Balada si Tamput, si kucing pengembara: Penumpang Gelap Paling Setia di Jalur Commuter Line Bandung Raya
Di tengah riuh lalu-lalang ribuan kaum komuter yang mengejar waktu, ada satu sosok yang menjalani harinya dengan ritme berbeda. Seekor kucing berbulu lebat bercorak tuksedo hitam-putih, dengan pipi gembul dan tatapan polos, diam-diam menjadi legenda hidup di lintasan rel Commuter Line Padalarang–Bandung–Cicalengka. Mari selanjutnya kita sebut saja kucing hitam putih ini sebagai "Si Tamput"
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat untuk pulang. Namun bagi Si Tamput ini, rumahnya adalah seluruh bentang rel Jawa Barat. Stasiun Kiaracondong memang menjadi pangkalan utamanya—tempat ia paling sering terlihat menyapa penumpang, duduk santai dekat musala, atau sekadar membersihkan bulunya tanpa memedulikan bising klakson lokomotif. Namun jiwa petualangnya tak bisa diam.
Tatapannya yang sayu seolah menyimpan kerinduan yang dramatis: apakah ia sedang menunggu seseorang yang tak kunjung kembali, atau ia sekadar ingin melihat indahnya kota dari balik jendela kaca?Tanpa tiket dan tanpa rasa takut, kakinya yang pendek melangkah santai memasuki pintu kereta yang terbuka. Ada momen ketika penumpang terperangah mendapati seekor kucing melenggang santai di lorong tengah gerbong, menginspeksi sepatu para penumpang seperti kondektur kehormatan.
Ketika pintu tertutup dan rangkaian kereta mulai melaju, petualangannya pun dimulai.Ia tak pernah panik saat terbawa arus perjalanan. Hari ini ia mungkin terlihat selonjoran santai meregangkan kaki belakangnya di peron Stasiun Cimekar, esok harinya tertangkap kamera warga tengah mengamati hiruk pikuk Stasiun Gedebage, hingga tiba-tiba sudah berkelana jauh sampai Stasiun Rancaekek. Pengguna Kereta Commuter Line Bandung Raya yang berpapasan dengannya selalu dibuat heran sekaligus gemas: bagaimana bisa kucing segendut ini berpindah-pindah stasiun antar-kabupaten layaknya pekerja kantoran yang sedang mengejar jam kerja?
Kini kehadirannya menjadi moment manis yang selalu dinantikan. Setiap kali pintu kereta terbuka di peron, mata para komuter tak lagi hanya mencari kursi kosong, melainkan mencari sosok si tuksedo gembul ini. Sedang di stasiun manakah sang pengembara hari ini? Apakah ia sedang terlelap di bangku tunggu stasiun Kiaracondong, atau justru sedang berada di kereta yang sama dengan kita, menemanimu pulang menembus senja Bandung?
Siapa dari kalian yang pernah bertemu si Tamput ini? Kalau berjumpa, jangan lupa video atau foto ya!
My hot take tapi kalau lu beneran kerja di industri esp massive production lu akan ngerti kenapa semua kemajuan teknologi ini cuma bakalan bikin manusia sengsara dan menuju jurang paling dalem kapitalisme yang bikin manusia makin gak kaya manusia lagi
Gadgetin lagi disorot katanya kontennya udah ga semenarik dulu dan effort nya udah berkurang. apalagi syutingnya boring cuma didalem studio dan cuma cuap-cuap doang
padahal, David sendiri udah pernah bilang bakal mulai melambat. Ia milih ngurangin beban kerja demi nikmati waktu bareng keluarga kecilnya. Di beberapa video, ia bahkan terang-terangan nyaranin penonton buat nonton kanal lain kalau butuh ulasan spesifikasi yg lebih mendalam
CPNS itu sistem rekrutmen paling fair
gapeduli lu lulusan top 3 atau UT, gapeduli lu freshgrad atau experience 10 tahun, gak peduli lu nganggur atau ex mckinsey selama skor TPA dan TKD nya bagus dia yg keterima
100% pure keterimanya berbanding lurus dari hasil tes
Setuju sm ini. Jawa Timur & sikap orangnya yg dikesankan org luar Jatim sbg orang2 yg 'bodo amat' adl efek Kekerasan pasca-1965 (lagi2 tahun ini). Jgn lupa di tahun itu korban jiwa terbesar Kekerasan pasca-1965 di Indonesia ada di Jawa Timur. Kontra-revolusi sukses di Jawa Timur.
joke terbesar abad ini:
minta produktivitas tinggi ke pekerja di negara yang umrnya masih kalah sama biaya grooming anjing-anjingnya bule di bali.
fuck it. be less productive, folks. ❤️
Mending nikah sama cowok sunda pemalas judol ga ngurus anak, naro anak di pesantren. Atau nikah sama cowok jatim NU garis keras, main sound horeg, nganggur mokondo gaweane mek cangkruk karo ngopi, sing wedok sing pontang panting golek duwit + ngurus anak