Apesnya Kelahiran 1998 di Indonesia
1998 : Baru lahir, negara lagi chaos.
2010 : SMP, kurikulum ganti. “Adaptasi ya nak.”
2013 : SMA, kurikulum ganti lagi. “Sabar ya nak.”
2016 : Lulus SMA, saingan kuliah kayak rebutan sembako.
2019 : Timeline panas, politik dimana-mana.
2020 : Mau lulus / kerja. boom, pandemi. “Di rumah aja.”
2022 : Dunia buka lagi, harga-harga ikut naik duluan.
2024 : Umur 26, belum mapan tapi udah ditanya nikah.
2025 : Quarter life crisis tanpa notifikasi.
2026 : Dunia ribut lagi, Iran vs Israel & AS. Minyak naik, hidup makin mikir.
Kesimpulan:
Kita nggak pernah hidup di zaman “normal”.
Baru mau stabil, selalu ada plot twist.
Generasi 98 bukan lemah.
Cuma capek adaptasi terus 😅
Bahayanya viral based policy adalah.. ya itu: kalo nggak viral nggak akan diapa-apain.
Seperti bencana di Sumatera. Nanti kalau udah reda, nggak viral lagi.. ya udah. Nggak akan diapa-apain. Dilanjutin lagi ngerusak alamnya 😢😢
442 dead and 402 missing.
What happened across Sumatera was never just nature. These are symptoms of systemic wounds, and it demands structural repairs. Nothing less.
My deepest condolences to all families affected.
May recovery come swiftly.
Selain Pak Sumardji (yg diberitakan banyak media), gak ada satu pun pihak dengan otoritas yg mempertanyakan starting line-up Kluivert.
Kluivert harus diminta keterangan, justifikasi apa dia pake starting line up kaya kemarin.
Buruh paling hiprokrit adalah buruh elit perkantoran. Gak ikut demo dan memperjuangkan kepentingan buruh tapi ikut menikmati libur dan fasilitas hasil keringat dri demo buruh lapangan.
Sedih banget ngeliat Indonesia hari ini. Sebagai rakyat gak ada harganya selain cuma buat lumbung suara. Diperas habis2an dan disepelein.
Semoga rezim sekarang dan para influencer yg terlibat ke keadaan sekarang, membusuk di neraka. Gue bersaksi kalian orang dzalim.
Bang @FaisalBasri adalah penjaga dan pemandu kewarasan dalam perapektif ekonomi kita. Hari ini, ia berjalan duluan meninggalkan kita dlm perjuangan dgn kondisi saat ini. Selamat jalan Bang, cepat atau lambat kita semua akan menyusul. Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun.
Yang bilang “Eh kenapa lo ikut2an? Itu kan pilihan elo” mending tutup mulut.
Kita butuh sebanyak2nya pasukan. Orang mau merapatkan barisan kok malah didorong menjauh?
Mau menangin Bangsa atau mau menangin ego?