Frame kacamata branded, second, tapi masih muluuusss bgt.
I'm selling this on #OLX: Frame Kacamata wanita Marc Jacobs Y original https://t.co/JVJAEttaZV
Miris, 60 ribu peserta yg lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) batal melakukan daftar ulang dikarenakan mahalnya biaya UKT
Generasi masa depan memilih mundur karena tidak ada biaya. Padahal mereka sudah mengikuti tes SNBP dan dinyatakan diterima di PTN
Diumur 30 baru tau‼️
Ternyata Obat China tuh khasiatnya gacor banget
1. Chang Seuw Tian - kanker, miom, kista
2. Angkung Dragon Merah - stroke& kejang
3. Die Da Yao Jing - Luka cepet pulih
4. Lo Han Kuo - radang, batuk, sakit tenggorokan
5. Salep Pi Kang shuang - penyakit kulit dan alergi
6. Nin Jiom Pei Pa Koa - obat batuk ibu & anak
7. Fufang Ejiao Jiang - obat dbd, tipes, pusing, lemes, naikin trombosit
8. Medicated Oil - minyak masuk angin, sendi dan otot
9. Li Liang - diabetes, darah tinggi
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Amerika Dipimpin oleh Orang 'Gila':
🔹 28 Februari: "Kita akan memulai operasi yang menentukan." "Ini akan sangat cepat."
🔹 2 Maret: "Kita akan menang dengan mudah."
🔹 3 Maret: "Kita telah memenangkan perang."
🔹 7 Maret: "Kita telah mengalahkan Iran."
🔹 9 Maret: "Kita perlu menyerang Iran." "Perang ini hampir sepenuhnya dan dengan sangat indah akan segera berakhir."
🔹 12 Maret: "Kita telah menang, tetapi kita belum sepenuhnya menang."
🔹 13 Maret: "Kita telah memenangkan perang."
🔹 14 Maret: "Tolong bantu kami."
🔹 15 Maret: "Jika Anda tidak membantu kami, saya pasti akan mengingatnya."
🔹 16 Maret: "Sebenarnya, kami sama sekali tidak membutuhkan bantuan." "Saya hanya memeriksa siapa yang mendengarkan saya." "Jika NATO tidak membantu, sesuatu yang sangat buruk akan terjadi pada mereka."
🔹 17 Maret: "Kami tidak membutuhkan bantuan NATO dan kami tidak menginginkannya." "Saya tidak membutuhkan persetujuan Kongres untuk menarik diri dari NATO."
🔹 18 Maret: "Sekutu harus bekerja sama untuk membuka Selat Hormuz."
🔹 19 Maret: "Sekutu AS harus mengumpulkan kekuatan dan membantu membuka Selat Hormuz."
🔹 20 Maret: "NATO itu pengecut." "Mungkin kita akan secara bertahap mengakhiri ini."
🔹 21 Maret: "Kami tidak menggunakannya, kami tidak perlu membukanya."
🔹 22 Maret: "Ini terakhir kalinya. Saya memberi Iran waktu 48 jam." "Iran sudah tamat."
🔹 23 Maret: "Kami memberi mereka lebih banyak waktu."
🔹 24 Maret: "Perang akan segera berakhir."
🔹 25 Maret: "Kami masih bernegosiasi."
🔹 26 Maret: "Iran memohon perdamaian." "Mereka telah memberi kita hadiah." "Kita menunda tindakan." "Kita memberi mereka lebih banyak waktu."
🔹 27 Maret: "Ayatollah dan saya akan bersama-sama mengelola Selat Hormuz."
🔹 28 Maret: "Telah terjadi perubahan rezim di Iran."
🔹 29 Maret: "Negosiasi dengan Iran berjalan sangat baik."
🔹 30 Maret: "Ancaman ledakan dan kehancuran total infrastruktur minyak dan energi Iran serta pendudukan Pulau Kharg."
🔹 31 Maret: "Kami siap mengakhiri perang tanpa membuka Selat Hormuz."
