Lagi baca Das Kapital for Beginners. Baru beberapa bab, tapi ada satu konsep yg bikin aku jadi kepikiran sama angka-angka di slip gaji.
Di buku ini dijelaskan konsep yg disebut nilai lebih (surplus value).
Intinya begini.
Menurut Marx, perusahaan membeli tenaga kerja, bukan hasil kerja itu sendiri.
Tenaga kerja kemudian bisa menciptakan nilai yg lebih besar daripada nilai tenaga kerja tersebut. Selisihnya itulah yg disebut nilai lebih.
Yang menarik, Marx nggak membahas ini sebagai cerita tentang bos baik atau bos jahat.
Kontrak bisa sah.
Gaji dibayar tepat waktu.
Nggak ada yg kelihatan curang.
Tapi dia mengajak kita bertanya: kalau semuanya terlihat adil, bagaimana surplus itu bisa muncul?
Entah nanti aku setuju atau nggak sama seluruh isi bukunya. Aku masih baca pelan-pelan. *Baru kenal buku juga ππ»
Tapi sekarang aku mulai paham kenapa Das Kapital masih dibahas lebih dari satu setengah abad setelah terbit.
Bukan karena semua orang setuju, tapi karena Marx mengajak kita mempertanyakan hal-hal yg sebelumnya terasa begitu wajar.
Buat yg pernah baca Das Kapital atau buku pengantarnya, konsep apa yg paling nempel di kepala kalian?
@LambeSahamjja UU 37/2008 udah jelas. Ombudsman boleh investigasi dadakan tanpa pemberitahuan, justru biar ga sempat "dirapihin" dulu. Nah kalau alasannya sekarang cuma soal surat tugas belum sampai, ya jgn salahin rakyat kalau makin curiga sama apa yg terjadi di balik pagar lapas.
Coba itung: pedagang modal 7rb, resiko rugi kalau dagangan sisa, jam kerja dari subuh.
Tukang parkir modal nol, resiko nol, kerja beberapa detik doang. Ini bukan soal cemburu profesi, tp emang timpang banget struktur untungnya.
Kalian ngerasain hal yg sama di daerah kalian?
73 akun dilaporin ke Bareskrim gara-gara sebar video deepfake soal larangan buka kios dalam radius 2 km dari KDMP.
Videonya emang dibuat pakai AI, itu benar. Tp video bohong nggak akan nyebar cepat kalau nggak nubruk sesuatu yg udah dipikirkan orang duluan.
Anggota Komisi VI DPR sendiri, bulan Juli lalu udah minta Kementerian Koperasi perjelas fungsi KDMP.
Aturan turunannya belum tegas, apakah koperasi ini boleh jualan langsung ke warga kayak minimarket, atau cuma jadi distributor yang masok ke warung kecil. Kalau nggak diperjelas, KDMP berpotensi mematikan toko kelontong.
Pedagang di lapangan juga udah lebih dulu ngomong. Pemilik warung di Kudus bilang ke media, dia ngerasa keberadaan koperasi desa nambah beban persaingan di tengah warung yg udah berjejalan.
Jadi waktu video deepfake soal larangan KDMP dalam radius 2 km itu beredar, dia nggak nyiptain ketakutan baru, tp numpang di pertanyaan yg emang slma ini belum dijawab tuntas. DPR udah tanya, pedagang udah mulai resah, tapi belum ada kepastian.
Lapor akun penyebar hoax mah gampang. Yg lebih susah dari ini tuh menjawab pertanyaan soal nasib warung kecil yg udah ditanya dari bulan Juli lalu
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai larangan mendirikan kios atau toko kelontong dalam radius dua kilometer dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Narasi yang beredar tersebut merupakan hoaks dan tidak pernah disampaikan olehnya.
"Pernyataan menyesatkan ini diunggah di TikTok dengan akun PETUNG dan akun lainnya, saya tidak pernah memberikan pernyataan itu, oleh karenanya masyarakat jangan percaya dengan informasi menyesatkan dan tidak berdasar itu," kata Yandri dalam keterangannya Jumat (31/7/2026).
https://t.co/GDfQEnLeXX
Bagian yang menarik dari cerita Bilal Hasan.
Dua minggu sebelumnya dia baru saja tampil di Contender Series dan langsung dikontrak UFC karena performanya, lalu naik lagi di Shanghai dan bikin KO kedua beruntun.
Rentang waktu itu yg jarang disorot orang, dari audisi ke panggung utama cuma butuh dua minggu, dan dia langsung menang lagi di sana.
π POLDA METRO JAYA DALAMI ISU KETERLIBATAN GRIB JAYA
Polda Metro Jaya tengah mendalami isu keterlibatan pimpinan GRIB Jaya dalam kericuhan aksi unjuk rasa 27 Agustus 2026.
Hingga kini, pihak GRIB Jaya disebut belum memberikan respons resmi terkait kabar tersebut. Publik menanti hasil penyelidikan dan kepastian berdasarkan fakta serta bukti yang terverifikasi.
