pendapat Guru Gembul soal Prabowo:
- Pecundang yang hanya menang sekali karena curang
- Pengkhianat prinsip sendiri semua kritikannya dulu kini dilakukannya
- MBG bukan untuk rakyat, tapi untuk bagi-bagi kekuasaan ke lingkar dalam
- Kabinet paling gemuk sepanjang sejarah, padahal dulu kritik kabinet SBY gemuk
- Deforestasi naik 166% padahal dulu vokal kritik SBY soal penggundulan hutan
- Paling banyak kunjungan luar negeri, padahal dulu mau coret anggaran ke luar negeri
- Anggaran kesehatan dipotong 15%, pendidikan 44% padahal janji gratis
- Dinasti politik dipeluk, padahal dulu sebut nepotisme musuh demokrasi
- Rupiah anjlok karena kebijakannya sendiri, tapi bilang rakyat desa tidak pakai dolar
- Semua program ujungnya satu: melanggengkan kekuasaan yang susah payah didapat
- dadan disalahin korupsi MBG
- padahal dia yang ngangkat dadan harusnya dia udah tahu bibit,bebet,bobotnya
Yang membuat hancur seseorang itu adalah serakah.
Ga bisa merasa cukup.
Serakah ini mengakar dari semua kalangan.
Mau kerja enak, santai tapi duit gampang banyak.
Enough is enough.
Ra iso berpikir ngono.
Sjafrie Sjamsoeddin adalah Pangdam Jaya , penanggung jawab keamanan DKI , saat kerusuhan Mei 1998.
Lebih dari 1.000 orang tewas.
Ribuan perempuan jadi korban kekerasan seksual.
Aktivis dihilangkan paksa.
Komnas HAM panggil dia untuk dimintai keterangan.
Dia tidak hadir.
27 tahun kemudian, Prabowo lantik dia jadi Menteri Pertahanan.
Kasusnya tidak pernah selesai di pengadilan , bukan karena terbukti tidak bersalah, tapi karena tidak pernah diadili.
@LambeSahamjja Intinya harus ada di keseimbangan (titik ekuilibrium) kaya nilai inflasi yang gak boleh tinggi banget atau rendah banget, dan semua negara punya titiknya sendiri dgn melihat kondisi negaranya dan gak bisa cuma ambil contoh dari negara lain.
guys lu pada tau gk
ini berita paling lawak sih hari ini
ada cerita pembangunan jembatan di Karanganyar hasil gotong royong gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Harusnya kabar bagus dong.
Tapi yang bikin warga geleng-geleng justru pas momen peresmiannya.
Katanya warga sampai nyeletuk:
“ini biaya bangun jembatannya jangan-jangan lebih murah daripada biaya seremoni peresmiannya.”
Karena peresmiannya disebut ramai banget:
ada potong pita, acara formal, penyambutan, konsumsi, perlengkapan acara, sampai urusan akomodasi tamu.
Belum lagi kalau yang datang banyak pejabat atau rombongan:
transportasi, pengamanan, dokumentasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Dan ini yang sering bikin rakyat sensitif.
Bukan karena gak mau ada apresiasi.
Tapi kadang yang dibutuhkan warga itu jembatannya berfungsi dengan baik… selesai.
Bukan seremoni berlebihan yang kesannya lebih mahal dari manfaat simboliknya.
Rakyat tuh simpel:
jalannya bagus → senang
jembatan jadi → senang
akses lancar → senang
Yang bikin kesel itu kalau substansi kecil, pencitraan besar.
Kalau memang proyeknya untuk rakyat, fokusnya harus di hasil yang benar-benar dipakai warga tiap hari.
Bukan bikin acara megah cuma buat foto lalu upload caption “demi masyarakat.”
Warga sekarang makin kritis.
Mereka bisa bedain mana pembangunan beneran, mana yang terlalu sibuk sama seremoni.