Post-training justru menarik karena datanya datang dari titik kegagalan yang spesifik. Bukan cuma ngajarin robot โcara melakukanโ, tapi menunjukkan โdi bagian mana kamu salah dan gimana memperbaikinyaโ. Kalau dikumpulkan dalam skala besar, feedback kayak gini bisa jadi sangat valuable buat ningkatin policy.
@Marlotalks Anak boleh tahu orang tuanya lagi susah, tapi jangan sampai anak dipaksa jadi tempat menanggung beban emosinya. Mereka butuh orang tua untuk bersandar, bukan sebaliknya. Anak tetap berhak punya masa kecil tanpa merasa harus menyelamatkan keluarganya.
@rumibayanaka Kalimatnya dalem banget. Kadang kita terlalu sibuk nyari arah, sampai lupa tujuan akhirnya memang kembali kepada-Nya. Selamat Jumat, semoga ibadah hari ini bikin hati lebih tenang.
@txtdariyelllow Setuju. Kadang bahagia nggak perlu nunggu sesuatu yang besar, cukup punya waktu buat diri sendiri tanpa bikin masalah baru. Ngopi, makan mie ayam, nanem, jalan-jalan, sesederhana itu tapi efeknya bisa panjang. ๐ป
@dotarsip Lathi memang salah satu momen โlah ini lagu Indonesia?โ yang paling satisfying ๐ Begitu bagian Jawa masuk, langsung berasa identitas Indonesianya. Keren juga bisa bawa unsur lokal sampai dikenal luas tanpa kehilangan karakter aslinya.
@sinau2024 Bener, mitigasi itu bentuk ikhtiar sebelum bencana datang, bukan baru bergerak setelah semuanya terjadi. Bangunan bisa diperbaiki, tapi kesiapan warga bisa jadi yang menentukan siapa yang selamat.
@airplanestar_ Nah ini fungsi beta/testnet yang sering dilupain. Makin banyak yang nyobain, makin banyak edge case yang kebuka. Incentive boleh jadi umpan, tapi jangan sampai ujungnya user cuma dapat pengalaman dan developer dapat data. ๐ญ
@Twittysweetie_ Rukun banget, sampai urusan ikan setrum pun ada satpam sungainya sendiri ๐ Tapi bener, hidup di kampung punya keuntungan yang sering nggak dihitung cuma dari harga. Ada akses pangan, kebun, dan tetangga yang masih mau berbagi. Tinggal mau gerak atau nggak.
@aniqardyy Wkwk โdilarang berkembang biak sebelum berkembang baikโ ini harusnya dipasang di pintu masuk aplikasi dating. Prioritas hidup: berkembang dulu, berkembang biak belakangan. ๐ญ
Gibraltar tuh salah satu tempat yang kelihatannya cuma โbatu di ujung Spanyolโ, padahal sejarahnya kayak punya 12 season. ๐ญ Dari Neanderthal, Tariq ibn Ziyad, Inggris-Spanyol, sampai monyet yang katanya jadi penentu nasib wilayahnya. Sejarah memang hobi bikin lokasi kecil jadi drama geopolitik.
Sekarang kita dorong shopping cart keliling supermarket tanpa mikir apa-apa.
Tahun 1937, orang malah malu memakainya.
Sylvan Goldman memperkenalkan shopping cart pertama di toko kelontong Humpty Dumpty, Oklahoma City, pada 4 Juni 1937.
Bentuknya juga nggak seperti cart yang kita kenal sekarang.
Dasarnya cuma dua kursi lipat yang dipasang saling membelakangi, diberi roda, lalu ditambahkan keranjang.
Masalahnya bukan desain.
Masalahnya manusia.
Sebagian perempuan sudah capek mendorong stroller, jadi nggak tertarik dengan benda yang kelihatannya mirip.
Sebagian laki-laki malah menganggap mendorong cart terlalu feminin.
Akhirnya Goldman menemukan solusi yang sangat... manusiawi.
Dia menyewa orang untuk pura-pura berbelanja sambil menggunakan cart tersebut.
Ada pria dan perempuan yang berkeliling toko dengan cart, memasukkan barang ke dalamnya, seolah benda itu sudah biasa dipakai semua orang.
