Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil.
Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect.
Anak kecil teriak dikit
"Gak diajarin ortunya ya?"
Anak kecil nangis
"Kok cengeng sih?"
Anak kecil slow to warm up
"Masih kecil udah introvert ya"
Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain
"Rewel ya ternyata"
Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
@bopo_jodhipati Sedih, anak2 putus sekolah bukan karena malas gak mau belajar. Tapi keadaan yg memaksa. Kurang bijak pemerintah ngasih BLT/MBG karena uang/makanan pasti habis, coba kalau dikasih lapangan kerja. Para orangtua ini lebih tenang menyekolahkan anaknya karena punya gaji perbulan😢
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Sujudku padaMu sering terburu-buru, padahal nikmatMu selalu beribu-ribu.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering lupa padaMu, padahal Engkau selalu ingat untuk membangunkanku setiap hari.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering meminta saat sesak, lalu lupa bersyukur saat lapang.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Lisanku sering ramai pada manusia, tapi sunyi saat menyebut namaMu.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering menunda taubat, seolah umur ini panjang dan pasti.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering takut kehilangan dunia, padahal yang paling layak kutakuti adalah kehilangan ridho-Mu.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering mengukur rezeki dengan angka, padahal berkahMu yang membuatnya cukup.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering ingin cepat dipuji, padahal aku lebih butuh Engkau menutup aibku.
Ya Allah Ya Robb, maafkan aku. Aku sering membandingkan hidupku dengan orang lain, padahal Engkau menakar ujianku sekemampuanku dengan penuh kasih.
New pre-release video for ‘EXO’s Ladder S5’ features EXO playing the Age Ladder game and role playing different ages 🪜😭
Oh Sehun (24) - Vet student
Kim Jongin (19) - Examinee
Doh Kyungsoo (15) - 8th grade
Kim Junmyeon (8) - Elementary student
Park Chanyeol (6) - Kindergartener
ORANG LUAR NEGERI KE INDONESIA
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for a Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Hi, you're late to the online meeting."
"Sorry, it's 2 AM here. I have to adjust my schedule."
"Where are you now?"
"I stay in Bali now. It's cheap, the living cost is only a tiny fraction of my salary. I can save A LOT, and by A LOT I mean A LOOOOT."
"Wow, you don't need a work visa for that?"
"I just stay in my room. No one knows that I am working. As long as the internet works."
"Local tax?"
"No, I am on a tourist visa."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Kuala Lumpur? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"Having a nice vacation? You stayed a whole two months."
"Yeah, my visa is almost expired, so I have to leave."
"Bangkok? Must be another vacation."
"Yes, only for three days, I will be back again after that."
***
"Hello, where are you from?"
"I am from the US."
"What are you going to do here?"
"Vacation."
"Great, you just need to pay IDR 500,000 for the Visa on Arrival."
"Here."
"Have a nice vacation."
***
"It's been almost two years since you stayed in Bali, how is it?"
"Amazing, cheap, and tax-free!"
ORANG INDONESIA KE LUAR NEGERI
"Halo mbak, saya perlu urus visa Schengen buat ke Belanda."
"Untuk keperluan apa?"
"Saya ada konferensi ilmiah di Rotterdam. Buat S3 saya, wajib hadir presentasi biar papernya bisa terbit."
"Oke ini jadwal yang tersedia."
"Mesti nunggu 2 bulan?"
"Iya mas, penuh soalnya."
"Aduh, mepet ya."
"Coba dulu aja mas. Ini syarat dokumennya."
***
"Kenapa uang tabungannya cuma segini? Mas perlu sekian ratus juta mengendap."
"Saya adanya cuma segini."
"Mas perlu surat pernyataan gak akan kerja di sana."
"Lah, itu surat undangan dari konferensi gak cukup?"
"Gak cukup, harus ada tabungan sama pernyataan."
"..."
***
"Ini tiket pulang pergi juga udah harus ada."
"Jadi tiket PP udah harus saya beli, tapi visa belum tentu keluar?"
"Iya"
"Hah?"
"Memang aturannya begitu."
"Kalau nanti abis visa keluar gimana?"
"Visanya bisa gak keluar."
***
"Halo, visa Anda ditolak."
"Hah kenapa?"
"Kami gak bisa kasih tahu alasannya."
"Haduh, terus paper konferensi saya gimana?"
"Maaf ya Mas. Saya harus layani antrian selanjutnya."
Bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah melihat orang tua kita menua.
Melihat daya dari sang waktu menyentuh dua orang yang paling mencintai kita, dua orang yang paling awal mengasihi, dan paling lama.
Semua yang mereka korbankan supaya kita bisa sampai di titik ini, pelan pelan berubah jadi keriput yang menempel abadi di wajah mereka, berubah jadi rambut yang memutih, dan kantung mata yang makin terlihat.
Katanya, setiap tahap hidup punya keindahan. Itu benar. Tapi hampir tidak ada yang menyiapkan kita untuk rasanya duduk di meja makan, melihat mereka makan, lalu sadar, senyum mereka tidak semuda dulu.
Ya dan kita juga.
Kita masih anak bagi mereka, tapi kita bukan anak kecil lagi. Aneh rasanya. Kita dan orang tua kita sama-sama orang dewasa, tapi dipisahkan beberapa puluh tahun jarak usia.
Tumbuh besar tidak pernah sempurna. Memang begitu. Karena kita juga cobaan pertama mereka menjadi orang tua. Mereka belum pernah menjadi orang tua sebelumnya.
