Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
#Indonesia: Deeply concerned by horrific acid attack on Andrie Yunus, the Deputy External Affairs Coordinator of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (@KontraS). Those responsible for this cowardly act of violence must be held to account. HRDs must be protected in their vital work & able to raise without fear issues of public concern. - @volker_turk
Saya pernah mau bahas ini dari sisi pantun Betawi.
Banyak orang mengira bahwa pantun, terutama pantun Betawi, (seakan-akan) "mewajibkan" kita untuk menyahut cakep. Kebanyakan orang menggunakan sahutan ini hampir pada setiap baris di bagian sampiran. Misalnya:
Biru-biru bukannya kaèn (Cakeepppp!)
Kembang melati di pelataran (Cakeepppp!)
Sakit rindu bukannya maèn
Si jantung ati punya lantaran
Apakah sahutan seperti ini sebenarnya memang ada sebagai bagian dari seni pantun, khususnya pantun Betawi?
Saya akan membahas ini dari sisi pantun Betawi, yang mungkin saja ada perbedaan dengan pantun dari daerah lainnya.
Jadi, sebagaimana dalam pantun di berbagai wilayah di Nusantara, terdapat dua bagian, yaitu: sampiran dan isi, atau dalam istilah Betawi kulit dan isi. Pantun tersebut, di Betawi, umumnya memiliki 4 baris, dan sering juga 2 baris (pantun kontèt), meskipun terdapat pantun 3 dan 6 baris juga yang sangat jarang.
Adapun sahutan "cakeppp" ini sebenarnya adalah senggakan, kalau dalam istilah Betawi. Senggakan ini umum diucapkan oleh alok (lawan bicara) dalam berbagai penampilan kesenian Betawi, seperti lagu, wayang kulit, dsb. Misalnya, contoh senggakan dalam lagu Jali-jali pada https://t.co/ZkXlyc5M9c (05:05–05:10):
Katènyè, dulu kotè Betawi ... (Témpo dulu, yè, Po'!)
Nah, "témpo dulu, yè, Po' " di atas itu adalah salah senggakan. Jadi, senggakan itu dapat berupa perkataan apa pun yang, intinya, untuk "meramaikan" penampilan. Tidak harus cakeppp. Bisa saja lainnya, misalnya "hobat", "Apaan tu, Bang?", "ajib", dsb. Selain itu, tidak ada pakem posisi yang tepat untuk meletakkan senggakan ini, tetapi setidaknya ada hal yang harus diperhatikan dalam penempatannya, yaitu logis, karena senggakan ini kurang lebih seperti "interaksi" antara panjak (seniman) dan alok (lawan bicara). Dan senggakan ini sifatnya TIDAK WAJIB dan hanya sebagai "peramai" penampilan saja yang sifatnya spontan.
Adapun untuk kasus pantun, bagian yang paling logis dan cocok untuk menempatkan senggakan ini adalah pada bagian antara kulit dan isi, seakan-akan untuk mengantarkan maksud pada isi yang dirimakan oleh kulit. Jadi, kurang lebih seperti ini:
Biru-biru bukannya kaèn
Kembang melati di pelataran
–––––––––––––––––––––––––– (Cakeepppp!)
Sakit rindu bukannya maèn
Si jantung ati punya lantaran
Umumnya, penempatan senggakan seperti ini. Dengan begini, pantun terkesan seimbang. Praktik ini yang sering dilakukan oleh banyak praktisi palang pintu.
Adapun praktik yang biasanya dilakukan oleh orang awam dengan menempatkan Cakeppp hampir di seluruh baris pada sampiran atau kulit, ini adalah praktik yang pèdog (timpang) dan terlihat tidak seimbang karena senggakan yang digunakan sama pada kedua baris sampiran, sementara pada bagian isi sama sekali kosong. Ini tampaknya praktik yang agak keliru untuk menggunakan senggakan, apalagi dipahami sebagai "kanon" untuk pantun Betawi.
Tradisi senggakan memang tradisi yang ada di kesenian Betawi secara umum, tetapi tidak pernah menjadi bagian kanonikal pada penampilan kesenian Betawi. Artinya, ini hanya sebagai "peramai" saja.
