MaasyaAllah, ketemu doa yang bagus bangeet, gini bunyinya:
Ya Allah, tenangkan hatiku. Lepaskan apa yang memang sudah selesai. Jangan biarkan sesuatu yang telah berlalu mengambil terlalu banyak ruang dari hari yang sedang Engkau berikan kepadaku.
Tertampar sama ayat ini, timing Allah untuk nolong kita di last minute itu beneran ada yaaa waktu pas kita udah pasrah. Memang kuncinya tuh harus sabar dan tawakal. Percaya aja, Allah tuh emang gak pernah telat ngasih yang terbaik
Di umur 30an, mau selurus apapun kamu, hidup pasti akan menghajarmu habis2an. Kadang malah tempaannya ada di hal2 yg selama ini plg kamu prioritaskan. Tugasmu cuma bertahan, dan terus berjalan.
Selama ga nyerah, pasti lewat. Jalani aja. Mungkin itu jalan utk kembali pada Tuhan.
gue cuma nunggu waktunya prabowo bisa diadili di pengadilan dan dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan-kebijakannya selama menjabat sebagai presiden.
danantara, kopdes, mbg, kegagalan mengatasi karhutla, pengabaian terhadap banjir bandang aceh, sampai dukungan terhadap organisasi preman seperti grib.
semoga suatu hari nanti semua kebijakan yang merugikan rakyat bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.
Orang-orang tuh ngerti gak sih kalo kita bilang Karhutla gara-gara pemerintah tuh ya bukan Wowo dateng diem2 ke Kalimantan trs jatuhin korek di hutan anjrittttt😭😭😭
Tapi pemerintah sbg PEMBUAT KEBIJAKAN gagal membentuk regulasi yang bisa mencegah/mitigasi bencana gitu LOH
Jujur aja, kami capek.
Asli capek banget.
Ada warga yg dibayangi gempa dan belum terima bantuan di NTT, ada yng nafasnya sesak di Kalimantan, ada yg kena tindak represi ketika turun ke jalan hari ini.
Kami masih ngurusin itu semua,
Dada kami sesak.
Bukan karena takut dikritik.
Karena kami tahu, di luar sana orang lagi berjuang bertahan, sementara kami harus berhenti dulu buat jelasin sesuatu yang seharusnya gak perlu terjadi.
Kami memang sempat bertemu di Space karena yg bersangkutan komunikatif dan aktif berdiskusi. Membersamai di ruang obrolan tidak otomatis berarti kami mengamini seluruh sikap atau perbuatannya. Kalau perbuatan itu menyakiti orang, kami tidak akan menutupinya.
Menyimpan dan memposting foto milik orang lain tanpa izin itu salah. Itu merampas rasa aman seseorang. Itu membuat orang merasa diintai dan dipakai.
Kami tidak membela perbuatan itu. Jadi maaf jika irisan kami di Space membuat luka itu terasa lebih dekat ke wadah ini.
Saling Jaga Warga lahir untuk jaga warga, bukan untuk jadi PERISAI siapa pun. Kami membersamai banyak orang dan banyak ruang.
Standarnya tetap sama, dan ini ga bisa ditawar, yakni jangan langgar privasi, jangan sakiti orang yang seharusnya kita jaga.
Kami akan kembali ke kerja-kerja kemanusiaan yng belum selesai. Kalo kalian masih percaya pada semangat saling jaga, jaga juga batas itu bersama kami.
Paham ya..
