I used to think the most productive Muslims woke up at Fajr and grinded 12 hours.
Then I read how the Prophetﷺ actually structured his day. And I realised we've been copying the wrong people.
Mungkin pernah, kita rasa tidak tahu nak doa apa.
Bukan kerana sombong, tetapi kerana terlalu banyak.
Dosa kita banyak, hajat kita banyak.
Tetapi, 10 malam akhir Ramadan ini, janganlah tinggal doa ini.
Doa yang Nabi ﷺ ajar kepada Sy Aisyah RA untuk malam al-Qadr:
Rosak perkahwinan bila kita berkira. "Suami bukannya cacat, buatlah sendiri! Semua kita nak buatkan"
Essence of marriage: ihsan.
Berkahwin 6 tahun, saya perasan saya seronok bila dapat masakkan suami + anak (walaupun jarang sbb saya mmg jujur tak rajin)
As simple as making coffee/tea pun rasa seronok. Dan seterika baju suami.
Tapi bila bab drive, buang sampah, baiki benda-2 kat rumah, saya mmg harapkan suami. Bukan sebab saya cacat tapi sebab saya suka dia buatkan.
Kadang suami request nak makan benda simple macam telur kicap bila saya lama tak masak just because dia nak rasa 'air tangan'. Best tau bila suami kita cakap dia rindu masakan kita.
Wake up my generation. Pemikiran dalam tweet bawah sangatlah beracun.
P/s: Saya tetaplah aware mmg ada keadaan di mana isteri buat semua. Dari urus anak pergi sekolah, siapkan makan, suami cuma tahu semua siap. Tak amik tahu sangat hal anak/rumah. Semua atas isteri. I witness this and this is NOT right either.
Respect comes before love. Tinggalkanlah ideologi individualistik. Bila kahwin, kita kongsi hidup bersama.
Erti hidup pada MEMBERI. The joy of giving to your loved ones is one of the best feelings ever.
Ayat soal nikah yang berisi perjuangan mencapai sakinah.
Sering banget dapat undangan pernikahan yang mengutip surat ArRum ayat 21. Ayat ini juga yang menyebutkan konsep sakinah (kenyamanan), mawaddah (kasih), dan rahmah (sayang).
Tapi, kalau dibaca lagi, konsep sakinah di ayat ini tuh bentuknya kata kerja (fi’il) melalui kata “taskunu”, berbeda dengan mawaddah wa rahmah yang merupakan kata benda (ism) sebagai pemberian/anugerah dari Tuhan.
Apalagi “taskunu” itu bukan sekadar kata kerja, tetapi kata kerja yang berkelanjutan alias terus menerus. Future continuous tense. Kata kerja yang untuk masa sekarang dan masa depan.
Maknanya? Saya selalu berkata sama istri bahwa mari kita terus memperjuangkan sakinah. Pernikahan bukan berarti ketiadaan konflik, tapi sarana untuk belajar saling memahami dan mencari titik kenyamanan.
Bahkan, pernah dalam suatu konflik, saya bilang terima kasih sudah menunjukkan sisi-sisi baru yang bukan untuk dibenci, tapi justru membuat jatuh cinta kembali.
Semoga setiap dari kita terus ikhtiarkan ketenangan itu. Agar Allah senantiasa menyelimuti kita dengan kasih dan sayang.
“Jangan iri kepada seseorang atas nikmat yang diperolehinya, kerana kamu tidak tahu apa yang Allah ambil darinya. Dan jangan bersedih atas sebuah musibah, kerana kamu tidak tahu apa yang akan Allah gantikan untukmu. Maka selalu ucapkan Alhamdulillah.”
-Syeikh Mutawalli Sya'rawi
Cantik sangat doa ini :
Ya الله, sibukkanlah aku dengan kebaikan hingga aku lupa akan kesedihan dan jauhkan aku dari rasa malas hingga aku selalu bersyukur atas keberkatan.
Aamiin.. 🤲