@Sai_XMarkets Semoga raksasa AI yg investasi di Malaysia; Microsoft, Google, Nvidia, dan ByteDance juga mau investasi di Indonesia.
Kalo industri AI terealisasi di Indonesia,yakin IHSG akan ngikutin Kospi Korsel yg cetak ATH terus.
Jangan ngandelin konglo yg ngeruk sumber daya alam terus.
@Sai_XMarkets Betul,kawasan industri menyerap banyak tenaga kerja jadi motor pembangunan. Pabrik2 manufaktur & data center akan dibangun di kawasan industri krn Indonesia belum booming AI
Guys, ada analisis dari Gema Goeyardi di podcast IDX Channel yang menurut gue paling jujur dan paling langka karena dia bukan hanya bicara tentang saham, tapi tentang kondisi struktural Indonesia yang membuat investor lebih takut sekarang daripada saat pandemi COVID.
Dan ini yang paling mengejutkan:
crash IHSG 2026 ini lebih besar dari crash mini biasa tapi lebih kecil dari COVID.
Yang bikin beda adalah: s
aat COVID seluruh dunia sakit bersama.
Sekarang global menghijau, kita doang yang sakit.
Pertama kenapa ini lebih menakutkan dari pandemi untuk investor:
Gema menyebutkan sesuatu yang sangat penting:
ini adalah krisis lokal.
Bukan krisis global yang bisa dijadikan alasan bersama.
Saat COVID semua bursa dunia jatuh bersamaan.
Ada solidarity of pain.
Investor bisa bilang: ini force majeure global.
Sekarang bursa Asia menghijau,
Amerika menghijau,
tapi IHSG hampir turun 5% dalam satu hari.
Itu artinya masalahnya ada di dalam negeri kita sendiri. Dan itu jauh lebih sulit dijustifikasi kepada investor asing.
"Kalau kamu taruh blame di faktor global
you must be wrong.
Karena ini boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang MSCI yang paling perlu dipahami:
MSCI Morgan Stanley Capital Index adalah indeks acuan investor institusional global.
Dana-dana besar dari luar negeri menggunakannya sebagai benchmark.
Kalau saham Indonesia tidak ada di MSCI mereka tidak akan beli.
Dan yang bikin Gema khawatir:
ada ancaman Indonesia bisa turun
dari status emerging market ke frontier market.
Dua level di bawah.
Dampaknya:
fund manager global yang mandatnya hanya boleh beli emerging market otomatis harus sell semua saham Indonesia.
Tidak ada pilihan.
Bukan karena mereka tidak suka Indonesia tapi karena aturan mandatnya.
Tapi Gema memberi perspektif yang menarik:
kalau itu terjadi dan market turun lagi kesempatan beli murah. Karena siklusnya paling lama July sudah harus recovery.
Dan ini tentang ekspor satu pintu yang paling mengkhawatirkan:
Pemerintah mengeluarkan kebijakan ekspor komoditas satu pintu tujuannya baik:
memotong under-invoicing dan memaksa konversi devisa ke rupiah.
Tapi reaksi pemilik tambang yang Gema telepon langsung: tidak percaya.
Kenapa?
Mereka takut ini akan jadi seperti kebijakan cengkeh zaman Soeharto di mana komoditas dikontrol satu pintu dan yang terjadi justru rent-seeking dan korupsi di dalamnya.
"Tujuannya mulia sama kayak MBG mulia tujuannya.
Tapi pelaksanaannya yang selalu melenceng dari planning utama.
Pengawasannya tidak ada."
Dan yang memperparah:
pengumuman BI menaikkan suku bunga 50 basis poin yang seharusnya menjadi sinyal positif justru keluar bersamaan dengan berita ekspor satu pintu ini.
Dua berita sekaligus.
Saling membunuh efek positifnya.
Dan ini tentang rupiah yang paling jelas dari sisi angka:
Gema punya hitungan yang sangat spesifik:
switch spot rupiah ada di Rp15.000.
Itu adalah titik keseimbangan yang seharusnya.
Di Rp17.800 kerugian kita diperkirakan sekitar Rp1.600 sampai Rp2.000 triliun.
Dan yang paling mengejutkan:
untuk setiap Rp1 keuntungan dari ekspor saat rupiah di Rp17.800 konsekuensi kerugiannya Rp1,8.
"Jadi orang bilang rupiah melemah makin bagus itu ngawur karena dia enggak punya data."
Proyeksi Gema: masih ada risiko rupiah ke Rp18.220 di akhir 2026. Dan dia berharap untuk soal ini dia salah.
Dan ini dua kesalahan terbesar investor yang paling sering terjadi:
Pertama: terlalu takut cut loss.
Gema sudah warning sejak Desember 2025 bahwa IHSG akan dari 9.150 bisa turun ke 6.000.
