Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
Ya gak bisa cuma dianggap "numpang" lah, bikin manusia kan "bahan"nya juga bukan cuma sel telur dan sperma doang, yg lain2nya tetep dari yang punya rahim.
Human trafficking in different term aja gak sih surrogacy ini.
Punten, surrogacy memang ada penyedianya. Di beberapa negara pun memang surrogacy legal dan lumrah. Ada agencynya, ada kontraknya, dan biayanya sangat mahal. Kebetulan aku ada kenalan dari Thailand pakai jasa surrogate dari Amerika Serikat.
Perempuan yang meminjamkan rahimnya untuk tempat inkubasi sel telur ibu dan sperma ayah memang mau mau aja, toh dibayar. Jadi bukan pakai sel telur surrogate tsb, hanya “numpang” istilahnya.
Kalau memang dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan, siapa kita untuk ngejudge pihak penyedia dan pengguna jasa?
@AyaPamungkas Paling muak sama kajian-kajian percintaan dengan branding di khususkan untuk remaja-remaja perempuan hijrah, ustadz2 modelan gini merasa ingin dipandang paling waw dihadapan jamaah ukhti2 & ingin dipandang sebagai idol.
orang jawa emang paling jago bikin backhanded compliment. saying "rezeki beliau memang bagus" to imply the said person is talentless but lucky is so insane