Alasan knp aku gapernah mandang cowo dr ekonominya..
Krn ekonomi bs berubah, tapi cara dia survive, cara dia bertanggung jawab sm dirinya dan org sekitarnya itu yg akan jadi karakter.
Kalo aku nerima cowo krn harta, blm tentu aku bs nerima cara survive dia saat suatu hr dia kena musibah soal keuangan, tp org yg udah berjuang dr 0, pasti insting survivenya gaperlu dipertanyakan lagi.
Intinya, gpp klo masih struggle asal dia mau usaha, itu yg penting.
Pasangan tuh emang ga ditakdirin buat menuhin semua kebutuhan kita.
Kebutuhan emosional emang juara satunya, tapi ekspektasinya bisa jomplang banget tergantung status lagi pacaran serius, fwb-an, poly, atau cuma ons doang.
Laki-laki sama perempuan aslinya punya ekspektasi intimasi yg mirip-mirip aja. Yang bikin beda tuh justru attachment style kita masing-masing.
Untuk yang tipe anxious atau avoidant, biasanya mentok di ngerasa kebutuhan intimasinya ga full terpenuhi. Apalagi dalam hubungan yang committed, makin orang itu avoidant, makin rendah juga ekspektasi intimasinya. Jadi emang kombinasi attachment style + jenis hubungan tuh ngaruh banget.
Emang cara orang butuh closeness aja yang beda.
Ada yg kalo takut kehilangan bawaannya makin clingy pengen nempel. Tapi ada juga yang pas ngerasa hubungannya udah makin dalem, malah pull away trus narik diri.
Relate banget ga sih? 🥲
OP ini ngejelasin menurut psikologi, momen ketika manusia paling merasa bahagia sebenarnya...
Bukan saat sedang bermain, bukan saat sedang makan, dan bukan juga saat sedang menghasilkan uang.
Tapi saat benar-benar tenggelam dalam mengerjakan sesuatu yang tingkat kesulitannya pas dengan kemampuan kita.
Kondisi ini disebut “flow state”.
Kalau kita menganggap “yang mudah = bahagia”, lama-lama manusia justru bisa bosan. Tantangan yang cukup, tapi masih terasa mampu dijalani, justru bisa bikin kita merasa puas dan menikmati prosesnya.
Aku kasih contoh ya. Misalnya:
🎨 Gambar: kamu suka gambar, lalu mencoba menggambar karakter yang sedikit lebih sulit dari biasanya. Susah, tapi masih bisa dikerjakan sampai nggak sadar udah 2 jam.
🎮 Main game: levelnya nggak terlalu gampang, tapi juga nggak mustahil. Kamu harus mikir dan fokus, lalu pas akhirnya berhasil rasanya puas banget.
✍️ Nulis: kamu lagi bikin tulisan yang cukup menantang, tapi idenya ngalir. Sampai lupa cek HP karena terlalu fokus.
📚 Belajar: kamu ngerjain soal yang awalnya bikin mikir keras, tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya paham. Rasanya, “OH, GUE NGERTI!” Nah, itu juga bisa jadi flow.
💻 Kerja: dapat tugas yang sedikit di atas kemampuanmu, jadi harus mikir dan belajar, tapi masih bisa kamu selesaikan. Saking fokusnya, tahu-tahu udah beberapa jam.
Jadi kamu ngerjain semuanya bukan karena merasa “harus”, tapi karena tantangannya pas. Capek iya, mikir iya, tapi nggak terasa jadi beban.
Malah muncul perasaan, “Wah, seru juga. Gue bisa ternyata.” Dan mungkin justru rasa puas setelah berhasil melewati tantangan itulah yang bikin kita merasa bahagia.
Aku pikir kunci hubungan awet tuh ketemu the right person, ternyata ah sudah lah.
Baca jurnal hari ini dan nemu fakta menarik, relationship satisfaction itu literally bertumpu sama intimasi, cara kalian handle konflik, dan gimana mindset kalian berdua soal hubungan itu sendiri. hal-hal kayak umur, gaji, atau fisik malah bukan faktor utama.
Tapi happy di hubungan ≠ happy sama hidup secara overall.
Kalau ngomongin life satisfaction, yang paling ngaruh tuh mental health (kayak symptoms depresi) sama kesehatan fisik. mental yang lagi berantakan bakal otomatis ngaruh ke hubungan kamu. jujurly make sense sih, internal issues dari dalem diri kita tuh sadar nggak sadar pasti kebawa-bawa ke hubungan.
Ubah mindset kamu jadi “mental gue udah cukup sehat belum? dan se sehat apa hubungan kita?”
punya hubungan yang green flag emang ngebantu naikin kepuasan hidup, tapi tetep aja kesehatan fisik, kondisi mental, dan gimana cara kalian berantem tuh punya porsinya masing-masing.
Terus harus gimana dong?
Jurnal ini nyaranin buat jangan struggle sendirian. Misal kamu lagi ada isu mental atau fisik, partner kamu harus diajak involved. nah kalau isunya emang di hubungannya, fokus aja perbaikin komunikasi, belajar conflict management yang sehat, jaga intimasi, dan coping stress bareng-bareng. Tiap couple kan dinamikanya beda-beda ya, jadi emang nggak ada one size fits all solution alias disesuaiin aja sama kondisi masing-masing.
WTS! BUTUH RESPONDEN KUESIONER? TENANG, KAMI SIAP BANTU! ✨
Lagi dikejar deadline penelitian, skripsi, tugas, atau survei? 📚😵💫
Yuk, percayakan kebutuhan respondenmu kepada kami! 🌟
💸 Mulai dari 5K
📋 Pilihan paket berdasarkan jumlah pertanyaan
⚡ Pengerjaan maksimal 2×24 jam
guys,
- tali BH keliatan itu normal
- pakai pembalut itu normal
- bawa pembalut di tas itu normal
- noda darah haid di celana itu bisa kejadian dan normal
- beli pembalut di kasir itu normal
- bulu badan tumbuh itu normal
- punya stretch marks itu normal
- jerawatan itu normal
- nggak selalu tampil cantik/rapi itu normal
- nangis karena hal kecil itu normal
- bilang “aku lagi capek” itu normal
being a woman is literally just having a body. please let women exist without making everything embarrassing.