Dan barangkali begitulah luka bekerja: ia tidak selalu datang untuk menghancurkan, kadang ia tinggal diam di dalam dada, menjadi ruang kosong yang bentuknya menyerupai seseorang.
Jadi, berpisah memang berbeda dengan selesai, bukan?
Rembulan akan tetap datang dengan cahaya yang sama. Angin akan tetap membawa bau asin yang pernah singgah di rambutmu. Tetapi aku tidak akan lagi menjadi seseorang yang berdiri di sisimu saat semua itu terjadi.
Yang paling menyakitkan dari perpisahan bukanlah kehilanganmu saat itu juga, melainkan menyadari bahwa setelah malam itu, aku tetap akan melihat banyak hal yang mengingatkanku padamu, sementara aku tak lagi punya hak untuk kembali. Laut akan tetap berisik seperti malam itu.
Dan hari ini, semua yang pernah terasa hidup itu resmi menjadi kenanganโbukan karena sudah sembuh, melainkan karena tak lagi diberi tempat untuk tinggal.
Dan balon itu terbang, pergi ke mana saja, membawa sisa napas yang pernah kami tiup bersama. Ke pantai, ke gunung, ke kota, ke hutanโke tempat-tempat yang tak akan pernah tahu bahwa di dalamnya pernah ada harapan yang kami isi dengan hati-hati. Ia terus melayang, tak pecah,
sebab memang tidak ada amarah di sana. Yang ada hanya sesak yang terlalu penuh untuk disebut marah. Kami melepas waktu dengan tangan gemetar, melihatnya menjauh sedikit demi sedikit, sampai tak lagi bisa dipanggil pulang.
Daun yang gugur selalu tahu caranya ikhlas kepada angin. Ia tak pernah mempersoalkan kenapa harus dilepas, tak pernah bertanya kenapa bukan dahan lain yang dipertahankan. Ia hanya jatuh, diam, lalu berserak. Menunggu diinjak, disapu, atau perlahan melebur menjadi tanah.
memandangi purnama yang tertutup kabut, seolah langit pun tak sanggup menatap kami terlalu lama. Malam itu bahkan bintang-bintang enggan hadir; mungkin mereka tahu ada perpisahan yang terlalu sunyi untuk ditemani cahaya.
Parasmu yang manis justru menjadi luka yang paling rapi. Semakin lama dipandang, semakin besar kehilangan yang harus kutelan. Kami meremas rasa yang sedikit demi sedikit hancur di tangan sendiri. Lalu dalam sekejap, kami saling mendekapโbukan untuk memiliki,
melainkan untuk mengingat bagaimana rasanya nyaris menjadi segalanya bagi seseorang, sebelum akhirnya kembali menjadi tidak apa-apa. Nostalgia datang seperti arus yang hangat, lalu lenyap menjadi asap yang tak bisa digenggam. Kami rebah di atas batu-batu halus,
walau sama-sama tahu bahwa segala yang sedang kami genggam tak akan pernah berujung pada keutuhan. Ada hal-hal yang tumbuh sangat dalam, hanya untuk dibiarkan hidup tanpa masa depan.
Di bawah rembulan yang pucat, jemari kami saling bertaut seakan takut kehilangan arah. Tubuh bergerak perlahan mengikuti irama desir yang terasa seperti kutukan. Perasaan itu masih utuh, atau mungkin justru terlalu utuh hingga menyakitkan. Kami saling menguatkan dalam diam,
Seru air laut bergerak naik turun, seperti ingin mengulang sesuatu yang tak pernah sempat utuh. Ia memanggil kami di tepi pantai yang berantakan, seolah hanya tempat semrawut seperti itu yang pantas menjadi saksi. Desir pasir terdengar pelan, nyaris seperti bisikan terakhir,