Ada satu kalimat indah yang bilang begini,
apa yang kita beri belum tentu kembali, tapi apa yang kita beri selalu menunjukkan siapa diri kita.
Dan jujur, kalimat ini menempel di kepala.
Karena ia menggeser pertanyaannya. Dari, “aku dapat apa?” menjadi, “tindakanku ini sebenarnya menggambarkan siapa diriku?”
Kita terbiasa menilai segalanya dari hasil.
Kalau kita memberi waktu, kita berharap ada balasannya. Kalau kita hadir untuk orang lain, kita berharap mereka juga hadir untuk kita. Saat harapan itu tidak terjadi, rasanya mudah sekali mengira kita salah hitung, atau merasa sudah memberi terlalu banyak.
Saat kita memilih sabar di momen yang menguji hati, itu menunjukkan sesuatu.
Saat kita menepati janji, padahal sedang repot dan rasanya tidak nyaman, itu juga menunjukkan sesuatu.
Saat kita peduli pada orang lain, murni karena memang peduli, tanpa agenda tersembunyi, itu pun menunjukkan sesuatu.
Ada usaha yang hilang tanpa tepuk tangan. Ada hubungan yang pudar tanpa penjelasan. Tapi itu tidak membuat kebaikan kita sia-sia. Itu justru membuatnya tulus.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengatur apa yang akan kembali kepada kita. Tapi kita selalu bisa memilih apa yang keluar dari diri kita.
Heal me on the Day of Arafah, Ya Allah. Heal me so deeply that even my memories stop hurting. Replace the tears in my eyes with light in my heart. Make me forget the words that wounded me and remember only that You are enough for me.
Allah tuh baik banget yaa, tadi kepikiran pingin beli kesemek tapi belum sempat, eh terus tiba-tiba ada konsumen datang dibawain kesemek satu kantong, masyaAllah rezeki memang gk ke mana yaa 🥹🤍