Khusus untuk senggakan "Cakeppp" pada pantun, apakah sudah lazim digunakan dari zaman dulu pada pantun Betawi? Tampaknya, yang melazimkan senggakan "Cakeppp" pada pantun Betawi adalah acara Pesbukers pada bagian pantun masak aèr yang dilaukan oleh Bang Opie Kumis dan alm. Bang Sapri. Tapi, kalau diperhatikan, praktik penggunaan senggakan-nya pun masih cocok, yaitu di antara ujung kulit dan isi, tidak seperti praktik pèdog yang dilakukan oleh banyak orang sekarang ini. Coba perhatikan ini https://t.co/UzUnEmhp4a
Masak aèr biar mateng
Daon kélor di atas kedok
–––––––––––––––––––––––––– (Cakep!)
Sapri, lu jangan so' ganteng
Mukè lu kayè telor kodok
Sebenarnya, tidak ada masalah dengan senggakan semacam ini. Namun, dari sini, banyak orang kadung lumpar (terlanjur salah kaprah) dalam mengira dan menggunakan senggakan. Akibatnya, banyak yang menggunakannya terlalu sering dan kaga' keruan. Dari sini, para budayawan dan praktisi kesenian Betawi, tampaknya, terbagi dua mengenai hal tersebut: ada yang jeléh (muak) dan ada yang menerima (tentu, dengan penggunaan yang benar). Kalau pendapat pribadi saya, sebagai penikmat kesenian Betawi (bukan sebagai ahli), saya membebaskan saja mao lu paké entu senggakan, kè', engga', kè', sepanjang tahu cara menggunakannya dengan benar dan jangan ketelèngèsan (keterlaluan).
Tampaknya, budaya ini, kemudian, juga "diimpor" oleh kawan-kawan kita dari daerah lainnya saat berpantun. Beberapa bulan lalu, saat saya di Kutai, salah satu dari mereka mengeluhkan mengenai "pengimporan" senggakan ini pada pantun mereka yang dilakukan oleh—katanya—institusi yang mengurusi kebudayaan di sana. Mereka menerjemahkan cakep (Betawi) sebagai gerécé (Kutai), yang—menurut perkataannya—kata tersebut kurang tepat dalam konteks ini apabila ingin digunakan. Kata tersebut, menurut pertuturannya, lebih berarti "indah" secara fisik daripada "indah" dalam konteks "mantap" sementara cakep di bahasa Betawi punya kedua makna tersebut. Orang tersebut mengeluhkan bahwa kebiasaan seperti ini menjadi "salah kaprah" baru di kalangan masyarakat sana.
Simpulan:
Dalam pantun Betawi, ada atau tidaknya senggakan bukanlah menjadi masalah. Hal yang terpenting, gunakan senggakan secara bijak dan benar.
@astridwasis Kayaknya dulu ga masalah deh bilang buku ini jelek buku ini oke. Kok sekarang jadi rame begini cuma perkara menilai buku anu jelek atau bagus. Toh emang ga selamanya kok kita bisa bikin karya bagus mulu. Ada kalanya butut.
Sebagai orang yg ga pernah kuliah, tontonan ky bgini emang bermanfaat bgt. Meskipun klo gue dengerinnya di motor sih, ga nyatet. Kyknya klo nyatet bagus juga.
Banyak partai sengaja merekrut artis untuk jadi anggota Dewan. Kenapa? Karena kebanyakan tidak begitu cerdas, jadi gampang disetir. Asal ditabok duit banyak, diberi fasilitas mewah, mereka bakal manut. Beginilah duitnya rakyat dipakai. Buat pesta-pora & ugal2an pejabatnya!
Justru sy mrasa semangat liat pergerakan skrng. Mendobrak stereotip aktivis masa lalu: pake kaos merah/hitam, gambar wajah che atau bintang kuning, klo ngomong ndakik2.
Aktivis zaman now: wibu, onepiece, gamer, dianggap cringe & cute, dan yg dianggap popculture lainnya.
Sedihnya, semua itu terjadi seperti organic. Dari situ gue akhirnya mikir, ternyata di sirkel aktivis ada abang2annya juga. Apalagi ada yg sampe nyinyir soal influencer. Lah, masih untung influencernya ngajak berpikir kritis. Bingung maunya gimana dah.
I'll never be that harsh to someone who barely poses harm like afutami.
She doesn't get paid by our taxes, took lots of great initiatives, researched & actually gave a sh*t about the ppl and yall are making parallels between her & DPR.
Like do yall hear yourselves??
@Remmentifleur@rgantas Saya udah baca artikel di atas dan penasaran. Ada ga sih kelompok aktivis di sini yang terstruktur, berideologi, memiliki pemimpin? Kalau ada, keberhasilannya kayak gimana? Kalau belum ada yg berhasil, ya menurut saya mah sama aja atuh.