Al Qur’an adalah buku petunjuk untuk Muslim supaya punya pegangan dalam hidup di dunia yg acakadut ini. Sedangkan otak manusia itu secara fisik relatif terbatas, mau pinter mentok pun. Overthinking dikit bisa psikosomatis. Jadi ya biar gampang hidup, ikutin aja buku petunjuknya.
Lebih memilih untuk membaca, bergerak, mengalami, refleksi. Gitu aja terus buat self-improvement, karena pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Kalo pun harus dengerin orang ngomong ya cuma sekedar buat tau point view mereka sama mengendalikan ego.
Sepengamatanku dalam hidup ini, jarang sekali ada orang yang termotivasi oleh orang lain, buat subsequent and prolonged action. Yang bisa menggerakkan seseorang itu ya dirinya sendiri, bukan orang lain apalagi hanya lewat kata-kata. That’s why I rarely listen to podcasts.
Inilah.. aku tahu ada yang namanya Part of Speech pas les bahasa di Sanata Dharma. Kok ya nggak diajarin pas SD-SMA wi lho di kurikulumnya. Guru2nya malah ngebully bocah2 yang kesusahan belajar bahasa asing ini. Ckckck
EMANG PALING BENER TUH BELAJAR GRAMMAR BUKAN DARI TENSES TAPI MULAI DARI PART OF SPEECH
TERNYATA KUNCI PAHAM SEMUA ATURAN GRAMMAR ITU TUH DIMULAI DARI SINI GUYS!‼️
setelah berita bencana, perayaan kemerdekaan nirempati yg jauh dari kata merdeka, tiba2 liat salah satu org yg lagi dicancel muncul diundang podcast 🫠
I know kalo dia memang anaknya politisi partai kuning, makanya ga pernah nunjukin stance politiknya
but I should’ve known that being neutral and silence means he’s been and always on the other side of us
loved your podcast tho, but sorry, guess I should put you on the blacklist too :)
Ini pun juga karena institutional governance yang lemah.. sebuah bottleneck negara yang pingin maju, membuat ketimpangan ekonomi tinggi, orang kaya yang serakah, industrial policy yang tidak jelas, human productivity rendah. Dan awalnya.. karena pendidikan/literasi yang rendah.
Apa mungkin karena awalnya ketimpangan yang jauh ini makanya orang kaya terutama OKB makin serakah karena ga mau jatuh ke kelompok rentan miskin apalagi miskin.
Segala KEBODOHAN desil-desilan ini mengungkap kebenaran sesungguhnya, masalah kita itu bukan ketimpangan sosial, tapi miskin.
Kita tuh ya masih miskin banget. Mayoritas anggota desil 10 pun masih struggling.
Ketimpangan bukan masalahnya. Percuma tidak ada ketimpangan kalau semua orang sama sama miskin. Masalah yang sesungguhnya adalah orang ga punya uang. Ga punya sekolah, ga punya rumah layak, ga punya transportasi layak, ga punya udara layak yang layak dihirup, ga punya pekerjaan dengan gaji besar. Tidak ada uang untuk membeli semua itu.
Solusinya, uangnya ya harus diciptakan. Pabrik diciptakan, kemudian menghasilkan uang dan lapangan kerja dan gaji, kemudian uangnya diputer, diinvestasikan lewat program dan insentif pemerintah jadi pabrik baru lagi dan jadi sekolah, rumah sakit, pelabuhan, hukum, suplai listrik dan air PDAM murah dan melimpah.
Dulu zaman PKI/UUPA kita pernah mengalami KEBODOHAN raksasa desil-desilan yang sama. Ada banyak petani ga punya lahan sawah cukup buat hidup. Solusinya, menurut PKI, adalah curi lahan punya orang lain. Kemudian malah memicu kemarahan, konflik sosial meluas, genosida, orang berjalan memakai kalung dari kumpulan telinga manusia.
Masalah utama dari kesalahan berpikir PKI ini adalah, kalo dihitung secara matematis, produksi beras di Jawa tuh literally ya memang ga cukup buat ngasih makan populasi Jawa. Populasinya literally kebanyakan.
Dikira kalau beras yang ada dibagi rata secara komunis, semua orang bisa makan, padahal BERASNYA GA ADA. BERASNYA. GA. ADA. LUMBUNGNYA KOSONG. Apa yang mau dibagi rata?
