@thoriqatuna Ad yang perlu di rubah dari penyampaian manasik oleh narasumber, selama ini CJH mayoritas di doktrin serasa ritual haji adalah ajang lomba ibadah individual karena "selagi di tanah haram, maksimalkan ibadah personal" jarang yg menyampaikan nilai plus ibadah sosial di tanah Haram
Tau gak knpa kalimat brengsek ini bisa keluar?
Karena kebanyakan dari mereka itu tujuannya emang bukan "khidmah dluyuf al-rahman" (melayani jamaah haji), tapi buat ngasih makan nafsunya; "Gue jdi petugas haji, bisa sekalian gue manfaatin buat ngelaksanain haji". Akhirnya yg jadi prioritas itu bkan jamaahnya, tapi ritual pribadinya.
Menurut saya sosok-sosok seperti Prof. Quraish Shihab dan Gus Baha' inilah yang jauh lebih cocok dijadikan representasi tokoh agama dengan sebutan Habib dan Gus di Indonesia (meskipun Prof. Quraish Shihab enggan dipanggil Habib heuheuheu),
Chairman CT Corp, Chairul Tanjung bersama Prof. Muhammad Nuh (Komisaris Utama PT. Bank Mega Syariah) dan Abdul Aziz (Direktur Utama Detik Network) bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Kamis (23/10/2025)
Selengkapnya di channel YouTube Pondok Lirboyo
Prediksi Cak Nur tentang Santri yang Terbukti
Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah memprediksi bahwa sekitar 2010 akan muncul gelombang profesor dari kalangan santri NU. Ia membaca tren bahwa santri tradisional muncul sejak 1990-an dalam menempuh pendidikan tinggi. Tapi jeda itu kini berubah menjadi lompatan sejarah.
Fenomena yang dulu dibayangkan Cak Nur kini nyata. Santri-santri mulai menembus ruang akademik modern. Mereka tak lagi hanya belajar fiqh, tapi juga sains, ekonomi, teknik, dan kebudayaan.
Kini wajah-wajah santri hadir di kampus umum dan dunia internasional. Salahudin Kafrawi mengajar filsafat di Amerika; Etin Anwar menulis tentang feminisme; Ismail Fajri Alatas mengajar di New York; Eva Nisa mengajar antropologi di Australia. Di bidang sains dan teknologi, Muhammad Azis menjadi profesor Energy and Process Integration Engineering di Jepang; Hendro Wicaksono seorang Prof bidang Data-Driven Industrial Systems di Jerman; Bakhtiar Hasan menekuni Biostatistika di Belgia.
Di dalam negeri, ada Burhan Muhtadi (alumni Australia), pakar survei dan guru besar FISIP UIN, Agus Zainal Arifin (alumni Jepang) ahli informatika di ITS, hingga TB Ace Hasan Syadzily, santri-akademisi-politisi yang menjadi Gubernur Lemhannas.
Ramalan Cak Nur bukan sekadar soal gelar, tapi lahirnya generasi baru Islam Indonesia—yang berpikir universal tanpa kehilangan akar spiritual. Para santri ini menulis jurnal ilmiah sambil tetap membaca Ihya’ Ulumuddin, berbicara tentang epistemologi tapi masih bershalawat sebelum mengajar.
Bahkan santri yang novelis dan sutradara film, atau yang bikin konser jazz di Prambanan juga ada. Melampaui apa yang dibayangkan Cak Nur.
Gerbong santri ini, penerus Cak Nur dan Gus Dur, akan terus bergerak—menggabungkan olah pikir dan zikir hati, menembus laboratorium dan masjid, menulis dengan akal tapi juga dengan hati.
Indah dan penuh pesona, bukan?
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Petarung, Bukan Pewaris
Zaman sekarang, istilah “privilege” sering dilempar buat ngecilin orang lain. Padahal, nggak semua sukses datang dari warisan keluarga; banyak yang lahir dari luka dalam dan perjuangan panjang yang bikin capek jiwa raga.
Beasiswa ke luar negeri, artikel di Oxford-Cambridge, dua PhD, sampe jadi dosen tetap di kampus top dunia—semua itu bukan gara-gara nama abah saya lho. Mereka bahkan nggak kenal siapa abah saya. Di dunia akademik global, yang dihargai cuma merit, kerja keras, dan integritas. Titik.
