Lautan keramaian itu mungkin bisa saja menenggelamkanku; karam di antara lalu-lalang paras Ninenzaka yang seolah beku... atau justru sudut binar dari matamu?
Tetapi kala itu, ombak yang berpayung lembayung ungu dalam hati kian menepi begitu syahdu, membawa setiap langkah kecilku jatuh dan luruh pada sudut senyumanmu.
"Oh, Kekasih...."
Klausa itu kuucap berulang kali dalam kepala begitu sua hadir di antara kata dan kita; gadis Jakarta yang kini kembali menemukan halaman cerita.
Maka dari itu aku menulis ini karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku menulis ini karena hanya itu yang kini bisa aku sampaikan.
Kekasih, pada sudut garis bujur yang berbeda, ke langit mana lagi ya kita akan bercerita?
"Cinta enggan dipanggil semau dia. Ia bisa saja datang secara tiba-tiba bahkan tak sengaja. Mungkin hanya kau saja yang tak pernah menyambutnya. Karena beberapa dari kita, cinta hadir di saat dua anak manusia, sudah lama terbiasa bersama."
— Wiridinata Kinara Ayu Fauzia
"Mungkin hidup gue terlalu direncana, sampai jatuh cinta aja nggak ada dalam kerangka cerita, tapi karena hal jenaka yang jauh dari duga... hadirnya lo di hidup gue justru jadi pembuka dari bahagia."
— Raden Deva Avrata Dwi Bramaji
✦ Narasi: Berpayung Tuan Tamalan
“Kepada hati yang mencintai bagai tumbuhan menanti hujan dan matahari, semoga cintamu di bumi terkenang abadi.”
20.480 Words · 140 Pages · Coming of Age · 18+
🔗 https://t.co/WC7KchE1br
Mungkin nggak banyak, tapi kalau ada yang mau mendapatkan potongan sebesar 20% di https://t.co/oqAm02mZP7 ada kupon sampai tanggal 8 Mei 2025, ya. Bisa digunakan selama kuota masih tersedia.
CODE: BERBAHASA