Warning itu ada jejak digitalnya.
Tapi mayoritas investor tidak mau cut karena berpikir cut loss sama dengan kehilangan segalanya.
Padahal: cut di atas, beli lagi di bawah lebih murah itu bukan kalah. Itu manajemen risiko yang benar.
Kedua: tidak paham drawdown portfolio.
Setiap trading harus ada batas maksimum loss — misalnya 5% dari total portfolio per transaksi. Kalau punya Rp1 miliar maksimum loss per trading Rp50 juta. Disiplin itu yang menyelamatkan Gema di 2008 dan 2020.
Yang terjadi di kebanyakan investor: tidak ada disiplin ini, portofolio overweight di saham konglomerat, tidak mau stop loss — dan ketika akhirnya cut karena panik di titik paling bawah — sisa uang 30% tidak cukup untuk recovery karena harga harus naik 300% untuk balik modal.
Dan ini satu kalimat Gema yang paling penting:
"Jangan gunakan keterbatasanmu untuk menilai dunia yang tak terbatas."
Banyak yang sok tahu di market.
Merasa paling benar.
Paling bisa prediksi.
Dan market selalu menghajar mereka yang seperti itu.
Termasuk soal menghujat pemerintah sebagai strategi investasi itu tidak berguna.
Yang berguna adalah identifikasi sektor mana yang masih punya fundamental kuat, tunggu market kebal terhadap berita buruk, dan beli ketika semua orang sudah muntah-muntah ketakutan.
Crash 2026 berbeda dari COVID karena ini bukan krisis bersama dunia. Ini krisis kepercayaan lokal yang jauh lebih sulit diatasi karena tidak ada momentum solidaritas global untuk recovery bersama.
Tapi sepanjang sejarah: tidak ada market crash besar yang tidak diikuti all time high berikutnya. 2008 all time high. 2020 COVID all time high. 2024 all time high.
Yang menentukan apakah kamu selamat atau tidak bukan kondisi marketnya tapi apakah kamu punya risk management yang disiplin sebelum crash datang.
Presiden terdahulu klo market ancur, rupiah melemah, dan rakyat udah berisik bakal cepet ditangani problemnya.
2013 parah banget rupiahnya tapi pak SBY take action jg saat itu jadi bisa ternetralisir
2015 budget berantakan parah, trus Pak Jokowi take action jg dengan manggil balik bu SMI.
2018 berantakan karena tariff Trump dan BI berani pre-emptive rate hike dan pemerintah adjust anggaran juga
Baru kali ini market ancur hampir 40% dan rupiah melemah terus tapi gak ada respon serius. Masih nyalahin BI, masih glorifikasi MBG, masih anti kritik tentang plesir ke LN, dll.
Problemnya itu. Global economy gk lagi baik2 aja. Spekulasi pasar saham gila2an dan credit issue mulai muncul. Kalau gaya kerjanya masih kayak gini.
Gw gak paham lagi mau seberapa hancur rupiah dan IHSG ketika nanti kejadian.
Summarized by Claude.
What's happening: IDX is down 36% YTD, worst performer among 90+ global indices. Rupiah hit 18,000/USD (all-time low), down ~14% since Prabowo took office. Foreign funds have pulled ~Rp86 trillion from bonds.
Why: Prabowo's populist/interventionist pivot, Danantara, free meals program, commodity export controls, has spooked markets. Sri Mulyani's departure was the turning point; she was the "fiscal anchor." Now investors question Indonesia's investment-grade credit ratings and MSCI EM status.
What investors want to come back:
1) A credible fiscal anchor, central bank independence
2) Danantara transparency
3) Clearer policy implementation.
Until then, the trade consensus is simply: SELL.
GLOBAL INVESTOR MULAI SERIUS !!
SELL INDONESIA MASSIVE DI PEMBICARAAN INTERNASIONAL !!
MEREKA AJA SUDAH MUAK DENGAN PRABOWO???
KETIKA DUNIA MEMILIH PERGI DARI INDONESIA
Judul itu bukan provokasi.
Itu istilah yang kini beredar di meja-meja trading global.
The Straits Times menerbitkannya hari ini,
investor asing sedang keluar dari Indonesia secara masif, dan Prabowo dianggap salah satu alasannya.
Ini bukan gosip.
Ini angka.
Dua tahun lalu kita masih tenang di kisaran Rp15.000-16.000. Kini, lihat sendiri angkanya:
Sepanjang 2024, rata-rata kurs rupiah berada di Rp16.162 per dolar AS.
Desember 2025 sempat menguat ke Rp16.601 per dolar, titik terkuat dalam enam bulan terakhir.
Lalu semua berubah di 2026. Pada 21 Mei 2026, Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuan ke 5,25% kenaikan pertama dalam dua tahun karena rupiah terus mencatatkan rekor terendah baru, kala itu di level Rp17.600 per dolar.
