Malah kalau menurut sessionnya Tom Lembong di Ideafest kemarin in order to achieve greater good = we should focus on what make us sad, on the problem, embrace the pain & the hardship. Krn kadang kita gak sadar kalau pain is a privilege. It triggers us to “grow” more than comfort.
babi lu semua rezim jahat. Kok bisa info ginian dari negara lain???? Yang dipikir makan makan makan mulu, udah gitu prokernya juga gak bener. Mana sih proker yg jelas dan berhasil???? Ini kalo sampe ada bencana lagi trs mitigasi lu semua sampah sih bener2 ya. Marah bgt asli
memang. but what’s sick about it ya banyak orang sebenernya tau klo orang overshare itu partly karena lonely. tp bukannya sadar they’re going thru something, malah dikritik dan diejek doang. atau lebih parah: dijadiin ajang merasa superior. oversharing is a disguised cry for help
You’ll find most people in science, particularly researchers, have very deep interests in literature a philosophy and the arts. Whereas the converse is extremely rare.
Aku baca di Threads, kalo sebenernya kita tuh lagi digenosida sama pemerintahan sendiri secara perlahan.
Dipikir-pikir bener juga.
Pasokan oksigen terbesar dari Kalimantan, Papua dan Sumatra dibakar habis. Akibatnya berpengaruh ke iklim dan maybe musim hujan yg telat dan
Aku baca di Threads, kalo sebenernya kita tuh lagi digenosida sama pemerintahan sendiri secara perlahan.
Dipikir-pikir bener juga.
Pasokan oksigen terbesar dari Kalimantan, Papua dan Sumatra dibakar habis. Akibatnya berpengaruh ke iklim dan maybe musim hujan yg telat dan
Jangan diem aja kalo ada masalah, usahakan take action!
Penelitian menunjukkan otak kita akan menurunkan hormon stress saat kita berusaha bergerak untuk menyelesaikan masalahnya, dibandingkan saat kita duduk diam memikirkan masalah tersebut terus-terusan.
Tentu ini bukan artinya kalian bertindak tanpa pertimbangan yang matang ya!
bekas didikan yang selalu kena marah tiap melakukan kesalahan sekecil apa pun itu, tidak pernah dikasih ruang buat bersuara, berani ikut beropini ngelawan orang tua. selalu dipaparkan dengan pertengkaran dan kekerasan di rumah. itu efeknya pas dewasa, malah tumbuh jadi anak yang penakut, overthinking berlebihan sama semua hal, ga pernah bisa tenang, selalu panik buat ngadepin semua hal, dan yang paling parahnya, ga pernah bisa mengambil keputusan sendiri karena selama hidup hanya diatur oleh mereka dan tidak pernah diberi ruang untuk memilih sesuai dengan apa yang di inginkan, itu semua malah bikin jadi manusia yang ketergantungan.
percaya atau ngga kadang rezeki dateng bukan karena lo kerja dan always fight 24/7, tapi karena vibes lo tuh positif aja. lo bisa ikhlas nerima hidup lo apa adanya, no drama, no dendam dan doa-doa baik yang lo panjatkan. dan semesta tuh peka banget energi kayak gitu selalu dibalikin dalam bentuk yang lebin besar.
After university, you’ll realize that 95% of the people you called your friends were only your friends because of proximity. You lived together, saw each other every day, attended the same classes, and naturally became close.
After school, you’ll quickly realize you have absolutely nothing in common with most of them, and you’ll never speak again. Not because of any disagreement or malice, but because once the proximity is gone, so is the compatibility.
A lot of friendships were never built on genuine connection. They were just convenient.
Must be fucking nice enjoying clean air on a international flight while an entire island chokes on toxic smoke. Udah gak mau berharap apa-apa lagi sama pemerintah, bener-bener useless. Only God can save Kalimantan now.
YaAllah tolong. Siapapun orang yg merencanakan, mengeksekusi dan menikmati keuntungan dari pembakaran hutan ini, laknatlah mereka dan keluarganya, binasakanlah mereka dan keluarganya. Selamatkan Kalimantan, turunkan hujan yg mendatangkan berkah dan ketenangan. Amiiiiiinn 😔💔
Are we actually living through the most chaotic era in human history, or are we just the first generation with social media forced to watch every tragedy on earth unfold in real time, and the world has always been this dark, we were just never close enough to see it?