Guys, ini kalau dibaca pelan-pelan… artikelnya The Economist ini lumayan nyelekit sih
Jadi gini…
Amerika masuk perang dengan mindset:
Gue hajar Iran → dunia takut → China ikut kicep.
Tapi yang kejadian sekarang?
Dari sudut pandang China:
ini malah blunder gede.
China literally pakai prinsipnya Napoleon Bonaparte:
Never interrupt your enemy when he is making a mistake.
Artinya apa?
Udah… biarin aja dia salah sendiri.
Ngapain kita ganggu?
China tuh bukan gak mampu bantu Iran…
Tapi mereka milih duduk manis, nonton, sambil ngopi
Karena mereka lihat:
Amerika lagi keluar duit gede
Fokus ke perang
Energi, politik, dan stabilitasnya ke-distract
Sementara China?
Santai, nunggu timing
Biar lawan capek sendiri
Ini tuh ibarat:
Orang lagi ribut di depan…
Lu gak ikut, tapi malah nunggu mereka hancur sendiri baru masuk ambil sisa
Amerika pengen nunjukin kekuatan
Tapi di mata China… malah keliatan overconfidence + salah langkah
Di geopolitik, yang diem bukan berarti lemah…
Kadang justru dia lagi nunggu momen buat menang tanpa perang.
Gua jadi berusaha mengurangi marah-marah setelah baca jurnal ini.
Ternyata marah-marah nggak cuma bikin suasana jadi nggak enak, tapi juga bisa mengganggu kesehatan jantung kita.
Izin gue bahas ya!
Jadi ada sebuah penelitian besar di Swedia dengan 47.077 peserta, judulnya Anger frequency and risk of cardiovascular morbidity and mortality. Nah penelitian ini menemukan bahwa orang yang sering marah-marah punya risiko lebih tinggi terkena masalah jantung, antara lain:
-Gagal jantung (+19%)
-Fibrilasi atrium / gangguan irama jantung (+16%)
-Kematian akibat penyakit jantung & pembuluh darah (+23%)
Marah memang wajar, tapi kalau terlalu sering dan intens, efeknya bisa serius, termasuk ke jantung kita.
Jadi, yuk mulai belajar mengurangi marah-marah berlebihan buat diri sendiri, dan buat orang-orang tersayang di sekitar kita!
KALAU PENYAKIT BISA BICARA MEREKA AKAN "TERIAKK"
1. TUMOR
“Aku tumbuh pelan-pelan karena kamu terlalu lama menahan.
Marah kamu simpan, sedih kamu tutup,
Kecemasan kamu pendam.
Yang tidak keluar... akhirnya mencari jalan sendiri.”
2. AUTOIMUN
“Aku muncul saat kamu terus melawan dirimu sendiri.
Di luar kamu bilang ‘aku kuat’, padahal di dalam kamu lelah.
Tubuhmu ikut bingung,
karena kamu tak pernah jujur pada rasa.”
3. KANKER
“Aku besar dari luka yang kamu kunci rapat.
Maaf yang tak pernah terucap.
Tangis yang tak pernah tumpah.
Sakit hati yang tak pernah sembuh.”
4. STRES KRONIS
“Aku bukan cuma di pikiran.
Aku masuk ke tidurmu, ke makananmu, ke napasmu.
Kamu bilang ‘aku baik-baik saja’,
padahal tubuhmu berteriak minta istirahat.”
5. INSOMNIA
“Aku datang karena kepalamu tak pernah benar-benar berhenti.
Kamu rebah, tapi pikiranmu masih berlari.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar tenang?”
6. SAKIT MAAG / LAMBUNG
“Aku perih karena kamu terlalu sering ‘menelan’ keadaan.
Tidak enak hati.
Tidak enak menolak.
Tidak enak berkata jujur.”
Cukup...
Tubuh bukan musuh.
Ia hanya alarm.
Belajar dengarkan sebelum ia teriak lebih keras.