Kemaren habis ngobrol sama temen orang Bekasi yang pernah kerja di Pabrik dan sekarang kerja di Perkantoran Sudirman. Katanya, lebih enak kerja di Pabrik kalo di level staff, soalnya:
- Pabrik ada jemputan bis = Kawasan perkantoran gak ada
- Pabrik ada lembur = Kantoran kadang harus loyalitas
- Biaya makan di kawasan Pabrik Jauh lebih murah
- Gaya hidup kerja di Pabrik gitu gitu aja, gak ada kepinginan beli baju atau pamer outfit soalnya kerja pake seragam
- Pabrik kelar kerja ya balik, gak perlu bonding bonding pake segala sering nongkrong
Apakah valid realitanya begitu Beks?
Gaes, waktu itu salah satu rekan kerjaku mengajukan resign. Setelah mendengar alasan resignnya saya langsung menatap langit-langit, mengernyitkan dahi, dan menyunggingkan bibir.
Hanya karena gak diizinkan pindah posisi meja kerjanya, beliau mengajukan resign. Dan saya menyetujui.
Nah beberpa hari lalu, beliau menarik kembali surat pengunduran dirinya. Menyampaikan permohonan maaf, dan siap menerima konsekuensi.
Menurut pendapat kalian gimana? Komen di kolom komentar ya.
FYI aja..pemilik Restoran Sederhana itu (Bustaman) adalah besan dari Andi Syamsyuddin Irsyad alias Haji Isam Batulicin.
Putra Bustaman (Rizky Putra) itu menikah dengan putri Haji Isam ( Liana Saputri) pada 12 April 2020.
Selain itu, Putri Haji Isam sudah membeli 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia.
Gw ga kebayang kalau Restoran Sederhana dan KFC berada dalam penguasaan keluarga yang sama.
SMA saya di Seminari, asrama. Aturannya jam 17.00-19.00 itu studi mandiri. Wajib di kelas, tanpa suara. Silentium Magnum, istilahnya.
Suatu hari waktu studi mandiri, semua di kelas dalam suasana hening. Pintu diketuk. Seorang teman dari kelas sebelah kepalanya nongol.
“Teman-teman, boleh minta perhatiannya sebentar.”
Kami semua menatap dan fokus pada seseorang di pintu itu. Hening.
Dia melanjutkan: “Baik, cukup perhatiannya, terimakasih.”
Lalu dia menutup pintu dan lenyap.
Demi Tuhan, kami ingin melempar anak itu ke kolam. 😂
Syarat kerja di dapur MBG tuh ‘bego’ ya?
Pernah kerja jadi HSSE Officer bikin gue gatel banget pengen bahas ini. Let me tell you why this is dangerous, apalagi buat program skala nasional.
Saran yang paling sering saya sampaikan ke klien atau ke siapapun yang punya masalah hukum:
HINDARI PENYELESAIAN MASALAH HUKUM DI PENGADILAN
Selesaikan masalah sedapat mungkin di luar pengadilan.
Tren parenting masa kini yg bikin gw gedeg sebagai orangtua. Grup WA orang tua!!
Ya walaupun anak gw masih SD, tapi anak itu musti belajar tanggung jawab sejak kecil. Jujur gw merasa aneh dan risih kalo pengumuman untuk kepentingan sekolah itu cuman di grup orang tua. Jadi yg dihimbau orangtuanya, bukan anaknya.
Kan bisa ya pas di sekolah anaknya dikasih tahu. Urusan dia lupa ga ngerjain , ya itu salah dia dan di situlah saatnya dia belajar yg namanya tanggung jawab dan konsekuensi.
Masa jadwal ulangan aja anak gw ga tau. Setiap ditanya, “kamu tau ga besok kamu ada ulangan ini?”
“Gak tau, belum dibilang sih”
😩😣☹️
Ya Allah ternyata 🥺🥀
Polres Cimahi mengamankan dua remaja pelaku pembunuhan terhadap siswa SMP yang jasadnya ditemukan di area eks Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Kedua pelaku dijerat Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Kedua pelaku berinisial YA (16) dan AP (17), sedangkan korban berinisial ZAAQ (14).
Kapolres Cimahi, AKBP Niko, mengatakan kedua pelaku dijerat Pasal 80 ayat (3) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 459 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait pembunuhan berencana.
“Ancaman hukumannya pidana mati, penjara seumur hidup, atau paling lama 20 tahun,” ucap Niko saat jumpa pers, Minggu (15/2).
Polisi berhasil mengamankan keduanya di Kecamatan Banyuresmi, Garut. Polisi menyebut pelaku dan korban saling mengenal sebelumnya.
Niko menjelaskan, YA berperan sebagai eksekutor, sedangkan AP menunggu di depan lokasi sambil mengawasi situasi dan menjaga kendaraan. Senjata tajam telah dipersiapkan pelaku sejak berangkat dari Garut.
Peristiwa bermula ketika pelaku mengajak korban bertemu dan berbicara di area eks Kampung Gajah. Setelah terjadi percekcokan, pelaku memukul kepala korban menggunakan botol yang ada di lokasi hingga terjatuh, lalu menusuk perut korban sebanyak delapan kali.
