“HIV ITU HOAX. AIDS ITU AKIBAT MINUM ARV.”
Saya mau cerita tentang sesuatu yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.
Seorang abdi negara datang dengan tubuh kurus dan ceking.
Dia memakai jaket, topi, masker—seluruh tubuhnya tertutup rapat.
Saat masuk ruang perawatan, perlahan dia membuka semuanya.
Baru saya mengerti apa yang selama ini dia sembunyikan.
Seluruh tubuhnya melepuh.
Dari kepala sampai ujung kaki kulitnya terkelupas.
Luka di mana-mana. Nyeri. Gatal.
Mulutnya penuh luka dan jamur.
Jangan tanya apakah dia bisa makan.
Tentu hampir tidak bisa.
Dia juga diare, batuk, lemah sekali—gambaran yang sering kami lihat pada pasien dengan HIV stadium lanjut yang imunitasnya sudah jatuh.
Setelah keluar dari perawatan, kami belum langsung mulai ARV.
Kami stabilkan dulu kondisinya.
Saya berikan Cotrimoxazole selama 2 minggu untuk mengobati infeksi oportunistik, plus obat jamur dan terapi untuk keluhan kulitnya.
Dua minggu kemudian, dia datang kontrol.
Saya lihat perubahan.
Luka-luka di tubuhnya mulai mengering.
Mulutnya jauh membaik.
Dia sudah mulai bisa makan.
Berat badannya naik 1 kg.
Keluhan yang dulu menyiksa perlahan berkurang.
Saya ikut senang melihatnya.
Lalu kami mulai ARV.
Sebulan kemudian dia datang lagi.
Kali ini… tanpa masker.
Wajahnya bersih.
Matanya hidup.
Tubuhnya tegap.
Ternyata dia pria yang sangat gagah—tinggi, berwibawa.
Memang masih ada bekas luka di sana-sini.
Tapi dia sudah sangat berbeda.
Jadi ketika ada orang yang belum pernah merawat pasien HIV, belum pernah melihat pasien sekarat karena infeksi oportunistik, lalu datang mengajari saya bahwa:
“HIV itu ilusi.”
“ARV yang bikin AIDS.”
Maaf.
Saya tidak bisa menukar ratusan bukti nyata dengan teori konspirasi dari internet.
Saya sudah melihat terlalu banyak nyawa tertolong oleh Antiretroviral therapy.
Saya melihat orang yang tadinya tidak bisa makan… kembali makan.
Yang tadinya tinggal tulang… kembali berisi.
Yang tadinya menunggu ajal… kembali bekerja, merawat keluarga, dan hidup normal.
Opini boleh.
Curiga boleh.
Bertanya juga boleh.
Tapi jangan sampai ketidaktahuan membuat kita menyesatkan orang lain.
Karena satu postingan yang salah…
bisa membuat seseorang menolak pengobatan.
Dan pada HIV, menunda terapi bisa berarti kehilangan nyawa.
Ilmu kedokteran bukan dibangun dari omong kosong atau copy-paste status.
Ilmu dibangun dari penelitian, data, dan bukti nyata pada manusia.
Dan saya sudah melihat buktinya sendiri
“Kalian melihat teori di layar.
Kami melihat pasien di depan mata.
Kalian membaca rumor.
Kami menyaksikan siapa yang hidup… dan siapa yang meninggal.”
Pernyataan dari Dr. @Febelin Idjie ElsaMom
Wawancara terhadap seorang investor: ia jelaskan alasan investor luar enggan berinvestasi ke Indonesia. Dia bercerita pengalamannya 5 tahun lalu saat di Indonesia. 😯
Indonesian President Prabowo’s $15B FREE school meals program is causing budget strain.
If that's not bad enough, it's been the source of food poisoning and corruption.
PRABOWO IS LOSING FISCAL CONTROL. THAT IS CREATING A CONFIDENCE PROBLEM AND A SINKING RUPIAH.
