng. Dia nggak bilang apa-apa. Najmi yang biasanya cerewet bahkan di situasi paling serius itu, sekarang nggak keluarin satu kata pun. Di sebelahnya, Dinda natap jok kosong di samping mereka dengan rahang yang udah kunci dari tadi.
Tanjakan Gombel itu bukan cuma jalan curam di
Semarang. Dulu itu tempat buang anak. Puluhan tahun. Bayi-bayi yang nggak diinginkan dilempar ke jurang di sana. Dan yang nunggu di bawah bukan tanah kosong.
Kita nyetir melewatinya jam dua pagi dengan sesuatu yang ikut dari Sindoro di dalam kabin.
Setir dibajak. Mobil nabrak tebing. Dan waktu kita lari ke bangunan tua di pinggir tebing itu buat sembunyi
Kita baru sadar kenapa sing ireng nggak mau ikut masuk. Ada yang lebih kuat dari dia di dalam sana.
Dan dia lagi nunggu.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah denger Gunung Tidar disebut Paku Tanah Jawa? Bukan kiasan. Secara harfiah ... gunung itu yang nahan seluruh Pulau Jawa supaya nggak goyang. Cabut pakunya, Jawa ambruk.
Dan malam itu kita bawa sesuatu yang kotor banget ke sana. Bukan sengaja. Tapi Tidar nggak peduli soal niat. Kita nyeret entitas Sintren dari Indramayu ke puncak Tidar buat diadili.
Yang kita nggak siap ... hukumannya bukan cuma buat entitas itu. Rantai di leher kita ikut ketarik juga.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Sebelum temen gua hampir mati kedinginan dan mulai ngelepas bajunya satu-satu di bibir jurang Sindoro... kita ngeliat hal yang jauh lebih sinting di bawah lerengnya. Kolam air suci yang berubah jadi kubangan darah tempat orang serakah berendam telanjang demi pesugihan kaya raya.
Kita naik ke 2.838 MDPL modal hoodie sama sneakers. Gak ada jaket gunung, gak ada logistik, gak lapor pos. Diseret paksa dari bawah kayak boneka tali jam 2 pagi. Selamat dari setan pesugihan Indramayu di Tidar ternyata ada bayarannya. Nyawa kita disita. Dan tugas pertama kita jadi tukang bersih-bersih alam gaib nyaris bikin kita semua mati beku konyol di sana.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah denger pesugihan Kandang Bubrah?
Syaratnya cuma satu: rumah lu nggak boleh berhenti direnovasi. Kalau tukang mandek kerja, nyawa keluarga lu yang jadi pondasinya.
Di IKN, ada yang bawa ritual itu ke sana. Minta proyek lancar. Minta duit ngalir. Tanahnya nggak terima. Dan yang nggak terima itu sekarang masih tinggal di sana nunggu yang dateng bawa tanda dari tanah lain.
Tanda kayak yang kita bawa dari Jawa.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Tiga hari di penginapan Magelang setelah lolos dari Merapi. Dimas udah lumayan pulih.
Sore itu, Najmi ngumpulin foto-foto dari HP kita. Tiba-tiba dia berhenti scroll, mukanya pucat, dan nyodorin layar HP ke gua.
“Ini di belakang Dinda, foto siapa?”
Itu foto waktu kita lari nembus hutan pinus Merapi. Di background yang gelap, tiga meter di belakang rombongan, ada sosok setengah ketutupan batang pohon.
Badannya menghadap kamera. Kepalanya miring ke kiri dengan sudut yang nggak wajar. Pakaiannya gelap banget.
Gua kenal cara dia berdiri.
Ada gunung-gunung yang menghukum karena lu masuk. Ada gunung yang menghukum karena lu pernah ada di dekatnya.
Di Samarantu, batas antara nostalgia dan petaka itu cuma setipis kabut. Dan malam itu, ada yang pakai rindu gua sebagai umpan buat nyeret gua keluar dari peta.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Di Gunung Kawi, ada perjanjian yang udah berjalan ratusan tahun. Kekayaan ditukar nyawa. Bukan nyawa yang mati tapi nyawa yang dipindah.
Kita mampir ke rumah yang salah, di malam yang paling salah, dan Dimas duduk di kursi yang harusnya nggak pernah dia sentuh.
