This is really not helping at all in the long run.
Jangan kaget nanti kalau di masa depan, hubungan ibu dan anak menjadi transaksional semata.
Yang anak butuhkan adalah perasaan aman, bahwa sejatuh apapun dia, ibunya menghargai upayanya dan membantunya untuk bangkit. Dan apapun bentuk pencapaiannya, ibunya mengapresiasinya.
Bukan, "nih duit supaya kamu semangat kejar nilai".
Tapi, "menurut Ibu, wajar kalau masuk ke 5 besar sekarang agak susah karena kamu harus sambil ngurusin OSIS. Keren loh, kamu masih bagus akademiknya walau repot sana-sini. Ketua OSIS cuma 1 anak dan itu kamu. Kira², kamu masih ada ruang buat naikin akademik nggak? Kapan-kapan kita coba diskusikan strategi manajemen waktu dan energi yg sesuai supaya kamu nggak jatuh akademiknya".
udah curiga, ortu-ortu yg sok keras ke anak tuh kebanyakan melimpahkah parameter keberhasilan dia sendiri ke anak. aslinya ga peduli "proses" si anak. terlebih di masyarakat yg patriarkis, suami abai, anak jd bumper & aset terakhir yg kudu punya nilai (bisa dipamerin jg kan)