Pelan-pelan pelanggan ikut mencoba.
Dan berhasil.
Shopping cart kemudian mengubah cara orang berbelanja. Keranjang yang tadinya cepat penuh sekarang bisa diganti dengan wadah beroda yang jauh lebih besar.
Yang lucu, teknologi ini sebenarnya sudah bekerja sejak awal.
Yang perlu diperbaiki justru persepsi manusianya.
Kadang sebuah penemuan nggak gagal karena desainnya buruk.
Cuma belum ada yang berani terlihat sebagai orang pertama yang menggunakannya.
Yang bikin menarik justru dua sisinya itu. Compute yang benar-benar punya utility, sekaligus security buat menghadapi ancaman quantum di masa depan. Tapi menurut gue pembuktian terbesarnya tetap demand: apakah orang benar-benar mau bayar untuk compute yang dihasilkan network ini, bukan cuma tertarik karena narasi quantum.
@dedehdollet Sawi pagoda ini memang menggoda sih, apalagi bisa masuk ke banyak masakan. Ditumis bawang putih aja udah enak, tapi kalau masuk mie atau bakso juga nggak nolak.
@falalanisrina Wkwk doa memang penting, tapi kaki juga harus ikut jalan. Rezeki di tangan Tuhan, ikhtiar itu bagian dari cara kita menjemputnya. Kalau cuma rebahan, ya pintunya dibuka, kitanya masih di kasur. ๐ญ
@hutanbernapas_ Kelor memang menarik banget, terutama bagian bijinya yang ternyata bisa dimanfaatkan untuk membantu menjernihkan air. Selama ini taunya daun kelor buat sayur, ternyata satu pohon isinya serba guna juga.
Sebelum ada ragi tempe dalam kemasan, orang Jawa harus mendapatkan kapangnya dari suatu tempat.
Masalahnya, kita nggak punya catatan yang bisa menunjukkan siapa orang pertama yang berhasil membuat tempe.
Yang kita punya justru petunjuk kecil dari sesuatu yang kelihatannya sepele: daun pembungkusnya.
Tempe dibuat dengan kapang dari genus Rhizopus, yang tumbuh membentuk jaringan putih dan merekatkan kedelai menjadi satu.
Nah, penelitian mikrobiologi menemukan Rhizopus yang berkaitan dengan fermentasi tempe pada daun Hibiscus yang juga digunakan dalam tradisi pembungkus tempe.
Dari sini muncul satu hipotesis menarik.
Mungkin pada masa awal, kapang dari lingkungan daun ikut berpindah ke kedelai yang dibungkus di dalamnya.
Kalau kondisinya cocok, kapang tumbuh.
Kedelai berubah.
Dan manusia kemudian belajar bahwa proses ini ternyata menghasilkan makanan yang bisa dimakan.
Tapi bagian ini penting: kita nggak bisa bilang tempe โditemukan secara tidak sengajaโ begitu saja.
Itu masih hipotesis.
Yang kita tahu, tradisi tempe sudah cukup tua. Serat Centhini dari 1815 sudah mencatat keberadaan tempe dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Jadi mungkin sejarah tempe bukan cerita tentang seseorang yang suatu hari tiba-tiba menemukan resep.
Bisa jadi ia lahir dari proses yang jauh lebih panjang: manusia mencoba, membungkus, menyimpan, mengamati perubahan makanan, lalu perlahan memahami mikroorganisme yang bahkan belum mereka tahu keberadaannya.
Sebelum manusia tahu apa itu kapang, mereka sudah lebih dulu belajar hidup berdampingan dengannya.
@SiPalingDepok Pisang goreng sih nggak ada lawan ๐ Ternyata buah yang identik sama Amerika Latin malah punya perjalanan panjang dari Asia Tenggara. Pisang memang keliling dunia sebelum akhirnya kita celupin ke tepung.
@dosenhukumnotes Nah, kalau sampai permohonan uji materiil sendiri diduga hasil plagiasi, yang dipertanyakan bukan cuma etiknya, tapi kualitas argumentasi hukumnya. Mau meyakinkan hakim soal konstitusi, tapi argumennya bukan hasil pemikiran sendiri, ya jadi agak ironis.