Kepada para pemimpin republik, kami orang muda bukan musuh bangsa ini. Jangan kerahkan tentara dan polisi untuk membatasi suara kami.
Ajak kami berdialog dan penuhi tuntutan kami. Kami bukan penyebab krisis, para pejabat brengsek itu adalah penyebab kekacauan ini.
Guys, ada satu nama yang menurut gue paling banyak menimbulkan pertanyaan dari semua orang yang paham sistem militer Indonesia.
Bukan nama jenderal bintang empat.
Bukan nama menteri senior.
Bukan nama tokoh yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Namanya Teddy Indra Wijaya.
Letkol. Baru 14 tahun dinas.
Dan dia mungkin pejabat paling berpengaruh di sekitar Presiden Prabowo saat ini.
Dan ini faktanya angka demi angka:
Teddy lulus Akademi Militer 2011.
Artinya pada tahun 2025
dia baru 14 tahun berdinas.
Di usia dinas 14 tahun itu
dia menerima Bintang Mahaputra Utama.
Sebuah penghargaan negara tertinggi.
Dan ini yang membuat seluruh komunitas militer tergeleng-geleng:
Untuk sampai ke Bintang Mahaputra seseorang normalnya harus melewati sekitar 15 tingkatan penghargaan secara berurutan:
Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun belum punya. Satya Lencana 16 tahun belum punya.
Satya Lencana 24 tahun belum punya.
Satya Lencana 30 tahun belum punya.
Bintang Kartika Eka Paksi Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Yuda Dharma Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Dharma belum.
Bintang Mahaputra Nararia belum.
Pratama belum.
Dan Teddy langsung dapat Bintang Mahaputra Utama.
Melompati 15 tingkatan sekaligus.
Dalam 14 tahun dinas.
Dan bandingkan dengan yang lain:
Panglima TNI bintang empat
belum dapat Bintang Mahaputra.
Wakil Panglima TNI bintang empat belum dapat.
Tiga Kepala Staf Angkatan semuanya bintang empat belum dapat.
Mereka yang sudah berdinas 33-37 tahun.
Yang sudah memimpin pasukan di berbagai operasi.
Yang sudah menanggung tanggung jawab strategis negara selama puluhan tahun.
Belum dapat.
Teddy 14 tahun dinas, pangkat Letkol sudah dapat.
Dan bukan hanya dapat tapi dapat yang Utama.
Dan ini karir Teddy yang perlu diketahui:
Dari Akademi Militer langsung menjadi ajudan.
Dari ajudan ke ajudan.
Tidak pernah menjadi komandan kompi.
Tidak pernah bertugas di daerah operasi.
Tidak pernah ditugaskan ke Papua atau perbatasan. Kulitnya kata para senior TNI masih terlalu bersih untuk seorang perwira tempur.
Di era Wismoyo Aris Munandar sebagai Kasdam Udayana ada seorang komandan batalion yang kulitnya dinilai terlalu bersih.
Langsung dikirim ke Timor Timur dulu.
"Tunggu kulitmu gosong baru saya berangkatkan."
Teddy tidak pernah melewati proses itu.
Dan jabatannya sekarang:
Sekretaris Kabinet.
Dan ini yang aneh secara struktural Seskab yang seharusnya minimal setingkat eselon 1 atau setingkat menteri di era Prabowo menjadi eselon 2.
Dijabat oleh seorang Letkol.
Artinya secara struktural Teddy berada di bawah Sekretaris Negara dan Sekretaris Militer.
Tapi kenyataannya di lapangan Menko-menko yang bintang empat dan setingkat menteri senior tidak bisa bertemu presiden karena harus melalui filter yang ada di sekitar presiden.
Dan nama yang paling sering disebut sebagai filter itu adalah Teddy.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan dari seluruh situasi ini:
Doktor Selamat Ginting profesor ilmu politik yang karya akademisnya seluruhnya tentang hubungan sipil-militer bilang dengan sangat tegas:
"Sebenarnya agak rawan kalau komunikasi presiden hanya melalui satu filter seorang Teddy Indra Wijaya.