Dan kemarin, 4 Juni 2026: kurs USD/IDR menembus Rp18.044 rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Rupiah sudah melemah 7,2% sejak awal tahun, menjadikannya salah satu mata uang emerging market dengan performa terburuk di dunia.
Dalam dua tahun, rupiah sudah kehilangan lebih dari 11% nilainya.
Ini bukan koreksi biasa.
Ini alarm.
DANA ASING KELUAR: BERAPA BESARNYA?
MSCI dalam review Mei 2026 menghapus 18 saham Indonesia dari indeksnya jauh lebih banyak dari perkiraan otoritas.
Dampaknya langsung terasa:
estimasi passive outflow antara Rp28 triliun hingga Rp31,5 triliun. IHSG sudah anjlok 20% ke level 5700
Khusus di kuartal pertama 2026, asing melakukan net sell sebesar Rp26,06 triliun di pasar saham dan Rp25,1 triliun di obligasi pemerintah.
Total tekanan keluar dari dua instrumen ini saja menyentuh lebih dari Rp51 triliun hanya dalam tiga bulan.
Belum cukup? Indonesia juga mencatatkan defisit neraca pembayaran sebesar 9,1 miliar dolar AS di Q1 2026 salah satu yang terbesar dalam sejarah sementara defisit transaksi berjalan melebar dari 0,7% ke 1,1% PDB.
Sejak awal 2026 saja, dalam tiga minggu pertama Januari, capital outflow sudah mencapai 1,6 miliar dolar AS. Tren ini terus berakselerasi seiring eskalasi geopolitik yang mengubah persepsi risiko global secara dramatis.
Sepanjang periode ini, elite Indonesia sendiri ikut memindahkan kekayaan mereka ke luar negeri:
ke emas, properti, kripto, dan stablecoin USDT. Individu dengan aset bersih antara 100 juta hingga 400 juta dolar dilaporkan telah mengonversi 10% portofolio mereka ke aset digital di luar negeri. PPATK mencatat dana keluar dari Indonesia mencapai Rp602 triliun hanya dalam Maret 2025.
Di sisi investasi riil, LG membatalkan proyek baterai nikel mereka di Indonesia. BYD dan VinFast mengalami gangguan operasional akibat tekanan dari ormas-ormas tertentu.
KENAPA INVESTOR KABUR? INI PENYEBABNYA
Otoritas moneter dinilai terjebak dalam "kebijakan burung unta" mengecilkan memburuknya kondisi pasar demi mempertahankan narasi stabilitas makroekonomi, padahal kenyataan di lapangan terus memburuk.
Moody's dan Fitch keduanya mengubah outlook Indonesia menjadi negatif pada 2026, meski peringkat investment grade masih dipertahankan.
Cadangan devisa juga turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir akibat intervensi agresif Bank Indonesia untuk menahan rupiah.
FAKTOR PRABOWO: APA YANG BIKIN INVESTOR GELISAH?
The Straits Times hari ini menulis langsung:
investor global terganggu oleh agenda populis dan intervensionis yang dikejar Prabowo. Tiga hal yang paling sering disebut:
Pertama, UU P2SK yang memberi presiden kewenangan memecat Gubernur BI sinyal buruk bagi independensi bank sentral.
Kedua, ekspansi anggaran besar-besaran untuk program MBG di tengah tekanan fiskal, yang memunculkan spekulasi downgrade rating.
Ketiga, gaya kepemimpinan yang lebih mengandalkan militer dan ekspansi pengaruh negara ke sektor swasta.
Rupiah di Rp18.000 bukan sekadar angka,
asing kluar bukan politik.
MAU SAMPE KAPAN DENIAL..??
INI SIH MENGERIKAN
Guys, ada satu orang di debat Head to Head CNN Indonesia yang menurut gue paling berani dan paling jujur dalam menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia sekarang.
Prof. Ferry Latuhihin pakar ekonomi dan analis pasar modal tidak basa-basi.
Tidak diplomatis.
Langsung ke inti.
Dan apa yang dia katakan sangat sulit dibantah.
Pertama tentang prediksi yang bikin banyak orang tidak nyaman:
Ferry memprediksi rupiah bisa menyentuh Rp20.000 di Juni, Rp22.000 di Juli, dan Rp25.000 di akhir tahun.
Banyak yang langsung menolak prediksi ini.
Tapi Ferry punya alasan yang sangat spesifik dan yang paling penting:
track record-nya selama ini benar.
Dia sudah prediksi IHSG ambruk benar.
Dia prediksi rating Indonesia di-downgrade benar. Dia prediksi dolar menembus Rp17.000 malah lewat.
Dan ini argumen intinya yang paling kuat:
"Kalau kamu bilang ini semua gara-gara faktor eksternal global coba lihat angkanya.