Solusi yang akhirnya berhasil adalah, ya, produksi lebih banyak beras dengan mesin dan pupuk kimia dan pencetakan sawah raksasa dan pelatihan massal petani dan pengadaan truk dan irigasi dan jalan logistik, dalam jumlah berlipat-lipat bahkan berpuluh-puluh kali lipat. Repelita I melakukan ini dan berhasil.
Partai Komunis China, setelah ideologi desil-desilan mereka memicu kelaparan raksasa yang membunuh puluhan juta orang ("ups wkwk"), belajar dari sini. Lupakan desil-desilan. Dilarang bahas desil-desilan lagi untuk selamanya. Tangkap orang tolol yang berusaha buka kesalahan desil-desilan ini lagi. Sosialisme mereka all in full produksi: supaya rakyat kaya, ciptakan lebih banyak beras, ciptakan lebih banyak rumah, ciptakan lebih banyak mobil. Produksi, produksi, produksi sampai semua murah berlimpah bahkan kebanyakan.
Kalau ini butuh memajaki oligarki secara gila-gilaan supaya negara punya uang buat kebijakan industri dan membangun infrastruktur dan sekolah, pajaki. Kalau ada oligarki serakah yang berusaha memanipulasi harga dengan sekongkol membatasi produksi, tangkap. Kalau cara paling cepat adalah membiarkan orang mencuri hak properti intelektual, curi dan terabas. Kalau orang yang hak properti intelektualnya dicuri kemudian marah dan membuat kegaduhan, tangkap.
Btw kalo ga ada Pak Habibie, Indonesia apakah akan lebih keterbelakangan di bidang teknologi atau sama saja ya? Zaman sekarang ada LPDP, jaman dulu ada beasiswa dari hasil manajemen beliau dimana orang2 pintar dikirim ke segala penjuru negara maju buat belajar saintek.
Momen awal Pak Habibie dianggap sebagai orang paling pintar di Indonesia oleh semua kalangan.
Sampe ada anekdot anak - anak kalo ditanya. “Pas besar mau jadi apa?”
Jawabnya “pengen jadi org cerdas kayak Pak Habibie yg berguna buat bangsa dan negara”
Ya ampun kasian bener ternyata ibunya Maruko.. dia curhatnya ke siapa ya, biasanya anak perempuan cewek yang jadi tempat curhat di keluarga macem begini
ibunya Maruko tuh kasian ya, udah mah ngurusin semuanya sendirian, ngurusin Maruko yang plenger, punya suami pemabuk bahkan depan anak mabuk-mabukan, tinggal serumah bareng mertua, omongannya jarang didenger suami lagi hmm
ada scene ibunya Maruko ini kasih nasehat ke suaminya jangan minum2 waktu makan malem (lagi makan bareng sekeluarga di meja makan) belum kelar beliau ngomong udah dibantah sama si suami itu. LAAHH.
terus emaknya suami ini langsung nimpal kalau omongan istrinya itu ener baru deh tuh laki nurut. 👎🏻
MAN IC akhirnya jadi sisa-sisa kegagalan Habibie.
Habibie gagal. Industri-industri Indonesia dibubarkan krismon. Deindustrialisasi raksasa menggagalkan penciptaan lapangan kerja, sehingga ekonomi informal miskin yang ketergantungan bansos mendominasi.
Yang tersisa hanya MAN IC, yang generasi mudanya diharapkan Habibie bisa berjuang dan berhasil di mana Habibie gagal.
Harapan terakhir Habibie.
Kalau 1 Habibie gagal, barangkali Indonesia perlu memproduksi 1000 Habibie dulu.
Tebak-tebakan.
Meskipun secara resmi Muslim, Dia adalah praktisi kebatinan Jawa (Kejawen) yang serius sejak remaja.
Di usia 14 tahun, saat tinggal di Wonogiri, ia menjadi murid Romo Daryatmo, seorang dukun dan penyembuh mistik. Ia membantu menyiapkan kopi pagi sang guru, menulis resep herbal, dan belajar ilmu batin.
Sepanjang hidupnya, bahkan sebelum dan sesudah menjadi presiden, ia rutin bertapa di tempat-tempat keramat: Gunung Lawu, Gunung Selok (Cilacap), Gua Semar, Gua Jambe Lima, hingga Dieng.
