Once We Were Us is another level of heartbreaking. 🥀
A story about the struggle, the hope, and the hardest part of all: letting go.
Some stories don’t end because the love is gone, but because sometimes, letting go is the only way to move forward.
En el challenge de fotos IA de los 80s en un millón de imágenes generadas se utilizarían 28.600 litros de agua, 2,9 MWh de electricidad y 1,22 toneladas emitidas de CO2e.
El viral de imágenes Studio Ghibli usó 4.309 MWH, 216 millones de litros de agua y emitió 2.069 ton. de CO2e.
Allah is SOOOOOOOOOOOOO loving. You can come back to Himmmmmmm with the SAME du’a, overrrrrrr and overrrrrrr again, and He never gets tired of hearing you. Neverrrrrrrrr. Even when all you have left to say is, “Ya Allah… please.” He still listens. He still knows. He still welcomes you.
Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
hari ini kompas merilis 3 halaman full kekejaman israhel ke tahanan palestina, dari laporan Albanese (utusan PBB).
ada laki, cewek, tua muda, berkali-kali diperkosa utk menghacurkan martabat
keji betul. sementara negeri kita masih tidak berani bersikap :(
perempuan selama ini tuh hidup dalam diskriminasi berlapis, tapi saat kami mengekspresikan rasa marah aja masih diatur-atur caranya. diaturnya juga oleh kelompok yang selama ini mendominasi struktur sosial, punya privilege berlapis, dan middle class tentunya.
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.