Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Ini loh yg sering jd penyebab orang2 tbtb kena gagal ginjal.
Soalnya tubuhnya sdh hipertensi bertahun2, tp ga bergejala
Krn ga bergejala, merasa dirinya baik2 aja. Sementara di dlm tubuhnya udh pelan2 nggerogotin ginjal
Pls sempatkan MCU rutin biar aware sama badan sendiri. Sayangi tubuh kamu guysss ๐ญ๐๐ป
@WongAlasRoban Hehe. Sepertinya emang untuk konten sih. Njatuhin dompetnya seperti disengaja karena terlihat jarinya melepas. Sepeda motor kedua itu ga perlu berhenti sebenernya. Orang kosong kok. Apalagi berhenti kedua itu buat apa. Wkwk. Tapi emang lucu sih.
Mau cerita pengalaman melawan rasa ga nyaman/takut. Kali aja ada yang relate. ๐ซฃ
Jadi gini...
Saya pernah diundang Telco ke sebuah event di Medan. Pesertanya datang dari berbagai kota, dan sebagian besar adalah orang-orang yang belum saya kenal.
Buat saya yang cenderung introvert dan tidak terlalu suka bertemu orang baru, situasi seperti ini sebenarnya cukup melelahkan.
Biasanya ajakan seperti ini akan saya tolak. ๐
Tapi not that time. I accepted the invitation walopun ada banget khawatir, males dan cemasnya.
Nah, cara ku handle "problem" ini tuh begini...
Sebelum berangkat, saya membuat sebuah skenario sederhana di kepala.
Saya bilang ke diri sendiri:
"Di sana nanti saya nggak harus ngobrol dengan semua orang."
"Kalau saya nggak punya bahan obrolan, ya diam saja."
"Kalau mau duduk sendirian, duduk saja."
"Kalau ada yang mengajak ngobrol, balas sewajarnya."
"Saya nggak perlu memaksakan diri untuk terlihat supel, ramah, friendly, gampang kenalan, dll."
Dan ternyata, teknik itu justru membuat semuanya jauh lebih ringan.
Saya datang tanpa ekspektasi harus menjadi orang yang paling banyak bicara.
Saya duduk di mana saya nyaman.
Ngobrol kalau memang ingin ngobrol.
Diam kalau memang ga ada yang mau dibahas.
Dan surprisingly, saya malah menikmati seluruh event tersebut.
Saya tidak merasa terasing.
Tidak merasa harus terus-menerus bersosialisasi.
Tidak merasa terbebani karena berada di tengah banyak orang yang tidak saya kenal.
Outcome dari ngikutin event itu malah seru.
Saya jadi sempat bertemu dengan beberapa teman lama di Medan, di luar acara.
Trus saya pulang membawa voucher MAP hampir Rp2 juta karena ikut kuis di acara tersebut.
Padahal awalnya saya ikut dengan perasaan, "Duh, males banget ketemu orang baru. Pasti banyak awkward moments."
_
Moral of the story:
Kita tuh sering takut dengan hal-hal yang ada di kepala kita.
Kita merasa harus ngobrol.
Harus kenalan.
Harus terlihat ramah.
Harus menikmati suasana.
Harus menjadi versi diri kita yang lebih extrovert.
Padahal engga.
Padahal, ketakutan itu bisa kita overwrite dengan pikiran kita sendiri. Coba set ekspektasi yang realistis. Tell yourself that it is totally okay kalo masuk ke situasi yang bikin ga nyaman.
Siapi diri kita akan kemungkinan-kemungkinan "buruk" itu.
Sedia payung sebelum hujan aja.
In my case, ya saya gagah berani datang ke sebuah tempat dan tetap menjadi diri kita sendiri.
Boleh diam.
Boleh menyendiri sebentar.
Boleh ngobrol hanya ketika memang ingin.
Dan anehnya, ketika tekanan itu kita hilangkan, kita justru bisa lebih menikmati pengalaman tersebut.
Bahkan sesuatu yang awalnya kita hindari bisa membawa teman baru, pengalaman baru, kebahagiaan, bahkan keberuntungan.
Mungkin melawan rasa takut tidak selalu berarti memaksa diri untuk menjadi berani.
Kadang cukup dengan mempersiapkan pikiran kita:
"Ya udah. Saya nggak tahu nanti akan seperti apa. Tapi apa pun yang terjadi, saya tau bagaimana saya akan meresponsnya."
Our mind vs our mind.
Makes sense ya.
Seorang anak berusia 8 tahun telah digigit oleh seekor Anjing piaraan jenis pitbul di komplek Grand Cendana Residence Wargaluyu Arjasari Kabupaten Bandung Hari Minggu 23 Agustus 2026 Pukul kurang lebih jam 17.00.
Anak tersebut mengalami luka cukup parah. Dan saat ini sedang penanganan di RSUD Welas Asih. Mari doakan semoga anak tersebut lekas sehat dan pulih. Kami mohon peran aparat setempat agar bisa menindaklanjuti kejadian ini.
Karena agar memberikan sanksi kepada pemilik anjing dan tidak ada lagi yang memelihara anjing di sekitar komplek mengingat banyaknya anak anak di komplek tersebut.
bdginfo
Baru kali ini liat guncangan gempa sekenceng ini dan sejelas ini, ya Allah. Itu bangunan beneran kek diayak, ancur ancur dah itu ga bisa ditempati lagi kayaknya ๐ฉ๐
Jam 2 pagi.
