Lucunya Negeri +62,
1. PAM = Perusahaan Air Minum... airnya gak bisa diminum
2. MBG = Makan Bergizi Gratis... gak bergizi dan gak gratis
3. IKN = Ibu Kota Negara... statusnya bukan ibukota negara
4. KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi... korupsinya malah makin merajalela
5. DPR = Dewan Perwakilan Rakyat... rakyatnya tidak terwakili
6. BPJS Kesehatan = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan... sehatnya tidak terjamin
7. PLN = Perusahaan Listrik Negara... listriknya sering mati
8. Pajak = katanya untuk rakyat... yang menikmati bukan rakyat
9. KRL = Kereta Rel Listrik... listriknya sering padam, keretanya tetap jalan padat
10. UMP = Upah Minimum Provinsi... minimumnya betul, tapi tidak cukup untuk hidup layak
11.
12.
13.
Apa lagi nih+62
"Ingatlah bahwa kita akan mati, memento mori".
Pas gue S1 ambil filsafat, pernah sekali di matkul Eksistensialisme kami semua disuruh menulis soal kematian. Gue cuma bisa nulis perihal betapa niscayanya kematian, bahwa karena kita fana maka kita harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang-orang yg kita cinta. Narasinya masih external-biased, gue lupa bahkan belum bisa memahami kematian untuk diri gue sendiri.
Kita sedih saat ingat bahwa orang-orang yg kita cintai suatu saat akan mati. Bahkan mungkin beberapa dari kita udah pernah mengalami fase grieving, kita jadi saksi atas kematian orang lain.
Tapi kita sering lupa, jangankan mereka... kita sendiri juga akan mati.
Kita sering pakai kepergian orang lain sebagai peringatan, tapi kita lupa menjadikannya sebagai cermin.
Kita lebih gampang menghadapi kematian orang lain karena kita bisa lihat itu semua dari luar, memprosesnya sebagai peristiwa yg terjadi pada dunia. Tapi kematian kita sendiri selalu di ujung cakrawala, justru karena itu paling mudah diabaikan.
Kita tuh lucu yah kadang... Kalo orang terdekat sakit, mungkin kita tiba-tiba jadi 'hadir'. Kita telfon mereka lebih sering, jengukin, kita ungkapin bentuk sayang tanpa ragu.
Tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, "kalo aku besok gak ada, apakah hari ini cukup begini adanya?"
Apakah cara gue hidup hari ini adalah cara yang akan gue setujui kalo gue tahu ini hari terakhir gue?
Apakah gue hidup dengan sadar, atau cuma gerak, nunda, menghindar, nunggu waktu yg "tepat" yg mungkin ga pernah dateng?
Kalo kita belanja ke supermarket, makin banyak yg kita beli makin lama kita di kasir. Hidup juga begitu ke kita. Whatever we do, we will pay for it.
Setiap pilihan yg kita buat, setiap hal yg kita ambil dan kita tinggalkan, setiap momen yg kita isi atau kita biarkan kosong -- semua itu membentuk antrian yg harus kita pertanggungjawabkan, bukan kepada Tuhan atau kepada orang lain, tapi kepada diri kita sendiri.
So, 'memento mori, memento vivere -- ingatlah kita akan mati, maka ingatlah untuk hidup'.
Semoga kita gak pernah lupa untuk hidup untuk diri sendiri, dan kapanpun kita harus duduk bareng kematian, semoga kita udah memahami apakah kita benar-benar sudah hidup untuk diri sendiri.
Jangan keras-keras sama diri sendiri ya? Jaga kesehatan jiwa dan raga selagi mereka masih bersama.
Gue dari kecil ada ART, ga pernah diajarin masak, gabisa masak, pemales betul.
27 tahun kemudian? Gue menemukan fakta, kalo masak itu HEALING.
Masak tuh cuma bentar, tapi berisiknya isi otak tiba tiba jadi pelan pas gue motong bawang.
Dopamin naik pas kelar masak, dan masakan gue enak.
Tapi sorry, kalo disuruh nyuci piring gue tetep bayar orang 😭
@tanyarlfes Duh dari jaman gue bisnis sampe skrg masuk di pemerintahan, pesen gue ga pernah berubah. Jangan pernah mau bisnis sama Pemerintah kalo mau bisnis lu lancar. Mau kerjasama dalam bentuk apapun, pembayarannya ga pernah jelas.