2 tim merah, sama2 punya manajemen kacrut, sama2 berasal dari kota inisial M, sama2 berasal dari negara inisial I, sama2 terbuai sejarah. Cuma beda cabang aje. yg satu di sepakbola, yg satu lagi di roda 4.
o povo brasileiro pode ser o que for mais sempre tem alguns que fazem a diferença eu achei essa atitude da mulher muito linda , futebol é competição , parabens japao por essa torcida linda
🚨🚨| HEARTBREAKING: Palestinian goalkeeper Saleem Al-Ashqar has been 𝐊𝐈𝐋𝐋𝐄𝐃 in Gaza by the Israeli army, confirmed by the Palestinian Football Association. 💔
Our deepest condolences go out to his family and loved ones. 🕊️❤️
[@PalFootball]
Penjaga gawang asal Palestina, Saleem al-Ashqar (32), ditembak mati oleh pasukan Israel di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, pada Senin (29/6/2026).
Padahal, kiper klub Khadamat Khan Younis itu baru saja menikah lima bulan lalu. Ia meninggalkan seorang istri yang tengah mengandung anak pertama mereka.
Sumber: https://t.co/DNuJKOTm3z
@UTDEve@FabrizioRomano Point pertama harusnya udah jadi patokan buat MU cabut dari saga transfer ini. Champions League, menit bermain bakal banyak, main sama idolanya (bruno) tapi masih pertimbangkan spurs aja udah rada2.
@saludosparatii Setuju sama ente. Kalah sama pemegang gelar piala dunia terbanyak dibilang overrated itu kocak sih. Memang skuad Brazil gak seganas era 2000-an, tapi Brazil ya Brazil. Kualitas individu gak bisa boong. Jadi apes aja buat jepang langsung ketemu Brazil di babak KO.
Ramai yang bilang Jepang overrated, emang sebelumnya Jepang di-rate setinggi apa deh?
Sebagai orang yg ngikutin perjalanan Jepang dari 2018 (tiap FMD), gue aja ngga rate setinggi itu. Sesuai target aja yaitu QF.
Tapi karena langsung ketemu Brazil, yaudah kalo menang bagus, kalah ngga masalah. Secara ranking dan kualitas, Jepang masih di bawah tim-tim kuat.
Dan di edisi ini Jepang betul-betul pincang. Ada 4 pemain intinya yang tidak main. Sedikit banyaknya berpengaruh ke permainan.
So, Jepang sesuai rate-nya aja. Berhasil menang lawan tim yang harusnya bisa dimenangkan, bisa imbangin tim yang di atasnya, dan bisa kalah juga lawan tim di atasnya.
Kalo Jepang dibilang overhyped, gue setuju. Karena edisi ini jadi banyak yang membicarakan dan mendukung Jepang. Edisi sebelumnya ngga segininya.
Tapi kalo dibilang overrated sih ngga ya. Overrated itu kaya Turki. Dibilang kuda hitam tapi lawan Australia aja kalah dan gugur.
Piala Dunia 2006: Panggung Generasi Greatest of All Time
Piala Dunia 2006: Mungkin Turnamen dengan Kumpulan Pemain Terhebat yang Pernah Ada
Kalau ada yang bilang Piala Dunia 2006 adalah Piala Dunia paling "stacked" sepanjang sejarah, rasanya sulit untuk membantah.
Bayangkan satu turnamen yang mempertemukan tiga era sepak bola sekaligus.
Di satu sisi, ada para dewa yang sedang menari untuk terakhir kalinya.
Di sisi lain, ada para monster yang sedang berada di puncak performa.
Dan di belakang mereka, berdiri anak-anak muda yang nantinya akan menguasai sepak bola dunia selama hampir 20 tahun.
Semua hadir di Jerman 2006.
Ini adalah panggung terakhir Zinedine Zidane.