Anak tiba-tiba demam. Atau menangis tanpa henti. Atau badannya terasa "nggak seperti biasanya."
Lalu muncul pertanyaan yang hampir semua orang tua pernah alami.
"Perlu langsung ke IGD sekarang... atau tunggu sampai besok?"
Ini keputusan yang tidak mudah.
Datang ke IGD ternyata tidak gawat memang melegakan.
Tapi menunggu di rumah padahal seharusnya segera dibawa ke IGD, itulah yang bisa berbahaya.
Sebagai dokter IGD, saya coba kasih panduan sederhana :
Jadi gua punya cerita soal perusahaan Tanihub, gua saat awal masuk kerja disuruh ngebedah startup ini. Dari awal ngeliat thesis bisnisnya, secara logika berfikir gua langsung nolak. Narasi "Disrupsi Agritech" emang seksi banget buat pitching, tapi fundamental lapangannya HALU. Gua jelasin pemikiran gua ya saat itu
Gini sudut pandang gua waktu itu soal kenapa model bisnis ini emang bom waktu dari awal:
1. Halu nerapin prinsip Scale ala US di tanah gurem.
Kesalahan fatal Pertama: maksa nerapin playbook agrikultur ala Amerika (main kuantitas dan skala) ke Indonesia. Ini absurd secara geografis. Kalau lu buka data BPS, mayoritas petani kita itu jatuhnya "petani gurem" dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektar.
Dengan size lahan sekecil itu, model bisnis ngumpulin hasil panen untuk menuhin tonase itu kayak gali lobang mati konyol, karena harga panen bakal dinilai secara borongan oleh pasar. Lahan sempit mestinya main di quality dan highnyield crop (kayak teori pertanian intensif di Jepang), bukan genjot kuantitas.
2. P2P Lending ke sektor subsisten = Nyiapin tali tambang di pohon beringin.
Terus masuklah TaniFund nawarin P2P lending. "Pinjaman tanpa agunan buat petani" ini di atas kertas mulia "yang bahkan rentenir aja gak akan sebodoh itu" tapi secara risk pricing ngeri. Logika finansial dasar "tanpa agunan = high risk = suku bunga tinggi".
Petani dengan lahan <0,5 ha itu taraf hidupnya rata-rata "bisa makan dari sisa panen aja alhamdulillah". Mereka gak ada buffer finansial. Sekali cuaca jelek, kena hama, atau harga pasar anjlok, otomatis gagal bayar. Gimana ceritanya lu ngasih kredit komersial bunga tinggi ke sektor subsisten yang 100% terekspos risiko alam? Wajar kalau NPL (kredit macet) mereka akhirnya tembus di atas 60%.
3. Arogansi "Bypass Tengkulak"
Ini yang paling bikin gua mikir, lu pasti hidup enak ya dari lahir? Gak pernah ngeliat pasar kayak apa (apalagi pasar induk), berangkat sekolah udah ada makanan di meja tanpa mikirin bahan bakunya beli di mana.
Ada arogansi dari tech bros yang nganggep tengkulak itu murni lintah darat yang harus dibasmi. Padahal di ekosistem desa, tengkulak itu "entitas multifungsi". Mereka bukan cuma perantara. Mereka itu agregator logistik, tukang sortir kualitas panen yang campur aduk, pemberi kasbon darurat, dan yang paling krusial: Risk Bearer (Penanggung Risiko). Tengkulak berani nebas panen karena jam terbang mereka udah puluhan tahun baca cuaca dan harga. Terus lu, dengan modal pernah kerja pakai baju rapih, mau masuk ke industri ini?
4. Unit Economics yang berdarah-darah.
Coba hitung pakai logika supply chain sederhana. Produk segar (terutama sayur hijau) itu tingkat kebusukan gila. Umur simpannya cuma 1-3 hari, bahkan kalau cuaca panas banget, cuma beberapa jam udah layu sampai kuning.
Waktu TaniHub nekat menggusur tengkulak, SEMUA biaya shrinkage (susut/busuk), biaya sortir, dan logistik itu pindah murni ke neraca keuangan TaniHub. Margin kotor jualan sayur itu super tipis! Gimana logikanya margin setipis itu disuruh nanggung biaya operasional cold chain, sewa gudang raksasa, diskon bakar uang, plus gaji engineer dan manajemen super elit? Unit economicsnya udah negatif dari sejak awal gua narik proyeksi secara logika berfikir
Kesimpulan:
Ekosistem pertanian tradisional kita (dengan segala tengkulaknya) itu udah bertahan puluhan tahun bukan karena mereka jahat, tapi karena equilibrium harganya udah "sesuai dengan tingkat risiko" di lapangan.
Niat mulia menyejahterakan petani itu bagus, tapi kalau cuma modal narasi jualan mimpi tanpa paham unit economics dan sosiologi desa, Ujungnya ya cuma bakar duit investor. Di dunia bisnis, hukum gravitasi cashflow nggak bisa dilawan pakai slide deck yang bagus dan perguruan tinggi elit.
(MAAF YA KALAU MENYINGGUNG, MURNI OPINI PRIBADI)