#SalingJagaWarga
STOP SCROLLING🚨‼️
Dulu kita pernah trending sampe ke worldwide. Karna ini udah parah bgt, ayoo ajak semua fans idol, fanbase, apapun itu bersuara bersama -star
#.PRAYFORKALIMANTAN
#.PRAYFORACEH
#.PRAYFORNTT
#.PRAYFORPAPUA
#.PRAYFORINDONESIA
#.AllEyesOnIndonesia
“bukan saya takut, bukan saya nurut kepada anda, tapi bagi saya teman-teman saya lebih berharga. karna saya tau BAGI ANDA NYAWA TEMAN-TEMAN SAYA TIDAK ADA ARTINYA”
FATHIMAH AZZAHRA OMG THE GIRL YOU ARE 😭🤍
- ngibarin foto pribadi
- doain diri sendiri & laporan program dia di doa dirgahayu ri
- ga ada doa buat bencana di NTT
- pake lagu AI di acara
- pesta pora di tengah rakyatnya yg kena musibah & menderita kesusahan
might be the worst upacara kemerdekaan hut ri ever
Waktu jaman SBY ketika ada bencana beliau gerak cepat utk mengirimkan bantuan & langsung dtng ke lokasi
Seaneh-anehnya JKW, dia jg masih gerak cepat & lngsng dtng ketika ada bencana
Prabowo era ini luar biasa ignore-nya. Mengabaikan semua hal, menutup mata & membungkam media
Pembodohan Publik tentang Desil dan Orang Kaya
Pemerintah mewacanakan pembatasan Pertalite untuk desil 9–10 dengan menyebutnya “orang kaya”.
Ranking administratif dipelintir demi melegitimasi pencabutan subsidi ini layak Ini disebut sebagai pembodohan publik.
Kenapa?
Narasi “desil 9 = kaya” dan “desil 10 = elite” bermasalah sejak definisinya.
Desil pada DTSEN adalah peringkat relatif kesejahteraan, bukan kelas sosial absolut.
D1 = 10% terbawah
...
D9 = persentil 81–90
D10 = 10% teratas.
Sekarang bandingkan dengan distribusi kesejahteraan BPS September 2024:
• miskin: 8,57%
• rentan miskin: 24,42%
• menuju kelas menengah: 49,29%
• kelas menengah: 17,25%
• kelas atas: 0,46%
Artinya 82,28% penduduk bahkan belum masuk kelas menengah, sementara kelompok yang dikategorikan kelas atas hanya 0,46% populasi.
Kalau distribusi ini dipetakan ke persentil:
P1–P8,57 = miskin
P8,58–P32,99 = rentan miskin
P33–P82,28 = menuju kelas menengah
P82,29–P99,54 = kelas menengah
P99,55–P100 = kelas atas (kaya)
Kalau didistribusikan ke desil:
D1: 85,7% miskin + 14,3% rentan miskin
D2: 100% rentan miskin
D3: 100% rentan miskin
D4: 29,9% rentan miskin + 70,1% menuju kelas menengah
D5: 100% menuju kelas menengah
D6: 100% menuju kelas menengah
D7: 100% menuju kelas menengah
D8: 100% menuju kelas menengah
D9: 22,8% menuju kelas menengah + 77,2% kelas menengah
D10: 95,4% kelas menengah + 4,6% kelas atas
Jadi D9 praktis tidak memiliki kelompok kelas atas atau orang kaya sama sekali.
Kelas atas baru muncul sekitar P99,55, atau hanya setengah persen paling ujung dari distribusi.
Desil 10 mencakup 10% penduduk.
Kelas atas menurut BPS cuma 0,46%.
D10 sendiri juga sangat heterogen.
P91, P95, P99, dan P99,9 memiliki kemampuan ekonomi yang sangat berbeda.
World Inequality Report menunjukkan:
• top 10% menerima 46,2% pendapatan nasional
• top 1% sendiri menerima 17,6%
Untuk kekayaan:
• top 10% menguasai 59,4%
• top 1% sendiri menguasai 19,9%
Jadi konsentrasi kekayaan di bagian paling atas sangat besar. Memasukkan profesional mapan, pengusaha, eksekutif, dan konglomerat ke satu kelompok lalu menyebut semuanya “elite” menghapus struktur distribusi yang sebenarnya.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan pembodohan publik dengan menyederhanakan struktur kesejahteraan seenaknya.
Ketika kelas menengah, affluent, dan kelompok superkaya dicampur dalam satu label, kebijakan yang lahir dari kategorisasi itu sangat mudah salah sasaran.