Tahu tidak? Saya menunggu 11 tahun untuk bisa sekadar menonton film yang saya inginkan di bioskop. Menunggu 8 tahun untuk bisa makan di luar dengan tenang tanpa harus mengejar anak yang berlarian. Menunggu 6 tahun untuk sekadar mandi tanpa ditunggui.
Sebab apa? Anak.
Karena harus bekerja dan mengurus anak, saya menekan segala keinginan diri sendiri, sesederhana apa pun itu. Frustrasi? Kadang. Lelah? Tentu saja.
Rasanya seperti ada bandul besi yang dirantai di kaki.
Namun, seiring berjalannya waktu, semakin usia Aksa bertambah, langkah saya menjadi lebih panjang dan lebih mudah.
Jadi, untuk teman-teman single parent, saran saya cuma satu: bertahan dan bersabar sekuat kita bisa.
Akan tiba saatnya rantai itu terlepas satu per satu. Akan tiba saatnya kita punya waktu untuk diri sendiri. Akan tiba saatnya kita kembali mengukir dan berusaha menggapai mimpi demi mimpi.
Akan tiba saatnya ....
Kasus ini sebenarnya bukan Pegawai BNI menipu dan mencuri uang gereja, Tapi pegawai BNI menipu dan menggelapkan uang BNI.
Pegawai tsb mestinya menyetorkan uang yg diterima dari nasabah ke BNI dan mencatat dalam pembukuan nasabah di BNI. Tapi tidak melakukannya, padahal itu tugasnya yg diberikan BNI. Namanya penggelapan.
Oleh karenanya, uang umat yg dititipkan di Gereja tsb mestinya harus ada. Dan perkara ini mestinya eks pegawai BNI yang melarikan diri dan sudah ditangkap itu dgn BNI, bukan gereja dgn pegawai tsb.
Logikanya bagaimana sih ini Kacab BNI. Pecat saja sudah, bahlul begini jadi Kacab.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Ngeliat foto laporan menu-menu MBG di berbagai macam daerah yang unik-unik, entah apalah maksudnya ngasih makanan yang ga jelas standarnya itu, cuma bisa geleng-geleng, ngelus dada sambil mbatin "oalah celeeeng celeeeeng" ๐ฎโ๐จ
@neVerAl0nely___ Knp laki2 enteng melukai perempuan? Ada budaya yg dipelihara. Pada piramida Budaya Perkosaan, peristiwa di bawah 'mendukung' peristiwa di atasnya.
Kalo suka jokes seksis, mending stop, krn itu berkontribusi pd mudahnya laki2 mengkapak perempuan dlm kasus ini.
Polri udah gak ada kerjaan banget kah? Udah banyak waktu leha leha kah? Kok pake ikutan ngurus urusan dapur dapur? Ckckck, negara apa iniiii polisi bisa ganti jobdesc ngurus urusan dapur ๐
Andaikan saja seluruh rakyat Indonesia dijamin oleh negara melalui PBI JKN, maka hanya dibutuhkan anggaran 143.2 T setahun utk layanan BPJS kelas 3, yg mau naik kelas bayar selisihnya
Nilai tsb hanya 47.2% anggaran Proyek MBG dan masih lebih kecil dibanding anggaran TNI/Polri
Prabowo Singgung Lagi Distribusi MBG di Sumbar dan Aceh
โBuktinya saya kalah di Sumatera Barat, benar? Tapi tetap MBG sampai ke Sumatera Barat. Saya juga kalah di Aceh, kan? Tapi tetap kami bangun Aceh habis-habisan,โ ucapnya.
@catwomanizer Nggak semua yg kita anggap dipilih/diputuskan secara mandiri beneran dipilih/diputuskan berdasarkan kesadaran utuh dan penuh. Apalagi kalau sudah dikomersialkan ya, itu sudah pasti bukan atas dasar kesadaran penuh dan ada relasi kuasa di situ
masih dan akan terus menganggap bisnis surrogacy ini JAHAT BANGET ke perempuan sih.
eksploitasi wanita โ
eksploitasi kemiskinan โ
โgapapa toh mereka rela dan dibayarโ
kerelaan dan adanya bayaran ini justru semakin menguatkan dan memvalidasi eksploitasi. wanita dgn segala resikonya, taruhan nyawa, dsb dianggap biasa dan remeh karena sudah โdibayarโ.
Saya lulus kuliah 2020, bahkan baru bisa bener-bener menikmati uang jerih payah sendiri sejak 2025 loh.
Uangnya kemana? Buat bayarin hutang keluarga saya yang jumlahnya ratusan juta itu, bukan saya habiskan foya-foya.
Bahkan saya tetep harus cover biaya asuransi dan spp kuliah adik saya karena ayah saya ngga sanggup. Mau nolak? Tentu tapi saya malas ribut.
Come on, ngga semua orang yang ngga punya duit itu manajemen uangnya jelek. Ya emang uangnya dialihkan supaya dapur tetap menyala.
Belajar dari case Aureli, ajarkan ini ke anak, baik perempuan ataupun laki-laki:
"Ketertarikan seksual orang dewasa ke kamu itu bukan pujian, juga bukan karena kamu terlihat dewasa.
Itu menunjukkan gagalnya orang dewasa menjaga batas.
Dia yang problematic, bukan kamu"
Kenapa perlu disampaikan ke anak perempuan dan laki-laki?
Karena grooming bukan hanya terjadi pada anak perempuan. Anak laki-laki pun banyak yang jadi korban, tapi jarang dibahas secara terbuka.