“Menurut keterangan pelaku, korban ditinggalkan masih dalam keadaan hidup,” ungkap Niko.
Setelah kejadian, pelaku mengambil ponsel korban dan mengirim pesan kepada sejumlah kontak untuk membuat seolah-olah korban masih hidup. Bahkan, pesan berisi klaim korban diculik dikirim guna mengelabui keluarga dan teman korban.
Motif pembunuhan dipicu rasa sakit hati pelaku karena korban menyatakan ingin memutuskan pertemanan. Pelaku disebut menyimpan dendam hingga akhirnya berangkat dari Garut ke Bandung dengan niat menghabisi korban.
Pada tahun 1980-1990an, preman-preman buas dari Timor Timur semakin membludak di Jakarta.
Preman-preman ini berkhianat terhadap bangsanya sendiri. Mereka menjadi anjing peliharaan ABRI di Timor Timur.
Akibatnya, mereka tak punya rumah untuk pulang.
Kalau begitu, apa yang mereka lakukan?
Mereka menjadi seperti karma bagi Indonesia: giliran kita yang dijajah dan dirampok.
Faksi ABRI yang beroperasi di Timor Timur sangat berhasil membentuk suatu mesin penindasan dan pemalakan buas. Saking berhasilnya, ketika mereka menyebar dan menginfeksi kota-kota Indonesia seperti hama tikus, kita kewalahan.
Preman-preman asing ini menetap di kota besar seperti Jakarta. Mereka kemudian memungli, memalak, dan memukuli rakyat kecil di Jakarta, terutama di Tanah Abang.
Oleh preman-preman ini:
- Pedagang pasar dirampok.
- Pembeli pasar dirampok.
- Orang yang parkir dirampok.
- Ruko dirampok.
- Perumahan cluster dirampok.
- Rumah-rumah kumuh dirampok.
- Perkapalan dirampok.
- Pelabuhan kontainer dirampok.
- Truk dirampok.
- Gudang dirampok.
- Pabrik dirampok.
- Gedung-gedung kantor dirampok.
- Perusahaan di dalam gedung-gedung itu dirampok.
Mereka kerap tawuran dengan gerombolan preman lain yang tidak kalah jahat dan buasnya untuk memperebutkan daerah rampokan. Secara jumlah mereka kalah dengan gerombolan preman dengan seragam warna luar biasa norak, sehingga mereka lebih fokus ke kekejaman dan kebengisan.
Warga Jabodetabek sangat resah. Malam hari sangat mencekam.
Punglinya sangat mahal. Pedagang yang tidak bayar dipukuli sampai mampus sebagai percontohan.
Orang yang bilang bahwa "zaman Orde Baru lebih enak" jelas belum pernah dipukuli preman-preman buas peliharaan rezim ini karena tidak punya uang untuk setor pungli, sebagai percontohan untuk pedagang-pedagang lainnya.
Argumen bahwa "Orde Baru membasmi preman" dipatahkan dengan keberadaan gerombolan-gerombolan preman ini.
Kriminalitas bukannya dibasmi, melainkan dilembagakan.
Bukan hanya dilembagakan, setoran punglinya juga dilembagakan. Supaya tidak dipetrus, para preman ini menyetor ke beking-beking mereka di atas.
Beking-beking rezim ini, in turn, melindungi preman-preman itu dan bahkan senang apabila pedagang kecil dipukuli sampai mampus. Semakin banyak pedagang yang diperas, semakin banyak uang yang terkumpul untuk disetor ke beking.
Beking-beking rezim ini kemudian memakai uang setoran hasil merampok pedagang dan pembelinya itu untuk berjudi, bermabuk-mabuk, menyewa prostitusi, atau (dan terutama) menyetor ke atasan mereka. Dan seterusnya.
Megawati naik menjadi pemimpin oposisi melawan Orde Baru pasca Kudatuli karena narasi sederhana: rezim Orde Baru adalah rezim preman. Rezim mafia kriminal, dengan Soeharto sebagai ketuanya seperti Don Corleone dalam film "The Godfather".
Kudatuli bukan disebabkan "preman kiriman rezim Soeharto". Melainkan, Soeharto, keluarganya, dan seluruh anak buahnya *adalah* preman.
Media AsiaWeek misal mencatat bagaimana preman-preman Timor terlibat langsung menyebabkan Kerusuhan Mei 1998. Saat itu, preman-preman Timor didatangkan dengan pesawat ke Yogyakarta lalu dibawa ke Jakarta pakai kereta api oleh beberapa oknum jenderal yang memelihara mereka sebagai semacam gerombolan tukang pukul (dan tukang bunuh) pribadi.
---
Gerombolan-gerombolan preman berkostum Betawi dan berkostum Islam garis keras sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap kegagalan negara membasmi preman-preman buas semacam ini dari pasar dan ruang-ruang hidup rakyat kecil di daerah kumuh Jakarta.
