@catuaries@aldechan Eka Kurniawan mungkin. “Cantik Itu Luka” itu bisa jadi karya klasik menurut ane. Satu yang dia ndak punya dibanding Pram: dia ndak masup gera’an politik tertentu. Unlike Pram, yang most likely dibicarakan ketika membicarakan 1965, Eka ini “period-less”.
Gagasan untuk meluncurkan mata uang tunggal bersama di kawasan ASEAN merupakan sebuah hipotesis yang sangat memikat, terutama di tengah situasi volatilitas global yang menempatkan Rupiah di posisi rentan terhadap tekanan Dolar AS.
(Utas andai saja)
Mind you, jaman segitu belum ada ChatGPT. Tentu blio bisa saja pakai dayang-dayangnya untuk ngerjain. Tapi tetap saja, dia nggak main tinggal. Ente-ente yang gemar matil ini kok berasanya lebih sibuk dari pangeran Arab saja. 😌
Waktu ane S2, temen sekelas ane ada yang pangeran Arab tulen (nama belakangnya beneran Al-Saud, ada halaman Wikipedianya). Tiap weekend pasti flight entah ke mana. Tiap tugas kelompok bilangnya, “Bagi aja, ntar gue kerjain”… dan dikerjain. 😂
1. nulis makalah pake ai
2. ga muncul di grup
3. pptnya astaghfirullah
4. presentasi ga komprehensif… alias ngalor ngidul
5. di sesi qna, jawabnya macam wowok
6. kl ngajuin opini, ga ada isinya
kesimpulan: matil
@ikhwanuddin Additional note: informational singularity is meaningless because of Bekenstein bound. If you allow singularity (R → 0, E > 0) then the system collapses, allowing 0 maximum entropy. Literally 0 information can be contained in such singularity.
@ikhwanuddin If he meant that the *error* will decay as in lim n → ∞ (P(|x̄_n - μ|) ≥ ε) = 0, you even don’t need a fancy shmancy model for that. You just need to add more data, and the weak law of large number will kick in.
Sure, they may have enjoyed their tax breaks and other facilities, but there is no utang budi in the market. You sell, I’ll buy if I find it’s in my interest. Don’t hate the players, baby, hate the game.
Mau invest ke financial market gimana wong confidence lagi jelek, apalagi bank sentral jadi makin tidak independen.
Mau invest ke sektor yang lucrative macem komoditas nanti kenak control, entah ekspornya (DSI), entah harganya (bursa ini).
Yha mending kabur gan. 😌😌😌
Indonesia’s attempts to target everything – inflation, growth, currency stability – are not working. Something has to give, and in this case it’s IDR, which sits at the bottom of the 2026 EMFX league table. Reports on strengthening BI’s pro-growth mandate raised more red flags
@sad_muel If I have an AUM in the billions of USD, I would’ve done the same to be honest. With my sheer asset size, these tukang pompom mean nothing for me. Our supersmart representative really thinks that market is swung by retail traders. Fuck him and fuck these lots 😌
@ekosofyant kasihan. Cem mana mau diintervensi orang neneknya juga begitu. Folie à deux ini mah jatuhnya. But still, less harmless dibandingkan ngibulin konferensi internasional bidang kedokteran cuma biar dapat travel grant. 🤔
Jadi ada bocil SMK halusinasi bikin hoax Lulus standford dan duke via editan, malahdipost sm akun IG SMKnya. Di kolom komentar ada pengurus beasiswa Garuda yang konfirmasi nama siswa tersebut tidak ada.Bocil jaman now ada 2 saja
cc:threadmentarivird
Misinformasi. Tarif PPh 22% itu sudah berlaku sejak tahun pajak 2022, dan bukan dari *omset*. Tidak ada “kenaikan” apa-apa di sini. Yang ada hanya menghapus rezim pemajakan UMKM, kecuali untuk orang pribadi, perusahaan perseorangan, dan koperasi.
guys lu pada tau gk nih
prabowo pulang pulang dari perancis
langsung umumkan kenaikan pajak
untuk pt dan cv sebesar 22% dari omset
gambaran kalo usaha kamu punya
laba bersih 100 juta
maka 22 juta wajib lu setor ke negara
indonesia emang anehh
kaya dengan sumber daya alam
hampir penghasil nomor 1-5
nikel emas timah sawit dlll
tapi penghasilnya 80 % dari hasil
mempajaki rakyatnya sendiri
kasarannya uang hasil pajak
itu di pake buat biayain kunker prabowo
untuk MBG dan Kopdes
dari data terbaru ada 65,5 juta UMKM
di indonesia
maka siap siap bakal ada badai PHK
akibat kenaikan pajak ini
mau gamau owner mikir 2x biar bisa
tetap sustain