Pada akhirnya, apapun kondisi yang sedang kita atau saudara kita hadapi hari ini dan nanti, semoga muaranya hanya pada antara sabar dan syukur. Lapang menerima segala ketetapannya, sekalipun itu tak mudah.
Belakangan ini merasa sekali lebih sering denger berita kurang baik dari orang-orang terdekat kita atau hanya yang sekedar kenal. Mulai dari masuk rumah sakit, penyakit yang lama sembuh, meninggal dunia, usaha yang lagi lesu banget, perusahaan yang efisiensi karyawannya, dsb.
Hari ini misalnya, dapat kabar ada teman kuliah meninggal karena sakit. Ternyata postingan terakhir almarhum adalah foto saat nikah, karena memang baru saja menikah. Yang lebih sedih melihat kolom komentarnya, ucapan "semoga samawa" bersanding dengan "husnul khotimah".
*Ketemu temen di nikahan
M : Loh temannya si R juga toh (org yang nikah) ?
A : Nggak kenal
M : Lah terus ?
A : Gw cuma kenal bapaknya (dan itupun baru kenal 2 minggu kemaren)π
Akhirnya kau hilang,
Dan aku melihatmu dimana-mana
Di jalan-jalan utama kampus yang lengang, atau bangku-bangku di selasar yang kosong
Di udara dingin yang menyusup diantara hujan & kerumunan orang
Akhirnya kau hilang,
Dan kini, kau membiarkanku mengulang semua adegan, sendiri.
Nggak semua hambatan yang dihadapi anak harus dicover sama orang tua. Sebab, adakalanya ada pelajaran yang harus dimengerti anak hanya dengan cara mengalaminya secara langsung. Itu sebabnya kadang laki-laki lebih memilih pola asuh yang bisa dibilang "kejam" ketimbang perempuan.
Seperti halnya manusia, organisasi bisa disebut sehat jika ia memiliki pertumbuhan yang sehat pula. Pertumbuhan itu ada pada kadernya, dana/aset dan juga ekspansi organisasi tersebut. Semuanya saling terikat dan terkait satu sama lain.
Semua program kerja organisasi paling tidak harus ada salah satu unsur pertumbuhan itu tadi (kader, dana/aset dan ekspansi). Trilogi pertumbuhan tadi akan mempengaruhi keberlanjutan organisasi masa selanjutnya. Ketika salah satu unsur hilang, maka organisasi akan stagnan/hilang.