Menko-menko, pejabat setingkat menteri sudah setahun lebih ada yang belum pernah bertemu presiden. Berarti ada masalah."
Dan dia menambahkan perbandingan yang paling mengerikan:
"Presiden Soeharto juga merasa tidak apa-apa. Sudah diingatkan oleh akademisi, oleh orang kritis soal krisis ekonomi.
Tapi Soeharto tetap berangkat ke Mesir.
Begitu pulang kondisinya sudah seperti itu.
Saya tidak mau Presiden Prabowo mengalami hal yang sama."
Dan soal Bintang Mahaputra yang diterima Teddy bersamaan dengan Mayor Jenderal Syamsudin:
Mayor Jenderal Syamsudin adalah purnawirawan yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Lulusan Akademi Militer 1959. Pensiun 1992.
Pernah membebaskan sandera dari OPM hanya dengan ajudannya tanpa menembakkan satu peluru pun.
Menyerahkan pistolnya sendiri sebagai gestur perdamaian.
Keberanian yang seharusnya sudah mendapat Bintang Sakti dari dulu.
Dan baru diakui sekarang setelah puluhan tahun.
Tapi dalam upacara yang sama
Teddy yang baru 14 tahun dinas dan 3 tahun saat Syamsudin pensiun menerima penghargaan yang sama.
"Ini ketidakadilan yang sangat nyata."
Dan soal Gibran ini yang belum banyak disorot:
Seorang wakil presiden secara otomatis mendapat 17 bintang tanda jasa negara.
Gibran Rakabuming usia 37 tahun, baru sebentar jadi walikota, belum ada rekam jejak pengabdian panjang secara otomatis sudah punya 17 bintang.
Sementara jenderal bintang empat yang sudah 35 tahun mengabdi belum dapat satu pun.
Sistemnya memang sedang diobrak-abrik.
Dan ini pertanyaan yang paling fundamental:
Apa yang istimewa dari Teddy?
Apa prestasi luar biasa yang membuat dia layak melewati 15 tingkatan penghargaan dalam 14 tahun dinas?
Negara belum pernah menjelaskan.
Tidak ada buku biografi yang diverifikasi sejarawan.
Tidak ada karya ilmiah tentang dirinya.
Tidak ada rekam jejak operasi lapangan yang bisa diverifikasi publik.
Yang ada hanya satu hal:
kedekatan dengan presiden.
Dan kedekatan dengan presiden bukan prestasi pengabdian seharusnya tidak pernah menjadi dasar penghargaan tertinggi negara.
Bintang Mahaputra bukan sekadar lencana.
Itu adalah simbol pengakuan negara atas pengabdian luar biasa yang sudah teruji oleh waktu, oleh medan, oleh tanggung jawab yang nyata.
Ketika simbol itu diberikan kepada orang yang belum melewati satu pun dari 15 tahapan yang seharusnya bukan hanya Teddy yang dirugikan.
Yang dirugikan adalah semua orang yang sudah melewati semua tahapan itu dengan jujur.
Dan yang paling dirugikan adalah presiden itu sendiri. Karena setiap penghargaan yang kehilangan legitimasi moralnya akan menghantui pemberi penghargaan jauh lebih lama dari yang menerimanya.
"Jangan karena seorang Teddy semua kepangkatan, jabatan, pemberian bintang, tanda jasa diacak-acak semua."
Sepasang Sejoli Terekam Adu Lato-lato di Pinggir Rel Kereta Jatinegara
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur bergerak cepat usai mendapat informasi viral adanya aksi mesum di bantaran rel kereta api.
Sekilas memang tidak ada yang aneh, sampai saat gamisnya sedikit tersingkap dan memperlihatkan bentuk jari kakinya.
Video ini ramai diperbincangkan, Konon merupakan penampakan jin yang menyerupai manusia.
Kejadian di Bandara Kuwait.