Rata-rata warga Pekalongan percaya bahwa para pelaku pembakaran kantor wali kota dan penjarahan yang mengikutinya bukan warga Pekalongan.
Sejak awal, aksi demonstrasi beberapa hari ini sudah tidak wajar. Hati-hati, guys, semua yang terjadi saat ini tidak seperti yang terlihat.
Kantor Wali Kota Pekalongan dibakar massa. Di tengah berita demonstrasi hari-hari ini, berita itu mungkin terdengar "wajar". Tapi peristiwa itu sebenarnya sangat janggal dan tak masuk akal. Alasannya sangat sederhana; warga Pekalongan tidak punya masalah dengan wali kotanya!
Jika para jurnalis meliput peristiwa itu, coba wawancarai warga Pekalongan yang benar-benar tinggal di Pekalongan. Mereka akan menyatakan keheranan terkait peristiwa itu. Karena jika warga Pekalongan benar-benar melakukan demonstrasi, mereka tidak akan membakar kantor wali kota!
Apapun yang kamu bacotkan dan koar-koarkan, intinya cuma satu; kamu ingin semua orang jadi pengikutmu, tunduk patuh kepadamu. Untuk mewujudkan hal itu, kamu bertingkah sok suci sambil melakukan aneka kebusukan, termasuk mengumpulkan hasil nguping dan aneka gelendengan orang.
Selama bertahun-tahun kamu melakukan kebusukan semacam itu, sudah jelas bukan kekhilafan—itu telah menunjukkan karakter aslimu yang busuk dan bejat.
Ngaku kiyai tapi menyembah egonya sendiri. Kamu tidak sedang syiar agama. Yang kamu lakukan adalah syiar ego bejatmu sendiri.
Ulama sejati menyampaikan pesan kemanusiaan, mengedepankan empati, dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Ulama jadi-jadian penuh prasangka, mulut yang kotor, lalu menyemburkan aneka tuduhan seenaknya pada orang lain sambil bertingkah sok suci.
ㅤ ㅤ ㅤ
ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ
Pesan dari Gus Baha' untuk kita semua yang sedang dan akan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Selamat berpuasa kawan-kawan!
ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤ
Jika sesuatu semisal pengajian rutin tidak dikeraskan toa, siapakah yang dirugikan? Tidak ada! Satu-satunya pihak yang dirugikan adalah orang yang suka koar-koar lewat toa, karena dia tidak bisa lagi memuaskan egonya, tidak bisa lagi mendominasi lingkungan sekitarnya.
Faktanya, ada orang yang bikin pengajian rutin dan suaranya dikeraskan toa sampai terdengar ke mana-mana, tapi jengkel saat ada orang tidak ikut pengajiannya, lalu melemparkan aneka tuduhan seenaknya. Setidaknya, di tempatku ada orang semacam itu.
https://t.co/8hFBc0MB9z
kalau kita mengkritik pemerintah, atau institusi, yang ditanya paling 'sumber beritanya dari mana'
tapi kalau mengkritik oknum beragama malah di tanya, ngaji di mana?
feodalisme mengakar kuat dan mereka bangga dengan itu
Ada ulama-ulama, yang benar-benar berilmu, bisa berbicara atau mengisi pengajian sampai berjam-jam, dan isi pembicaraan/pengajiannya murni ilmu pengetahuan. Tidak ada hujatan, tidak ada sindiran, tidak ada ucapan yang membuat orang lain (pendengarnya) marah apalagi sakit hati.
Ciri ulama—yang benar-benar ulama (berilmu)—semacam itu biasanya tidak lagi memuja egonya. Dia mengisi pengajian murni ingin berbagi kesadaran, lillahi taala. Dia tidak mencari murid atau pengikut atau pengaruh. Orang mau datang ke pengajiannya ya monggo, tidak ya tidak apa-apa.
Sayangnya, saat ini ada banyak pengajian tapi isinya bukan pengajian. Orang yang mengisi pengajian semacam itu juga tampak mengunakan pengajian sebagai sarana untuk memuja egonya sendiri. Ciri pengajian semacam itu sangat mudah dikenali, khususnya kalau kamu cukup terdidik.
Ini mungkin terdengar aneh, tapi benar-benar terjadi. Ada orang ngaku ulama, bikin pengajian rutin lewat toa yang suaranya dapat terdengar sampai jauh, tapi ia berharap semua orang di sekitar ikut pengajiannya. Saat ada yang tidak ikut, ia akan merisak dan menghujat orang itu.
Belum cukup, ulama gadungan itu sampai meminta orang-orang lain—yang sama-sama ngaku ulama dan juga sering mengisi pengajian lewat toa—untuk ikut menyerang dan merisak orang yang tidak ikut pengajiannya. Itu sebenarnya ulama atau gerombolan bangsat yang merusak citra ulama?
Hobimu nggelendengi ternyata belum sembuh, ya. Koar-koar ceramah menyuruh orang-orang lain tidak nggelendengi, tapi dirinya sendiri doyan nggelendengi. Menjijikkan sekali!
Terbukti kalau kamu memang bukan syiar agama, tapi syiar ego bejatmu sendiri sambil sok suci.
Ada tetangga rukun, kerukunannya dirusak demi dapat bahan ghibah untuk koar-koar di pengajian. Setelah kerukunan tetangga rusak, sok ceramah dengan lagak tanpa dosa, “Kita harus rukun dengan tetangga karena bla-bla-bla...”
ULAMA COCOT DOBOL.
https://t.co/b26afsZYYQ
Ada orang menerima tamu, percakapannya dikuping. Lalu hasil ngupingnya dipakai untuk nggelendengi orang di pengajian. Setelah kelakuan busuknya terbongkar, lalu koar-koar sok suci, “Tamu itu datang untuk membawa rezeki, bla-bla-bla...”
ULAMA COCOT DOBOL.
https://t.co/8hFBc0MB9z