Cara praktisnya:
1. Jangan langsung booking di app. Cek harga dulu, catat, jangan klik bayar.
2. Telepon hotel langsung. Bilang: “Saya lihat di Agoda/Traveloka harganya Rp XXX. Ada harga lebih baik buat booking langsung?”
3. Daftar loyalty program hotel yang lo suka (gratis).
4. Hotel chain besar? Cek website resmi mereka — banyak punya Best Rate Guarantee.
5.Hotel independen/boutique? Langsung WA atau DM Instagram. Lebih fleksibel.
Agoda sama Traveloka oke buat cari hotel, bandingin fasilitas, baca review, liat foto.
Tapi begitu lo udah fix mau hotel mana?
Tutup app-nya. Buka kontak hotel. Telepon.
2 menit. Satu kalimat. Bisa hemat Rp 300-400 ribu.
Temen gue spill ini ke gue. Sekarang gue spill ke lo.
Dan sekarang lo tau kenapa Agoda gak mau lo tau cara ini.
Teman gue beli Avanza 2019.
Harga 135 juta.
Murah dikit dari pasaran.
BPKB ada. STNK ada. Pajak hidup.
Nama di BPKB sesuai KTP penjual.
Semua keliatan beres.
Langsung deal. Langsung transfer.
@GenZ_grind nice post
tp paling simpel bt beli mobil 2nd sih bagusnya cek history service & 'general check' ke BeRes, krn setiap invoice transaksi di BeRes pasti tertera nmr rangka & nmr mesin kendaraan.
mobil 2nd tanpa history service BeRes yg jelas, SKIP aja
TAMPARAN TERAKHIR:
Lo pegang BPKB-nya.
Tapi gak diterawang.
Lo baca nomornya.
Tapi gak dicek ke sistem.
Lo lihat hologramnya.
Tapi gak diraba teksturnya.
Semua butuh kurang dari 5 menit.
Tapi di-skip.
Dan itu yang bikin 135 juta raib semalam.
BPKB palsu sekarang bukan kaleng-kaleng.
Kertas mirip. Hologram mirip. Tanda tangan mirip.
Mata telanjang gak akan ketahuan.
Tapi ada 3 hal yang selalu ninggalin jejak:
1. Serat kertas.
BPKB asli kalau diterawang — ada benang merah dan biru di dalam kertas.
Palsu: polos. Atau seratnya dicetak, bukan tertanam.
@flllowiee dibukain lapangan kerja lewat MBG, eh programnya diminta stop oleh orang-orang seperti akun ini, sambil tetap nagih lapangan kerja.
lu pada di pihak mana sih? kepentingannya apa? kok ga jelas? bikin konten biar invoice cair aja kah dan ga peduli keadaan Indonesia?
@2KangKomen@RecehinAjaid Gw pernah nanya langsung ke teller.. Napa sich pulpen harus dkabelin.. Ktnya kadang nasabah abis tanda tangan reflek dikantongin.. Kan bs dikasih tau lgsg.. Jawaban teller apik dan bijaksana... tidak mau membuat nasabah malu kalau ditegur makanya di kabelin
Kasusnya mirip sama korek gas mu yang sering hilang. Masalah utamanya bukan niat mencuri, tapi insting. Secara psikologis, tangan manusia memiliki refleks otomatis untuk memasukkan pulpen ke saku setelah tanda tangan.
Bank hanya mencoba menyelamatkan kita dari dosa yang tidak disengaja.