Debutnya terjadi pada akhir 1990an, yaitu ketika gerombolan-gerombolan preman yang berkostum etnis Betawi berhasil menggulingkan dominasi preman Timor dari Tanah Abang.
Gerombolan baru ini tetap memungli dan memalak ekstrem, tetapi dengan rate yang lebih masuk akal untuk dibayar pedagang dan dengan kekerasan yang jauh lebih dikurangi.
Daripada kekerasan murni, mereka memakai etnopopulisme sektarian Betawi untuk melakukan pendekatan yang politis, tidak seperti para preman Timor dan preman tua lain yang hanya bisa memukul dan membacok.
Preman-preman baru yang lebih efektif ini kemudian merapat dengan rezim Orde Baru dan bahkan bergabung dengan preman lama dalam suatu koalisi besar Pam Swakarsa untuk memukuli dan meneror para aktivis Reformasi.
Beberapa dari mereka bahkan membantu keluarga Cendana melakukan aksi teror dan bom terhadap usaha pengusutan kasus-kasus korupsi Orde Baru, sebagaimana diungkap Gus Dur pada September 2000.
Dalam serangan bom mobil yang mereka lancarkan pada Bursa Efek Jakarta, 15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil tubuh manusia.
Keluarga Cendana dan kroni-kroninya sendiri memiliki uang dengan jumlah sangat banyak yang mereka rampok dari berbagai sumber, seperti monopoli ekspor impor migas di Petral.
Uang rampokan itu kemudian menjadi sumber dana aksi-aksi teror preman untuk menghalangi orang-orang Reformasi yang berusaha mengusut mereka.
Di saat yang sama, handphone Nana sibuk.
Sekejap kemudian terdengar kaca dipecahkan. Puingnya jatuh berserak-serak. Lalu terdengar kunci diputar dua kali. Pintu terbuka. Selanjutnya hening.
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"
***
"Ada apa Pak?"
"Kita butuh 1 orang IT support."
"Nyari yang gimana Pak?"
"Kita butuh yang lincah, yang muda, jadi umur maksimum 22 tahun."
"Oke, apalagi Pak?"
"Lulusan S1 kampus ternama."
"Terus?"
"Jangan yang freshgrad amat, pengalaman minimal 4 tahun."
"Oke Pak. Nanti kita pasang iklannya."
***
"Pak kita mau pasang iklan di portal, tolong dikonfirmasi:
Dicari IT support, lulusan S1 kampus ternama, umur maksimum 22 tahun, pengalaman 4 tahun."
"Mantab, pasang di job portal hari ini juga."
"Gajinya gak usah dipasang?"
"Gak usah. Kalau ada yang lamar, walaupun gak kepenuhi semua syaratnya, kasih tahu saya."
"Oke Pak"
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Pengalaman Pak, 5 tahun di perusahaan kompetitor kita."
"Dih, gak akan kuat bayar gajinya, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Ada sih pengalaman, cuma 1 tahun di perusahaan sebelah."
"1 tahun mah sama aja freshgrad, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Freshgrad Pak."
"Gak ada pengalaman sama sekali? Magang gitu?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Mau internship Pak."
"Oh, ada pengalaman internship apa magang gitu di tempat lain?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Kita udah pasang iklan sebulan lebih kan?"
"Iya Pak."
"Belum ada yang apply lagi?"
"Belum Pak."
"Susah bener cari karyawan sekarang."
***
"Pak, saya mau resign."
"Hah? Baru juga tiga bulan kerja di sini? Mana susah lagi yang memenuhi syarat kaya kamu."
"Saya ngerasa disuruh jadi superman Pak, masa disuruh desain grafis, edit video, bikin poster di Canva, benerin lighting foto pakai Photoshop, ngoding python, setup web server, benerin printer, sampai pasangin kabel internet kantor."
"Kan itu emang kerjaan IT Support?"
"Tempat saya dulu gak segininya Pak. Mana saya pernah dihubungi jam 1 pagi buat ke kantor benerin printer orang-orang lembur. Udah tiga kali bulan ini doang."
"..."
"Saya mau cari tempat lain aja."
"..."
***
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"
Masukin kartu ke ATM, abis itu loading lamaaaaa banget ga minta minta masukin pin.
Panik. Tiba tiba keluar tuh kartu.
Ternyata yang gue masukin kartu Timezone.
Wkwkwkwkwkwk.
They have the once in a lifetime opportunity to name the panda with a Chindo name and they went with Satrio….
Should’ve been Steven Wiratama Tanuwidjaja
Segala bentuk fasum -dari yang kecil kaya rambu atau separator jalan sampai yang gede macam halte atau gedung/kantor- itu representasi kekuasaan karena diputuskan/dibangun oleh penyelenggara negara lewat keputusan/kebijakan
Sah2 aja, konfliknya tetep vertikal https://t.co/JcPk3AX8tQ
Engga juga
Dari day 1 mereka ngesex juga udah sadar kalo punya anak itu beban. Cuma tetep dilakuin karena
1. Bodo amat tar tinggal ngemis
2. Disposable; anak mati yaudah, gak mati2 ya buang atau dijual atau disewain buat ngemis
Gak ada urusan sama harapan