Jangankan karya dan legacy beliau, senyumnya aja Mukidi ketinggalannya tiga puteran obat nyamuk ๐๐
Sorry, foto Mukidi sengaja ga tampil, karena gada yg bagus ๐ ๐ ๐
CC @BERKARYA_NET
Selama 10 tahun era Jokowi, jadi akun pro rezim itu seksi. Ngomong apa aja membela rezim akan dapat tepuk tangan tapi gw lebih memilih berbeda. Era Prabowo, jadi akun kontra rezim itu ujian, tapi gw lebih memilih mendukung. Kenapa? Karena gw mengimani ini:
Sulit membayangkan nasib Indonesia seandainya dipimpin oleh lawan Prabowo di Pilpres kemaren dengan kondisi dunia seperti sekarang. Alhamdulillah Allah memberi yang Indonesia butuhkan bukan yang segelintir buzzer inginkan.
Video.
Kalau dipanggil Yang Maha Kuasa,
Tetap saya monitor kalian.
Kalau kalian kurang ajar, malam-malam aku turun nyari kau.
Jangan main-main kau!
Kau melanggar, berkhianat kepada Merah Putih,
AKU TURUN, AKU CARI KAU.
ORKESTRA PRABOWONOMICS.
Oleh: Fahri Hamzah.
Dalam perdebatan publik Indonesia, ada kecenderungan untuk membaca kebijakan pemerintah secara terpisah-pisah. Setiap program dibedah dalam ruangnya sendiri, diperdebatkan anggarannya, dipersoalkan targetnya, lalu dinilai berhasil atau gagal tanpa pernah benar-benar ditempatkan dalam konteks yang lebih besar.
Akibatnya, kita sering gagal melihat arsitektur yang sedang dibangun.
Hal itu tampaknya juga terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Makan Bergizi Gratis dibahas sebagai program gizi. Sekolah Rakyat dibahas sebagai program pendidikan. Koperasi Desa Merah Putih dianggap sekadar kebijakan koperasi. Program Tiga Juta Rumah dipandang sebagai proyek konstruksi. Kampung Nelayan Merah Putih diperlakukan sebagai program sektoral untuk masyarakat pesisir.
Padahal jika diperhatikan secara lebih cermat, berbagai program tersebut tampak memiliki benang merah yang kuat. Mereka bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah rancangan yang saling terhubung.
Mungkin karena itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkannya bukanlah kumpulan program, melainkan sebuah orkestra.
Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen memainkan peran yang berbeda. Tidak semua menghasilkan bunyi yang sama. Bahkan jika didengar secara terpisah, sebagian nada mungkin terdengar tidak berhubungan satu sama lain. Namun ketika seluruh instrumen dimainkan secara bersamaan, muncul sebuah komposisi yang utuh.
Cara membaca seperti itu tampaknya lebih membantu untuk memahami apa yang sedang terjadi hari ini.
Makan Bergizi Gratis, misalnya, sering diperdebatkan semata-mata dari sisi biaya dan pelaksanaannya. Padahal program ini sesungguhnya berada pada persimpangan antara kebijakan sosial dan kebijakan ekonomi. Di satu sisi ia bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. Di sisi lain ia menciptakan permintaan pangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jutaan porsi makanan yang harus disediakan setiap hari secara otomatis membentuk pasar baru bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan di berbagai daerah.
Di titik inilah program tersebut mulai terhubung dengan Koperasi Desa Merah Putih.
Selama bertahun-tahun, persoalan utama ekonomi rakyat bukan semata-mata rendahnya produksi, melainkan lemahnya organisasi produksi. Petani memproduksi sendiri-sendiri. Nelayan menjual hasil tangkapan sendiri-sendiri. Skala usaha yang kecil membuat posisi tawar mereka lemah dalam rantai distribusi. Koperasi Desa Merah Putih tampaknya dirancang untuk menjawab persoalan tersebut dengan mengonsolidasikan kekuatan ekonomi rakyat pada tingkat desa.
Jika Makan Bergizi Gratis menciptakan permintaan, maka koperasi menyediakan mekanisme agar permintaan itu dapat dijawab oleh produksi rakyat sendiri.
Hubungan yang sama terlihat pada Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini tidak hanya menyangkut pembangunan rumah atau penataan kawasan pesisir. Di dalamnya terdapat gagasan yang lebih luas tentang bagaimana wilayah pesisir diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan nasional. Nelayan tidak lagi diposisikan sebagai kelompok penerima bantuan, melainkan sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan nasional.
Perspektif yang sama juga dapat digunakan untuk membaca Program Tiga Juta Rumah.
Banyak kritik muncul karena program ini dianggap terlalu besar dan terlalu mahal. Namun sejarah pembangunan menunjukkan bahwa sektor perumahan hampir selalu menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang paling kuat. Perumahan tidak hanya menghasilkan rumah. Ia menggerakkan industri semen, baja, kaca, keramik, kayu, furnitur, jasa konstruksi, logistik, hingga sektor pembiayaan.
Lebih penting lagi, rumah merupakan aset ekonomi pertama yang dimiliki sebagian besar keluarga. Karena itu pembangunan perumahan sesungguhnya bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal, melainkan juga membangun fondasi kesejahteraan jangka panjang.