Saya lahir dari keluarga Kiai, ya. Tapi realita alam: yang belajar serius dan gigih pasti maju, entah santri biasa, Gus, Ning, atau siapa pun. Man jadda wa jada. Yang males? Ya stuck aja.
Beasiswa saya? Bukan titipan Kemenag atau lobi-lobi gelap. Saya perang mati-matian, jatuh bangun, baru bisa dapet beasiswa S3 langsung dari kampus Australia dan Singapura. Saingannya? Calon dari seluruh dunia, bukan cuma lokal.
Saya nggak nolak privilege—itu ada, dan harus diakui biar kita sadar ketimpangan sosial. Tapi pake itu buat ngebasmi perjuangan orang lain? Itu iri buta dan buruk sangka banget, mas bro!
Kunci sukses itu, pertama, kerendahan hati buat terus belajar meski udah tahu banyak, dan, kedua, keteguhan buat nggak nyerah walau pintu dunia keliatan nutup rapet. Dua hal ini nggak bisa diwarisin, harus dibangun sendiri cuy 🤣
Saya ini petarung tulen, bukan pewaris. Anda? Tukang nyinyir?
Komentar-komentar merendahkan, bahkan melecehkan, seolah bilang: “Santri? Kolot, kampungan, mana bisa tembus internasional. Kalo ada yang sukses, pasti anomali doang—atau karena lo Gus dengan jalur VIP.”
Mereka nggak tahu: banyak santri biasa (bukan Gus/Ning) lagi ngajar di Jerman, Amerika, Belgia, Kanada, Jepang, dst. Belum lagi ratusan santri yang rebut PhD lewat beasiswa dengan susah payah.
Kebencian dan kurang wawasan lo jangan dipamerkan di depan umum. Lo lagi ngejek akal sehat lo sendiri, lho 😏
Santri-santri, ayo gaspol maju dengan senyum dan doa. Balas caci maki dengan prestasi nyata 👍👏
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kader Banser yg orasi gorak-gorok selayaknya meminta maaf. NU didirikan para kiai bukan untuk membiasakan kekerasan ato menang-menangan, tp untuk akhlak, tradisi, pendidikan dan perlawanan kolonial.
Jurnalisme itu bukan cuma soal konten yg disajikan. Nilai-nilai jurnalistik juga bergantung pada narasi yg dibangun di balik sebuah konten.
Sekuat apapun fakta sebuah konten, tapi ketika narasi yg dibangun tidak aktualitas, itu namanya propaganda. Dan itu tai!
Tau tai, ga?
1. Apasih hukum mencium tangan para kiyai, orang Alim, orang soleh, orang zahid dll dari ahli ahkirat?
Jawabannya sunnah.
Bahkan mencium KAKINYA dan KEPALANYA sama seperti hukum mencium tangannya yaitu sunnah.
Masalah mau diamalkan atau tidak mencium kaki, itu masing-masing. Namun IMAM NAWAWI Tegas dan jelas menuliskan ini di kitab Majmuk nya.
2. Apasih hukum berdiri saat orang Alim atau org solih datang ?
Jawabannya sunnah.
Berdiri disini untuk memuliakan, bukan untuk riya dan mengagungkan makna I'dzhom.
3. Apasih hukum mengunjungi org solih, org Alim, Ahli Khoir, kerabat, kawan, jiren.
Hukumnya sunnah.
Bahkan Syekh Utsaimin, ulama wahabi, membolehkan.
Ini ada Foto kitab Al-Majmuk Imam Nawawi dan Syekh Utsaimin.
TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL
Menjelang Hari Santri Nasional, @TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiai—khususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung.
Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar “salah tayang.” Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers — ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren.
Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang.
Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhana—jauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat.
Saya menangis menonton tayangan itu.
Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri.
Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh.
Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai — ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren.
Salam penuh duka dan amarah,
Nadirsyah Hosen
Xpose Uncensored @TRANS7 ingin nembak fenomena pesantren, yg ditampilkan video personal KH. Anwar Manshur, ga ada keterangan samsek soal video. Jgn berhenti di permintaan maaf, proses hukum, jgn normalisasi perbuatan korporasi gini. Bukan keluarga, jgn diselesaikan kekeluargaan!