Walaupun begitu, aku tidak akan menukarnya dengan versi apapun walau katanya lebih baik.
Aku baru mengerti, aku dan orang tuaku tumbuh besar bersama, dan ada sesuatu yang indah di sana.
Tapi yang kadang membuat haru adalah aku sadar aku punya kehidupan ini karena mereka pernah mengalah, pernah menepi, pernah memberi ruang.
Hidup yang aku jalani hari ini, dibangun dari hidup yang dulu mereka sisihkan untukku.
Dan sekarang aku menyaksikannya langsung di depan mata.
melihat mereka mulai lebih sering istirahat karena lelah yang ia simpan rapi.
melihat mereka lebih pelan saat berdiri, lebih hati hati saat melangkah, seolah sedang belajar menerima dahsyatnya kekuatan waktu pada tubuhnya.
Aku melihat tangan mereka. Tangan yang dulu kuat mengangkatku, menuntunku menyeberang, merapikan seragamku, mengusap-usap kepalaku, kini punya garis garis halus yang tidak pernah ada di masa kecilku.
Kadang aku menangkap momen kecil yang menghenyakkan.
Mereka mulai sering mengulang cerita yang sama, mulai sering lupa untuk hal-hal memori jangka pendek. Mulai menunjukkan semua hal yang aku baca di buku ajar geriatri, ilmu kesehatan usia lanjut.
Mereka bertanya hal yang sama dua kali, dan aku dulu tergesa menjawab, Sekarang aku memilih menatap mata mereka dengan senyum, menjawab pelan, karena aku sadar, yang mereka cari bukan sekadar jawaban, tapi kehadiran.
Aku mulai paham, ada doa yang tidak diucapkan lewat kata, tapi lewat kebiasaan mereka.
Mereka masih mencintaiku dengan cara yang sama, hanya saja tubuh mereka tidak lagi secepat hati mereka.
Di masa kecil, aku merasa waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat besar. Aku ingin cepat punya kebebasan. Aku ingin cepat menjadi siapa pun yang aku impikan.
Sekarang, ketika aku sudah sampai, aku justru ingin waktu melambat.
Aku ingin satu makan malam lagi tanpa buru buru. Satu perjalanan lagi dengan tangan mereka di sebelahku. Satu pagi lagi mendengar suara mereka memanggil namaku dari ruang tengah. Satu kesempatan lagi untuk bilang, terima kasih untuk segalanya. Satu kesempatan lagi untuk memeluk lebih lama, tanpa alasan.
Karena aku sangat mengerti.
Orang tua tidak pernah meminta kita membalas semua pengorbanannya. Mereka hanya ingin kita hadir, sesering yang kita bisa. Mereka hanya ingin kita pulang, meski sebentar. Mereka hanya ingin kita baik baik saja menjalani kehidupan, meski mereka sendiri sedang belajar menua.
Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih tua. Tapi tetap sama, dicintai, sepenuh itu.
Dan kalau suatu hari nanti garis garis itu makin banyak, langkah mereka makin pelan dan terbatas, aku ingin mereka tahu satu hal.
Aku tidak pernah benar benar pergi dari rumahnya. Aku sadar, cinta paling murni yang pernah kita terima, sedang berjalan menuju senja.
Dan tugas kita sederhana.
Menemani mereka sampai matahari benar benar turun, dengan hati yang lembut, dengan waktu yang kita sisihkan, dengan pelukan yang jangan kita tunda, dengan kata kata indah yang jangan kamu hemat.
Karena mereka tidak pernah hemat mencintaimu.
@BaseBDG Run buruan kak! 4 tahun bukan apa2 dibandingkan SEUMUR HIDUP bersama! Kamu terlalu berharga, cari calon suami yang menerima kamu dan mau menghargai kamu minimal sbg sesama manusia lah. Malah ngatain bocil lagi, padahal dia yang kek bocil kan kocak🥱
Setuju Bu! Orang-orang ini kok ga ngerti syukur. Bersyukur itu baik juga buat kesehatan mental. Anak anak dan guru harusnya mendukung program yang luar biasa indah tanpa celah ini. pemerintah dari planet planet lain aja kagum. Oke anak anak?
Bismillah komisaris
Gaes kalau mau beli telor asin sekaligus bantu operasional panto jompo, yuk beli di toko ini. Mereka live di Shopee hampir tiap malam, telornya bikinan para Lansia dan rasanya enak. Cuss cek tokonya https://t.co/94lKzWfz29
Penipuan modus "barang tertukar/rusak" ini sangat meresahkan. Sudah banyak korbannya, kerugian dari 5 sampai 100 juta per orang. Semua mudah percaya krn penipu punya info lengkap isi paket, nama penerima, alamat, kontak, etc.
Darimana didapat info2 itu? Salah satunya:
@bakuldimsum_ Pernah 1x ke ragunan tahun ini, jujur kaget liat hewan disana pada kurus2 dibanding hewan2 kayak di lembang parkzoo. Memang sih dari harga tiket sangattt beda jauh. Tapi ya tetep aja kasian liat hewan2 disana kayak dikasih makannya tuh seuprit gitu(?)🥲
@txtdrimedia pasal 34 ayat 1 UUD 1945 berbunyi: "fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara"
" Di Pelihara = Di pelihara kemiskinannya untuk Konsumsi Suara Pemilu per 5th "