adit glempo wes ketemu dan sudah di kasih paham cah cah๐. ybs siap menanggung konsekuensi yang lebih berat bila melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari.
Menindak lanjuti postingan yg viral beberapa jam yang lalu, kami dari laskar bronies sudah melakukan tindakan/bertemu dengan sdr poleng/gilang mirza, berikut video klarifikasi dari orang yang bersangkutan, bila mana ada yg kurang jelas bisa di konfir ke dm aja masku๐๐ป
โPolisi kok malah ngelindungi ormas?โ
FIRST BLOOD
โKoe sakmono akehe gaiso berantas klitih yo ngopo? Malah meneng wae, giliran demo ngene lagi metu kabehโ
DOUBLE KILL
WAH SAMPEYAN JUARA MAS!
Sudah mewakili banyak uneg uneg warga jogja.
๐จ SIAPA YANG SEBENARNYA SUDAH PALING BANYAK MENIKMATI "KEISTIMEWAAN" JOGJA & TANGGUNG JAWAB NYA? MENGUNGKAP REALITA DI BALIK KOTA PELAJAR! ๐จ
Di balik romantisnya pariwisata dan predikat Kota Pelajar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan realita sosiopolitik dan ketimpangan ekonomi yang jarang terungkap. Pernahkah kalian menyadari bahwa wajah tata kelola kota kita makin hari makin semrawut? ๐ค๐๏ธ
Realitanya, ruang publik dan pariwisata Jogja banyak dikuasai oleh sistem ekonomi bayangan. Kasus pungutan liar (pungli), parkir "nuthuk" dengan tarif tak masuk akal, hingga maraknya premanisme seolah tumbuh subur. Ironisnya, institusi wakil rakyat di DPRD, instansi pemda dan kepolisian seolah lumpuh tak berdaya. Penegakan hukum kerap terbentur kuatnya budaya ewuh pakewuh, serta jejaring patronase elite lokal, oknum pemda, hingga ormas pembeking yang mengklaim sebagai perpanjangan tangan penguasa. ๐ต๐ธโ๏ธ
Sistem politik DIY dengan dualitas kepemimpinan Sultan sebagai Raja kultural sekaligus Gubernur, memang menjaga stabilitas politik meski penuh intrik dari lawan politik & isu calon suksesi pengganti. Namun, siapa yang menikmati kucuran triliunan Dana Keistimewaan? Nyatanya, porsi terbesar justru terserap ke atas: keluarga keraton, birokrasi, elite pemodal besar, kontraktor proyek, dan mafia ekonomi jalanan. Investor dengan mudah menguasai tata ruang, membangun fasilitas mewah yang hanya bisa dinikmati kelas menengah atas dan pendatang berprivilese. ๐ฐ๐ฐ
Lalu gimana nasib warga asli & masyarakat kecil? Mereka menjadi kelompok paling terpinggirkan. Di tengah himpitan UMR/UMP yang terendah di Indonesia, warga lokal terusir oleh gentrifikasi. Generasi muda menjerit tak mampu membeli hunian karena harga tanah meroket akibat spekulasi kapitalis. Sementara itu, mahasiswa & warga yang menyuarakan kritik sering kali dibenturkan dengan blokade ormas reaksioner, menciptakan konflik horizontal yang melukai kohesi sosial. Warga bawah akhirnya dipaksa sekadar "nrimo ing pandum". ๐๐ฅ
Keistimewaan Jogja sedang diuji. Mampukah tata kelola kota berpihak pada warga aslinya, bukan sekadar elite? Bagaimana realita hidup di Jogja yang kamu rasakan hari ini? ๐
Sc : @barceeelll