Bagiku, ini makanan terenak.
Beli mie, ternyata Simbok masih melek. Pas ditawari bilang, "Gelem".
Lalu Simbok makan dulu sampe kenyang, lalu aku makan sisanya.
Rasa mienya biasa aja.
Tapi rasa dalam hati ini bener2 mengandung apa yg diajarkan beliau yg mengandung ❤️
Suatu kali, circa 2000'an, seorang yg aku anggap sebagai jenius musik di Madiun, sering nyewa studio sendirian, bukan buat latihan. Selama 1 jam, dia cuma memainkan bunyi2 gak jelas selama -/+ 1 jam. Pas aku tanya, "Itu tadi ngapain, Mas?".
"Ngumbar feeling", jawabnya.
Dan kalau dari yang aku tanya ke google, dan dijawab pakai AI, jawaban dari ciri era romantis adalah "gerakan seni dan budaya yang lebih mengutamakan ekspresi emosi, imajinasi, dan intuisi di atas logika".
Sangat relevan dengan karya 2 nama yg aku sebut tadi.
Dan brengseknya, barusan aku nonton film random, judulnya 'Sayuri (House of Sayuri)'. Genrenya horor Jepang. Setelah film selesai, kok aku gak kerasa horornya, malah mikir,
"Cok.., iki film romantis yang benar".
Lalu kenapa di awal tulisan ini aku tulis soal romantis, adalah ternyata 2 nama yang aku sebut di atas, Franz Peter Schubert & Rachmaninoff, adalah 2 nama yang hidup & berkarya di era Romantis.
Tanpa aku tau eranya, tapi ternyata memang 2 nama itu yg lebih sering aku dengar..
Romantis tidak pernah tidak kompleks.
Ini adalah hasil refleksi beberapa minggu ini. Dirangkum dari apa yang aku serap sejak pembicaraan yang, sebenarnya, berawal dari omong kosong antara aku dan temen diskusiku di musik, Bagus Tandayu.
Ya dengan latar belakang musikal otodidak, seumur-umur, aku baru paham kalo ternyata nama-nama musisi yang dulunya aku generalisasi sebagai musisi 'klasik', itu ternyata beda era, seperti bahkan Bach dan Handle itu ternyata dari beda era. Dan karakteristiknya beda.
Nama yg pertama aku sebut sebagai 'klasik', adalah Franz Peter Schubert & Rachmaninoff. Dan akhirnya, si Bagus yang emang guru piano ini, langsung share tentang fase-fase era musikal. Mulai Pertengahan, Renaisans, Barok, Klasik, Romantik, dan Modern Kontemporer. Dan, wow..
Awalnya aku bikin sketsa karya yang ingin menggabungkan beberapa matra seni, dan dikemas dalam seni pertunjukan. Dan aku menyebut secara asal, "Nah, aku pinginnya musiknya lebih ke klasik".
Sampai di kata 'klasik', langsung diinterupsi oleh Bagus, "Sik-sik, klasik sing piye?"