Sang maestro yang mengangkat Prancis ke final, mengacak-acak Brasil, lalu menutup kariernya dengan salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola.
Di turnamen yang sama, Ronaldo Nazário datang sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia saat itu. Cafu mengejar rekor tampil di tiga final beruntun. Roberto Carlos memainkan turnamen terakhirnya. Luís Figo, David Beckham, Pavel Nedvěd, Oliver Kahn, Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Cannavaro, Juan Pablo Sorín, Hernán Crespo, Hidetoshi Nakata, Henrik Larsson, Jan Koller, hingga Shunsuke Nakamura juga sedang menjalani bab terakhir mereka di panggung terbesar.
Satu era sedang mengucapkan selamat tinggal.
Namun para legenda itu belum benar-benar habis.
Mereka masih harus berhadapan dengan generasi yang sedang mencapai bentuk terbaiknya.
Buffon.
Pirlo.
Gattuso.
Ronaldinho—pemain terbaik dunia saat itu.
Kaká yang tinggal selangkah menjadi Ballon d'Or.
Thierry Henry.
Michael Ballack.
Miroslav Klose.
Juan Román Riquelme.
Andriy Shevchenko.
Steven Gerrard.
Frank Lampard.
Didier Drogba.
Michael Essien.
Iker Casillas.
Carles Puyol.
Xavi Hernández.
Rafael Márquez.
Park Ji-sung.
Zlatan Ibrahimović.
Mereka bukan sekadar pemain hebat.
Mereka adalah wajah sepak bola dunia pada pertengahan 2000-an.
Lalu, lihat daftar pemain mudanya.
Lionel Messi
Cristiano Ronaldo
Luka Modrić
baru mencicipi atmosfer Piala Dunia.
Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Ramos, Fernando Torres, Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Robin van Persie, Wesley Sneijder, Arjen Robben, Franck Ribéry, Javier Mascherano, Carlos Tévez, Daniele De Rossi, Andrea Barzagli, Guillermo Ochoa, Yaya Touré, Asamoah Gyan.
Saat itu mereka hanyalah "anak-anak".
Tidak ada yang menyangka sebagian besar nama itu akan menguasai Ballon d'Or, Liga Champions, Euro, Copa América, hingga Piala Dunia selama dua dekade berikutnya.
Coba pikirkan.
Di satu stadion, kamu bisa melihat Zidane mengatur tempo.
Di stadion lain, Ronaldinho sedang melakukan elastico.
Ronaldo Nazário masih berburu rekor gol.
Buffon menjaga gawang.
Cannavaro memimpin pertahanan.
Pirlo mengendalikan permainan.
Henry berlari di sisi kiri.
Riquelme menghipnotis lawan.
Lalu di bangku cadangan atau sebagai pemain muda, ada Messi, Cristiano Ronaldo, Iniesta, Ramos, Lahm, Schweinsteiger, Modrić, Robben, Van Persie, Sneijder, hingga Ribéry yang sedang menunggu giliran mengambil alih dunia.
Kapan lagi sejarah mempertemukan nama-nama seperti itu dalam satu turnamen?
Itulah mengapa Jerman 2006 terasa berbeda.
Bukan hanya karena Italia juara.
Bukan hanya karena sundulan Materazzi atau headbutt Zidane.
Melainkan karena di sanalah kita menyaksikan kematian satu era, puncak era berikutnya, dan kelahiran era Messi–Cristiano Ronaldo—semuanya terjadi dalam waktu empat minggu.
Mungkin tidak akan pernah ada Piala Dunia lain yang mampu mengumpulkan begitu banyak legenda masa lalu, pemain terbaik di masanya, dan calon legenda masa depan dalam satu panggung yang sama.
@UTDEve@FabrizioRomano Point pertama harusnya udah jadi patokan buat MU cabut dari saga transfer ini. Champions League, menit bermain bakal banyak, main sama idolanya (bruno) tapi masih pertimbangkan spurs aja udah rada2.