Halo teman teman, perkenalkan saya Arya Nayaka keponakan dari Arya Daru Pangayunan diplomat muda yang meninggal secara tidak wajar di kostannya pada hari selasa kemarin (08/07/2025) saya disini ingin mengajak kalian semua untuk bersama sama meramaikan tagar #JusticeforDaru
Mbah, tahu nggak? Merasa asing di tempat yang seharusnya tidak diasingkan itu aneh kan? Begitulah baiknya hati nurani. Meskipun bertentangan logika, tetap saja ingin berbuat baik. Asal tidak tutup mata dan tenggelam di lautan yang tidak semestinya.
Ternyata ada ya, harusnya bisa dikerjakan mandiri malah telpon orang lain buat hal yang sebenarnya itu nggak penting-penting amat. Bisa nggak sih, dikit-dikit nggak usah repotin orang lain. Dan kamu, bisa nggak sih nolak karena nggak enakan 😅
Mengejar Mahkota, Melupakan Fitrah
Ada tren yang makin terasa belakangan ini—para orang tua berlomba menjadikan anak-anak mereka hafiz Qur’an.
Bukan karena si anak menunjukkan minat,
tapi karena si orang tua merasa:
“dulu saya banyak dosa, tak paham agama, maka biarlah anak saya yang menebus semua itu. Kelak saya ingin mahkota di surga”.
Tapi benarkah surga bisa diraih lewat paksaan terhadap anak yang jadi kehilangan kesempatan tumbuh di masa golden age-nya? Benarkah potensi & minat mereka memang menghafal Qur’an?
Menghafal Al-Qur’an itu mulia.
Tapi menjadikannya ambisi pribadi
yang ditanamkan di pundak anak—
yang mungkin justru lebih tertarik pada sains, seni, atau pertanian—
bukan lagi ibadah, tapi kompensasi.
Anak-anak bukan mesin penebus masa lalu.
Mereka bukan lembar kosong
untuk menuliskan ulang mimpi-mimpi kita yang gagal.
Tak semua anak punya kecerdasan hafalan.
Dalam taksonomi belajar, hafalan itu level dasar.
Di atasnya: pemahaman.
Lalu penghayatan.
Dan yang tertinggi: pengamalan.
Yang langka justru mereka
yang melakoni nilai Qur’an—meski tak hafal seluruhnya.
Sesuatu yang dipaksakan jarang bertahan lama. Gak cuma soal pasangan dan perasaan, tapi juga soal hafalan.
Apalagi jika sekadar ikut tren.
Setelah wisuda tahfiz, jika tak diulang dan dipahami,
ayat-ayat itu bisa lenyap seperti kabut pagi.
Islam itu luas dalam kehidupan.
Ia bisa hadir di ladang, laboratorium, kitab,
ruang gym, atau lensa kamera.
Ada banyak jalan menuju ridha-Nya.
Jangan kerangkeng anak-anak dalam satu jalur.
Biarlah mereka tumbuh sesuai fitrah dan jenis kecerdasannya (baca postingan sebelumnya soal 8 jenis kecerdasan).
Yang suka menghafal, biarkan menghafal.
Yang suka berpikir, biarkan memahami.
Yang suka bergerak, biarkan menghidupkan ajaran lewat tindakan nyata.
Al-Qur’an itu sudah pasti dijaga oleh Allah,
tapi akhlak anak-anak belum tentu terjaga.
Itu sebabnya Nabi diutus
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,
bukan untuk mewajibkan umatnya menghafal Qur’an.
Maka, mari kita fokus mendidik anak berakhlak Qur’ani,
bukan semata memaksa menghafal Qur’an demi ambisi orang tua.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Muwesti, lagi dan lagi. Tenaaang, tarik nafas panjaaang, hidup ini hanya permainan, oleh karena itu mari bermain dengan baik dan bijaksana. Thanks Allah sudah memberikan pelajaran berharga tiada tara.