@zhil_arf Begitu preman babak belur, negara nggak mau ribut ngurusin orang yg tadinya dia sendiri sewa buat kerja kotor. Itu hukum yg sengaja nutup mata krn posisinya juga nggak enak buat dibela di depan publik wkwk
@shifanistt Ilmu baca kontrak/perjanjian sebelum tanda tangan. Banyak orang baru sadar ada klausul yg ngerugiin setelah masalah muncul, padahal semua udah tertulis jelas dari awal
Ada yang menjadikan "fokus ibadah" sebagai alasan utk berhenti bekerja. Alasannya sama terus, nggak punya modal katanya.
Dari situ biasanya ia bukan mencari jalan keluar, tapi mencari orang. Berharap ada si kaya lalu memberi, ada pejabat yang membantu, ada siapa saja yg bisa jadi jalan pintas dari masalah ekonominya sendiri.
Lama-lama yg dicari bukan lah cara untuk mandiri, tp orang yang bisa dimintai tolong.
Yang lebih menyedihkan, sebagian sampai menempatkan diri sebagai penjilat orang kaya dan pejabat. Mendekat bukan karena hubungan yg wajar, tapi krn berharap ada sesuatu yang bisa jatuh dari kedekatan itu.
Padahal dalam Al-Qur'an, tawakal justru ditempatkan setelah ibadah, bukan sebagai gantinya.
Setelah perintah salat Jumat, ayatnya lanjut begini: "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10)
Urutannya jelas. Ibadah selesai, manusia disuruh bergerak lagi, bukan duduk menunggu.
Ikhtiar dan ibadah ditaruh berdampingan, bukan utk dipertentangkan.
Nabi ο·Ί bahkan punya cara bicara yg keras soal ini.
Dalam hadis riwayat Bukhari, disebutkan bahwa seseorang yang mengambil tali, mencari kayu bakar, memikulnya sendiri, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, itu lebih baik daripada mendatangi orang lain utk meminta, diberi atau ditolak sekalipun.
Bukan berarti semua orang miskin boleh dicela. Bukan juga setiap orang yg minta bantuan berarti malas. Ada yang memang sakit, kehilangan pekerjaan, terlilit utang, kena musibah, atau berada di kondisi yg benar-benar butuh pertolongan orang lain.
Masalahnya itu ketika kemalasan dikasih nama tawakal. Ketidakmauan berusaha diberi nama zuhud. Ketergantungan ke manusia dianggap jalan hidup yang wajar.
Tawakal bukan berarti duduk menunggu rezeki datang sendiri. Tawakal itu menyerahkan hasil ke Allah, setelah sebab-sebabnya sudah dikerjakan semampu yang bisa dikerjakan.
Nggak punya modal memang masalah nyata. Tapi nggak punya modal bukan berarti nggak punya ikhtiar sama sekali. Bisa mulai dari tenaga, dari keterampilan yang ada, dari pekerjaan kecil yang kelihatannya nggak seberapa, dari belajar hal baru, dari bantu-bantu orang dulu sebelum dapat sesuatu yang lebih besar.
Rezeki memang urusan Allah, tapi manusia tetap yg disuruh mencarinya. Yg perlu ditakuti mungkin bukan sekadar hidup susah, justru yg lebih berbahaya itu ketika kesusahan dijadikan alasan untuk berhenti berusaha, lalu pindah ke menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, dan menggantungkan hidup ke orang lain.
Mengadu ke Allah itu wajar, itu tempatnya.
Minta tolong ke manusia saat benar-benar butuh juga bukan dosa.
Tapi menjadikan manusia sebagai tempat bergantung, sementara usaha sendiri sengaja ditinggalkan, itu persoalan yg berbeda.
Jangan sampai sibuk mencari siapa yg bisa kasih makan, sampai lupa bahwa diri sendiri juga diperintahkan untuk berusaha mencari rezeki.
Allah yang menentukan hasilnya, sedangkan tugas manusia adl beribadah, berusaha, menjaga kehormatan diri, dan tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas.
Menerima takdir bukan berarti berhenti bergerak. Tawakal bukan lawan dari ikhtiar.
Tawakal adalah jalan setelah ikhtiar.
Dengar istilah gaslighting dari klip 40 detik, tiap konflik langsung dicari labelnya. Lihat harga naik, langsung disimpulkan demand shock.
Padahal tahu istilahnya bkn berarti paham mekanismenya. Kita cuma hafal nama konsepnya duluan, sementara konteks kapan konsep itu berlaku malah belum dipahami
Fenomena paling bahaya zaman sekarang tuh bukan hoax, tapi half-truth yang dikemas pakai terminologi ilmiah. Orang merasa paling paham masalah psikologi, ekonomi, atau politik cuma karena udah apal 3 istilah keren di TikTok, padahal cuma megang 5% konteksnya.