Aku pernah membaca sebuah kalimat indah yang entah bagaimana selalu tinggal lebih lama di hati daripada di ingatan:
“.أجمل ما قيل عن يوم عرفات: هو يوم جبر لكل المنكسرين”
“Hal terindah yang pernah dikatakan tentang Hari Arafah adalah: ia merupakan hari pemulihan bagi setiap hati yang patah.”
— Shams Tabrizi
Like rain falling upon a long-dry garden, it revives things quietly— things people never even knew were wilting inside us. Alhamdu lillāh, after years and years of waiting, Allāh finally allowed me to stand in Arafah this year at such a young age. Sometimes it still feels unreal to me, as if I am merely living inside one of my own prayers. They say “good things take time,” and perhaps some prayers are written like the moon— they do not arrive all at once, but slowly, beautifully, when the night is finally ready for them.
Aku sangat bersyukur lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang selalu mencintai anak-anaknya dengan cara paling sunyi namun paling besar. Mama dan Ayah mengusahakan pendidikan kami, menjaga kehidupan kami, dan bahkan menanam jalan menuju Baitullāh sejak kami masih terlalu kecil untuk memahami arti pengorbanan. Their love reminds me of roots beneath a tree; unseen, unheard, yet holding everything together when the storms arrive.
Hatur nuhun pisan, Mama dan Ayah. Semoga Allāh selalu menjaga kesehatan kalian, memanjangkan umur kalian dalam keberkahan dan ketaatan, serta melindungi kalian dari hati-hati yang zhalim dan dunia yang terlalu keras. Semoga kami selalu dimampukan menjadi permata indah bagi kalian— not a burden upon your shoulders, but a light your hearts can proudly carry wherever life takes us.
And today, beneath the endless sky of Arafah, I learned that gratitude can feel almost overwhelming, like trying to hold an entire ocean inside two trembling hands. Every whispered du’a, every silent tear, every hope we once sent to the sky. Somehow feels closer to Allāh here. If this life truly is “a long journey home,” then perhaps Arafah is one of the rare places where the soul finally remembers where it belongs. Alhamdu lillāh for every prayer that found its way to heaven before it ever found words on my lips.
Dulu pas lihat ekspresi Woozi baca tulisan OP, 'Gue nggak khawatir lo pergi wamil, gue lebih khawatir lo betah di sana.' Gue biasa aja. Lucu 🥰
Sekarang, GUE KHAWATIR BENERAN DIA BETAHHHHH PULANG GAK UUUU CEFATTT 😭😭
Ini tu sebetulnya cerita (agak) sedih, tapi mereka sweet banget 😭
Jadi waktu ulang tahun Woozi, semua member sibuk banget sampai lupa sama ulang tahunnya. Trus pas udah mepet ganti hari, mereka bikin video dadakan.
Di 17's diary, Woozi bilang gini, “Ternyata hari ini ulang tahun gue. Saking sibuknya, gue bahkan nggak yakin kalau ini hari ulang tahun gue. Gue harus bikin ini kelihatan kayak hari ulang tahun, kah? Ah, tapi member lagi syuting, ada yang lagi nyiapin lagu dan performance juga. Banyak lah~
Gue sebenarnya agak sedih 🤏
Tapi gue pikir, 'ah cuma ulang tahun doang~', toh pasti berlalu juga kayak hari biasa lainnya. Pas lagi mikir begitu, tiba-tiba video dari member di ruang latihan! Trus tiba-tiba ada kue!!
Meskipun ulang tahunnya udah lewat, mereka ngerayain ulang tahun untuk gue di tengah-tengah kesibukan hari ini (mereka telat 8 menit, tapi gue maafkan~)
Untuk kalian, orang-orang berharga dalam hidup gue, terima kasih banyak. Kalian tahu gue nggak pandai bilang ini, kan? I love you hehe.”
Scoups dan Jeonghan juga nulis di 17's diary, cerita kalau sebenarnya Scoups ingat cuma karena syutingnya lama banget, jadinya kelewat.
Scoups bilang kalau dia sedih karena nggak ada di samping 'little brother'-nya hari itu. Iya, dia nulis begitu, 'my little brother'. Di akhir, Scoups bilang, hadiah ulang tahun yang bisa dia kasih ke Woozi adalah janji untuk terus bermusik bareng Woozi sepanjang hidupnya.
Trus Jeonghan bilang di hari sebelumnya mereka udah rencana mau kelarin syuting cepat-cepat untuk rayain ulang tahun, tapi karena sebagian terlalu sibuk jadinya lupa.
Pas semuanya udah pulang, Jihoon bergumam gini, “Ah.. ulang tahun gue berlalu begini lagi..”
Pas denger begitu, mereka langsung buru-buru keluar buat beli kue 😭
Menikah bukan ajang perlombaan apalagi percobaan. Menikah butuh keyakinan dan tanggung jawab. Atas segala hal dan perilaku yang nantinya tidak biasa ada pada diri kita, namun perlahan bercampur padu yang perlahan menjadi pemakluman.
Pernikahan isinya sebagian besar adalah ngobrol, jadi carilah partner yang bisa dan mampu diajak ngobrol dalam segala hal tanpa menurunkan standar kamu.
Semua orang mengatakan manusia ada masanya, jadi jangan selalu menjadikan orang lain sebagai patokan hidupmu dalam hal yang serius. Karna jalan hidup setiap orang berbeda rute, mental, dan bekalnya.
So, menikah diusia 20, 30, 40, 50 atau bahkan 60++ an itu ga masalah. Selagi kamu dan pasangan kamu tahu makna dan arah pernikahan itu akan dibawa. Kadang orang lain bilang "kasihan ya dia telat menikah" mereka adalah contoh sudut pandang kecil yg menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan.
Jadi, kalian tim mana nih?
Setuju ngga sama pendapat Mba Min Ah??
Setiap orang tentunya bebas dan punya pandangan masing" terkait hal tersebut. So, mari berdiskusi :))
#shiminah
[HOSHI TAMTAM] 호시 ‘SNAPBACK’ 비하인드 (HOSHI ‘SNAPBACK’ Recording & Dance Practice & Video Shoot Sketch)
▶️ https://t.co/UDXAszvfPR
#HOSHI#호시#SEVENTEEN#세븐틴#SNAPBACK#HOSHI_TAMTAM
THE8 (SEVENTEEN) cerita kalau dia mulai melakukan Tea Ceremony di rumah pas Pandemi Covid-19. Waktu itu banyak waktu luang, dia bikin ruang khusus minum teh di rumah.
Sekarang The8 pulang ke rumah untuk minum teh setelah makan siang bareng temen-temennya, dibanding pergi ke cafe.
Ruang tehnya tuh ada Tatami, ada meja teh, dan ada tea cabinet di dinding. Tea room yang proper