Ada yang spesial dari lagu tribun milik suporter PSS Sleman.
Bukan cuma soal nada atau seberapa keras dinyanyikan, tapi tentang makna di tiap liriknya.
“Setiap jejak yang kutinggalkan, menapaki harum kemenangan”
Kalimat ini bukan cuma tentang kemenangan di papan skor.
Tapi tentang perjalanan panjang yang dilalui bersama klub yang dicintai.
Tentang ribuan langkah menuju stadion.
Tentang perjalanan kandang ataupun tandang yang melelahkan.
Tentang hujan di tribun, suara yang habis karena bernyanyi, dan rasa bangga yang selalu dibawa pulang, apa pun hasil akhirnya.
Karena bagi suporter, setiap jejak yang ditinggalkan bersama PSS selalu punya cerita.
“Super Elja, lihatlah, kami datang di sini. Menemani, berjanji, kamu takkan sendiri”
Mungkin ini bagian yang paling menggambarkan arti loyalitas sebenarnya.
Di saat banyak orang hanya datang ketika tim sedang menang, tribun Sleman justru dipenuhi mereka yang memilih bertahan saat keadaan sulit.
Tetap hadir meski kecewa.
Tetap bernyanyi meski lelah.
Tetap berdiri walau klub sedang tidak baik-baik saja.
Sebab mendukung klub bukan soal siapa yang paling sering merayakan kemenangan.
Tapi siapa yang tetap tinggal ketika semuanya terasa berat.
“Bersamamu, semangatku tak akan berhenti”
Dan itulah yang membuat lagu ini terasa hidup ketika dinyanyikan ribuan orang bersama-sama.
Karena itu bukan sekadar chant tribun.
Itu janji.
Janji kalau sebesar apa pun masalah yang datang, PSS tidak akan pernah berjalan sendiri selama masih ada suara-suara yang setia bernyanyi di tribun.
“Dan pastikan kami s’lalu datang melihatmu menang”
Sesederhana itu harapan seorang suporter.
Datang ke stadion.
Bernyanyi selama 90 menit.
Mendukung tanpa henti.
Lalu pulang dengan rasa bangga karena klub yang dicintainya berhasil menang.
Karena sejatinya, sepak bola bukan cuma tentang pertandingan.
Tapi tentang rasa memiliki yang membuat seseorang terus kembali, lagi dan lagi, untuk satu nama yang sama: Super Elja.
#PSS #BCSxPSS
🚨🇮🇹 Ultras Lazio have just announced that will not buy season tickets or attend any home matches in either the Serie A or the Coppa Italia next season.
The Major fan group is staging this total boycott to protest club president "Claudio Lotito". The ultras are deeply frustrated with what they see as a lack of ambition, poor investment in the squad during transfer windows, and skyrocketing ticket prices. By leaving the Curva Nord empty, they aim to hit the club financially and pressure Lotito into selling the team.