Ia melakukan mati geni (puasa total), ritual penyucian, dan mandi di tempat-tempat yang diyakini berenergi spiritual.
Dalam otobiografinya, ia menekankan bahwa yang dilakukannya adalah “ilmu kebatinan” untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan klenik mencari kesaktian.
Banyak keputusan penting, termasuk yang menyangkut kekuasaan, dikabarkan melibatkan konsultasi dengan dukun atau petunjuk batin.
O.. o.. siapa dia?
@dohyunize iya 😭😭 bahkan buyutnya ini sampe gak ngajarin anak2nya bahasa korea, merasa dirinya orang jepang dan gak punya baju korea. bener2 pro jepang mentok. kalo mau baca lengkapnya di sini https://t.co/UuBEq8PLW4
Tapi
“These findings were independent of abdominal and general obesity, lifestyle, and cardiovascular risk factors such as blood pressure and lipid concentration.”
doi: 10.1136/bmj.b3292
Di X, kira-kira ada dua kelompok pengguna.
Pertama, mereka yang menggunakan identitas asli, nama dan profil yang memang bisa ditelusuri. Bisa figur publik, bisa juga orang biasa. Karena identitasnya melekat pada dirinya, umumnya mereka lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Tetap bisa sangat kritis, tetapi relatif jarang menggunakan makian atau serangan personal. Tentu ada pengecualian, tetapi tidak dominan.
Kelompok kedua adalah akun anonim atau pseudonim. Ada yang memakai nama samaran, ada pula yang menggunakan foto atau identitas yang tidak mencerminkan diri sebenarnya. Perlu ditegaskan, anonim bukan berarti salah. Tidak ada aturan di X yang melarangnya. Bahkan banyak akun anonim yang justru menghasilkan konten edukatif, riset yang baik, atau diskusi yang berkualitas. Yang seperti ini tentu tidak menjadi masalah.
Namun, dalam psikologi sosial ada konsep online disinhibition effect yang diperkenalkan oleh John Suler. Ketika identitas seseorang tidak mudah dikenali, rasa akuntabilitas cenderung menurun. Orang menjadi lebih berani mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan mereka ucapkan dalam interaksi tatap muka.
Fenomena ini juga sejalan dengan teori deindividuation dalam psikologi sosial: ketika identitas pribadi menjadi kabur di dalam kerumunan atau ruang anonim, kontrol diri dapat melemah sehingga perilaku agresif lebih mudah muncul. Tentu ini bukan hukum yang berlaku untuk semua orang, melainkan kecenderungan yang ditemukan dalam banyak penelitian.
Karena itu, jika berhadapan dengan akun anonim yang isinya hanya makian, penghinaan, atau tidak mau berdialog, sering kali pilihan paling bijak bukan meladeni. Cukup report, mute, atau block. Energi kita lebih berharga untuk percakapan yang memang masih terbuka bagi pertukaran gagasan.
Catatan, pembagian ini juga tidak memasukkan akun-akun buzzer yang memang bekerja secara profesional atau dibayar untuk menjalankan agenda tertentu di X. Dinamikanya berbeda karena perilakunya tidak semata-mata dipengaruhi anonimitas, tetapi juga oleh insentif politik, ekonomi, atau organisasi. Begitu pula dengan fenomena CenBlue yang belakangan muncul. Itu juga memiliki karakteristik tersendiri dan menarik dibahas secara terpisah.
Kalau menurut kalian, pengalaman di X lebih banyak bertemu akun anonim yang produktif atau justru yang agresif?
Kayaknya reaksi si dokter lebih karena sistem yang belum sempurna dan bikin nakes sering kewalahan. Ga pake BPJS aja kerja di pelayanan di Indonesia itu melelahkan.
Orang dengan sumbu pendek dan nirempati mending ga usah kerja di sektor ini.
apa kata gitasav soal kasus nakes nirempati ini:
- katanya menurut dia (burnout) ini karena banyak banget manusia (bukan cuma dokter) yang classist
- dia bilang class consciousness-nya enggak ada jadi org liat org miskin kayak geleuh banget bahkan dianggep kayak a crime (kesalahan)