"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
Stop wak....✋️✋️✋️🥀🥀🥀
Mandailing Natal Lumpuh Dihantam Banjir dan Longsor🚨🚨😭
Hujan deras membuat Sungai Aek Singengu meluap dan merendam rumah-rumah warga di Kotanopan, Mandailing Natal.
Tak hanya banjir, longsor dan pohon tumbang juga menutup ruas Jalan Nasional Jembatan Merah–Ranjo Batu sehingga arus lalu lintas sempat terganggu.
Petugas gabungan kini berupaya membersihkan material longsor dan memulihkan akses jalan. Warga diimbau tetap waspada karena hujan masih berpotensi turun dan memicu banjir susulan.
Plenger banget ini entah voter 02 atau buzzer main klaim aja.
Jembatan ini dibangun oleh Yayasan Sahabat Pedalaman dan didanai melalui CSR Pasar Modal Indonesia. Ga pake APBN atau dana pemerintah.
Gue tau karena founder Yayasan ini adek gue sendiri dan yang mengerjakan dia dan timnya. Mereka turun langsung ke pelosok, cari pendanaan sendiri, kerja sama dengan korporasi, lalu membangun jembatan untuk warga yang selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
Sampai hari ini Yayasan Sahabat Pedalaman sudah membangun lebih dari 14 jembatan di berbagai daerah terpencil.
Yang bikin miris, saat warga kesulitan menyeberang sungai tidak ada yang datang membantu. Giliran jembatannya sudah berdiri dan bisa dipakai, tiba-tiba ada yang mengklaim itu hasil kerja pemerintah.
Kerja orang lain, biaya orang lain, keringat orang lain. Tapi kreditnya mau diambil sendiri.
Kalo ga mau ikutan nyumbang minimal kasih apresiasi lah. Kurang ajar sih kalau fakta sejelas ini masih dipelintir demi pencitraan.
Claude Tag is a Trojan horse. Not because Anthropic is doing anything evil. Because the incentives are obvious.
Day one, this looks like a great feature: tag Claude in Slack, let it follow the thread, remember context, connect to tools, break down tasks, chase work, and act like a teammate.
But that is exactly the problem. The moment your AI vendor becomes a shared coworker, it stops being just a model provider. It starts becoming the place where work is interpreted, remembered, routed, and eventually executed.
That is not model lock-in. That is context lock-in. You are now renting your company back from them.
Models can be swapped. Agents can be copied. But the memory of how your company actually works is much harder, maybe impossible, to move: the Slack scar tissue, the exception paths, the customer promises, the unfinished threads, the weird workflows, the implicit owners, the “we tried that in Q2 and it failed” knowledge.
Once that lives inside one vendor’s agent layer, you are not renting intelligence anymore. You are renting your company’s operating memory.
And the pricing model makes it even more dangerous. A human coworker has a salary. Claude has unbounded tokenized activity. The more work moves through it, the more the vendor captures not just IT spend, but labor spend.
This is the enterprise bargain people will regret: Convenience now, and rapid decent into dependency.
The right architecture is simple: rent the best intelligence from whoever is best this month. OpenAI, Anthropic, Gemini, open source, whatever. But own the context layer.
Your company memory should be inspectable, permissioned, portable, and model-neutral. It should not be buried inside the same vendor that sells you the intelligence and the workflow surface.
Claude Tag is useful. That is why it is dangerous. Rent the intelligence, but own the context. Or, regret later.
Saya baru disensus BPS, pantas saja banyak yg meragukan akurasi datanya. Iseng sy jawab : saya ga berpenghasilan, saya makan tabungan
Si mba survei ternyata tidak punya kolom isian untuk jawaban semacam itu, jadi dia tanya : sehari hari pengeluaran habis berapa? Ternyata itu diakui sebagai sumber pendapatan. Dia tidak peduli ternyata pengeluaran kita itu dari hutang atau jual-jual aset.
Ya pantas saja diatas kertas ekonomi kita terus naik kalau cara pencatatanya begitu
cc : ige_pranata
Selain nepotisme 27 tahun sudah jadi komisaris PERTAMINA.
Dia ternyata punya ormas namanya BISON yg menjadi mitra kepolisian.
Dulu dipakai untuk pemenangan 02.
Dan terlibat pengerahan massa bayaran demo 28 agustus 2025.
Baca sendiri deh artikelnya, ngeri-ngeri sedap sepak terjangnya~
Kopdes akan gagal, tau kenapa?
Pemerintah kirain bisnis retail itu asal ada lahan, bangun toko, isi barang, lalu jualan. Kalau pejabat cuma punya kemampuan beli dan ngemeng, mereka beli franchise Alfamart atau Indomaret yang kelihatan memang cuma itu. Punya ruko, dekor-dekor, jualan. Apa sih susahnya?
Padahal bangun toko itu bagian yg paling gampang.
Yang susah itu memastikan barang yang dicari pelanggan selalu ada, harganya bersaing, stoknya nggak busuk di gudang, distribusinya lancar, dan semua itu bisa jalan setiap hari di ribuan lokasi berbeda. Itulah bagian yang selama ini dikerjakan oleh franchisor dan jaringan operasionalnya.
Nah, Kopdes mau masuk ke permainan yang sama tanpa punya persiapan ke semua itu. Kalau beli barang dari agen, harga kalah. Kalau distribusinya nggak efisien, biaya naik. Kalau hasil tani warga dibeli tanpa perencanaan yang bagus, gudang bisa penuh barang yang nggak laku. Belum lagi kalau pengelolanya nggak punya pengalaman retail, stok bisa berantakan dan uang nyangkut di mana-mana.
Yg bikin makin stress, pelatihan yang ditonjolkan justru model militer. Lah, ini kan mau bikin jaringan retail, bukan tim mawar.
Gw nggak pernah lihat Indomaret melatih kepala toko push-up.
Gw nggak pernah lihat Alfamart meningkatkan inventory turnover dengan baris-berbaris.
Gw juga nggak pernah dengar Distribution Center bisa lebih efisien karena pengelolanya jago muter-muterin senapan.
Masalah retail itu forecasting, procurement, inventory management, shrinkage, distribusi, merchandising, cashflow, dan masih banyak lagi. Kalau barang yang dicari nggak ada, pelanggan tetap pergi. Mau sikap sempurna, langkah tegap, atau push-up 100 kali juga tetap pergi.
Pelanggan datang nyari minyak goreng.
"Maaf Bu, stok habis. Tapi saya siap push-up 100 kali."
Makanya menurut gw tantangan terbesar Kopdes bukan membangun tokonya. Membangun toko itu bagian yg gampang (ya meskipun bagian pemilihan lokasi di tengah hutan agak out of the box ya). Dekor-dekor kosmetik gw rasa pemerintah kita udah paling ahlinya. Tantangan sebenarnya adalah membangun system yang membuat toko itu bisa jalan.
Tanpa model operasi yg kuat, kopdes memang bisa berdiri tokonya, tapi bakal jadi bisnis kocak yg bakar duit terus.
Ujungnya apa? Pemborosan anggaran dan jadi lahan basah untuk korupsi.