Saat mata uang negara-negara Asia lain menguat terhadap dolar rupiah tetap melemah.
Saat bursa Asia menghijau IHSG kita turun hampir 5% dalam sehari."
"Jadi kalau kamu taruh semua blame di faktor global
you must be wrong.
Karena boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang apa yang Ferry sebut sebagai borok internal yang paling mengejutkan:
Sebelum perang Iran bahkan dimulai Fitch dan Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
Di angka pertumbuhan 5,11% yang seharusnya bagus lembaga rating justru memberikan sinyal negatif.
Kenapa?
Karena mereka melihat sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh angka pertumbuhan:
kebijakan yang tidak bisa diprediksi dan tidak memberi kepercayaan kepada investor.
Contoh yang Ferry sebut:
begitu PT DSI didirikan S&P langsung menggonggong dengan ancaman downgrade.
Begitu Danantara diumumkan Fitch langsung memberikan rating sangat negatif.
"Ini bukan tentang apakah kebijakan itu niatnya baik. Pertanyaannya:
apakah investor percaya kebijakan itu benar atau koplak?"
Dan ini tentang lingkaran setan yang paling sulit dipecahkan:
Kalau pemerintah mengeluarkan obligasi baru dengan kupon lebih tinggi untuk menarik investor yang pertama kena dampaknya adalah asuransi, dana pensiun, dan bank sebagai pemegang SBN yang ada sekarang.
Nilai aset mereka turun.
Loanable fund berkurang.
Kredit ke ekonomi makin seret.
Tapi kalau tidak dinaikkan investor tidak mau masuk karena imbal hasilnya tidak sebanding dengan risiko.
"You cannot close the balloon here without it inflating somewhere else.
What a big nonsense you say every time oh ekonomi kita kuat 5,6% pertumbuhannya."
Dan ini yang paling relevan untuk kehidupan sehari-hari:
Ferry mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan:
Indonesia masih impor kedelai untuk tahu tempe, masih impor gandum untuk roti, masih impor gula, masih curiga impor beras, masih impor jagung, masih impor pupuk dan tentu saja masih bergantung impor minyak.
Artinya setiap kali rupiah melemah semua harga bahan pokok itu ikut naik.
Bukan karena kebijakan harga domestik berubah.
Tapi karena bahan bakunya sendiri lebih mahal dalam rupiah.
Dan kondisi ini diperparah oleh sesuatu yang Ferry sebut shrinkflation harga barang tidak naik tapi ukurannya mengecil.
Ini tidak dihitung sebagai inflasi secara resmi tapi dampaknya ke kantong masyarakat sama saja.
Dan ini kalimat Ferry yang paling menohok tentang BI menaikkan suku bunga 50 basis poin:
"Diketawain sama market."
Bukan karena langkahnya salah secara teori.
Tapi karena hitungannya tidak masuk:
kalau US Treasury yield 4% dan Indonesia harusnya membayar risk premium minimal 3% di atasnya karena rating yang lebih rendah berarti SBN seharusnya diperdagangkan di yield sekitar 10%. Tapi sekarang masih di bawah 7%.
Artinya: investor yang rasional tidak akan masuk.
Dan yang sudah ada di dalam punya alasan kuat untuk keluar.
Dan ini yang paling penting dari seluruh analisis Ferry:
"Ini bukan temporary shock.
Ini systematic shock. Bedakan itu."
Temporary shock artinya ada gangguan dari luar yang akan reda sendiri.
Systematic shock artinya ada masalah struktural di dalam sistem yang tidak akan selesai hanya dengan menunggu.
Dan selama tidak ada mitigasi risiko yang nyata — bukan sekadar pernyataan bahwa fundamental ekonomi kuat tekanan terhadap rupiah tidak akan berhenti.
"Purbaya bilang tenang aja ini temporary.
Kalau temporary kenapa dari tahun lalu terus naik? Temporary apanya?
Ferry bukan sedang menakut-nakuti.
Dia sedang menjalankan fungsi yang paling penting dalam ekonomi: memberikan sinyal yang jujur ketika sinyal resmi tidak mencerminkan realitas.
Dan realitasnya sekarang adalah: rupiah di Rp17.900 bukan hanya angka di layar. Itu adalah hasil akumulasi dari masalah kepercayaan yang sudah menggerus selama berbulan-bulan
dari kebijakan yang tidak konsisten, dari program besar yang dipertanyakan tata kelolanya, dan dari narasi optimisme yang tidak didukung oleh tindakan mitigasi yang nyata.
Masalah kepercayaan tidak bisa diselesaikan dengan pidato. Hanya bisa diselesaikan dengan rekam jejak — dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan bisa diprediksi.
Dan sampai itu terjadi Ferry mungkin benar.
mungkin bulan depan kita akan bertemu
rupiaah di 20.000/usd