Dia nelen satu suapan. Satu suapan yang hampir bikin kita pulang berlima tapi nyampe berlima tanpa Dimas yang sama.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Alas Purwo bukan hutan biasa. Ini hutan pertama yang tumbuh waktu tanah Jawa baru naik dari dasar laut. Yang tinggal di sini bukan penunggu mereka pemilik.
Kita masuk dengan lima orang. Najmi keluar dengan sesuatu yang ikut nempel di raganya. Dan Dinda yang baru seminggu sebelumnya diselamatin Najmi dari Gumitir yang harus balikin dia.
ini malam terakhir perjalanan kita. Dan yang paling berat.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah lewat Alas Gumitir malem-malem dan ngerasa patung penari Gandrung di tikungannya ngelirik ke arah lu? Jangan ditatap balik. Kalo dia senyum, raga lu bakal ditarik paksa buat nemenin dia nari di dasar jurang.
Dinda hilang di tikungan kelima Alas Gumitir. Raganya ditemukan tiga hari kemudian di sebuah desa mati yang bahkan nggak tercatat di peta kuno manapun. Dan Dinda ingat semuanya.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah denger pesugihan yang tumbalnya nggak bisa digantiin pake nyawa orang asing, sampai akhirnya ngebantai sekeluarga? Di Surabaya, ada satu istana mangkrak karena pemiliknya ditenggelamin ke dasar laut sama iblis pesugihannya sendiri.
Lolos dari hutan Ngawi, kita ngira kota besar bakal ngasih rasa aman. Malam itu, kita masuk ke rumah tempat arwah keluarga itu masih nyari raga pengganti.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah denger pesugihan Kandang Bubrah? Syaratnya cuma satu: rumah lu nggak boleh berhenti direnovasi. Kalo tukang mandek kerja, nyawa keluarga lu yang jadi semennya.
Atau pesugihan Tuyul yang nguras darah istri lu tiap malem buat ngasih makan peliharaannya?”
Di gerbang Alas Ketongo, harusnya kita pulang.
Tapi malam itu kita nyasar ke tengah ritual mereka. Dan kita baru sadar tumbal yang mereka cari malam itu adalah kita.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Pernah denger mitos jalan tol gaib Alas Roban? Syaratnya cuma satu: lu nggak boleh turun dan makan di warung terang tengah hutan. Kalo lu nekat nelen makanannya, raga lu bakal ditahan selamanya.
Dan malam itu, di jalur lama hutan jati… sebuah bis malem dan truk beton masuk ke dalam perangkap itu
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Kalo lu denger keramaian pasar di tengah hutan Lawu yang beku… cepetan keluarin koin dan buang ke tanah. Anggap lu lagi jajan. Kalo lu diem aja, raga lu bakal ditahan buat ‘bayar’ dagangan mereka.
Ini bukan mitos. Ini yang kita alamin malem itu di ketinggian 2.900 mdpl.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
https://t.co/iDaswv9bvl
4. Penjara Bawah Tanah Lawang Sewu - Semarang
Buat yg belum tau, Lawang Sewu itu nggak cuma soal megahnya arsitektur, tapi kengerian sejarahnya di lorong bawah tanah. Tempat drainase ini diubah jadi Penjara Jongkok & Berdiri jaman Jepang. Tawanan disiksa, ditumpuk, dan dibiarin mati kerendem air. Mitos dari warga sama urban explorer: bau anyir darah sering tiba-tiba kecium pekat, disusul suara rintihan orang kelelep. Pantangan paling keras di sana? Jangan pernah natep lama-lama ke dalem genangan airnya, karena arwah korban tawanan sering nampakin muka hancur mereka dari dalem air buat narik orang idup.
TEMPAT-TEMPAT PALING ANGKER DI INDONESIA
— A THREAD —
Berawal dari obrolan iseng gua dan temen-temen pas lagi nongkrong tengah malam, kita nyadar satu hal: di setiap daerah atau kota, selalu ada titik-titik tertentu yang ternyata punya "penunggu" dan pantangannya masing-masing.
Mulai dari misteri bangunan kolonial peninggalan Belanda, rumah sakit terbengkalai yang hawanya selalu bikin merinding, sampai jalanan sepi dengan mitos warga lokal yang terus diceritain turun-temurun.
Makin digali, gua makin yakin. Di balik hiruk-pikuk dan indahnya sebuah kota, selalu ada sudut tak kasat mata yang nyimpen tragedi dan cerita kelamnya sendiri. Gua udah ngumpulin beberapa lokasi dari hasil obrolan kita. Siapkan mental kalian.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor