Parameter Normal Tubuh Manusia
Tekanan Darah → 120/80 mmHg
Denyut Nadi (Detak Jantung) → 60–100 kali/menit
Suhu Tubuh → 36,5–37,5 °C
Frekuensi Napas → 12–20 kali/menit
Hemoglobin (Pria) → 13,5–17,5 g/dL
Hemoglobin (Wanita) → 12,0–15,5 g/dL
Kolesterol Total → < 200 mg/dL
Kalium (Potasium) → 3,5–5,0 mmol/L
Natrium → 135–145 mmol/L
Trigliserida → < 150 mg/dL
Volume Darah Total → ± 5–6 liter
Gula Darah Puasa (Dewasa) → 70–99 mg/dL
Gula Darah Puasa (Anak) → 70–100 mg/dL
Zat Besi Serum → 60–170 µg/dL
Sel Darah Putih (Leukosit) → 4.000–11.000 /µL
Trombosit → 150.000–400.000 /µL
Sel Darah Merah (Pria) → 4,7–6,1 juta /µL
Sel Darah Merah (Wanita) → 4,2–5,4 juta /µL
Kalsium Total → 8,6–10,2 mg/dL
Vitamin D (25-OH) → 20–50 ng/mL
Vitamin B12 → 200–900 pg/mL
Catatan
Nilai normal bisa sedikit beda tergantung:
* usia
* jenis kelamin
* laboratorium
* kondisi tubuh (hamil, sakit, atlet, dll)
TRAGEDI ADE SARA: KETIKA REMAJA MEMILIH JADI PEMBUNUH
Maret 2014, sebuah tragedi mengguncang Indonesia. Ade Sara Angelina Suroto, seorang remaja 19 tahun yang dikenal ceria dan penuh masa depan, ditemukan tak bernyawa di pinggir Tol JORR Bintara. Yang membuat publik terhenyak bukanlah sekadar kematiannya, melainkan siapa pelakunya: mantan kekasihnya, Hafitd, dan pacar barunya, Assyifa.
Hanya karena ego, cemburu buta, dan sakit hati, dua remaja yang seharusnya fokus menata masa depan ini justru merancang sebuah skenario keji. Di dalam sebuah mobil yang terus melaju, Ade Sara disiksa selama 4 jam hingga mengembuskan napas terakhirnya akibat jalur pernapasan yang disumbal paksa.
Hukum tidak tinggal diam. Meski awalnya divonis 20 tahun, Mahkamah Agung akhirnya mengetuk palu keadilan tertinggi: HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP. Mereka menjadi salah satu terpidana seumur hidup termuda di Indonesia.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Bahwa cinta yang obsesif dan hilangnya kontrol emosi bisa mengubah manusia menjadi monster dalam sekejap.
Mari kita kirimkan doa untuk almarhumah Ade Sara, dan semoga tidak ada lagi nyawa yang hilang karena ego yang tak terkendali.
Gue suka banget sama statement ini nih:
Sebenarnya pekerjaan yang lagi lo tekunin sekarang itu adalah hadiah terbaik yang Allah kasih khusus buat lo. Makanya lo ditakdirin berada di posisi ini, meskipun dari sananya bukan bidang atau pilihan lo sama sekali.
Lanjut...
Kalau bingung dengan pertanyaan "Apa yang kita inginkan dalam hidup" sebenernya tinggal dibalik aja pertanyaannya menjadi,
"Apa yang tidak kita inginkan dalam hidup?"
Biasanya akan lebih mudah menjawabnya.
Misalnya,
- Tidak ingin hidup susah
- Tidak ingin sakit-sakitan
- Tidak ingin menjalani hidup sendirian
Kalau sudah tau, hindari hal itu. Lakukan sesuatu agar tidak mengalaminya.
Ini adalah salah satu mental model yang namanya "inversion thinking".
3 bulan kerja di pengolahan makanan di jepang, standar higienisnya emang gak kaleng-kaleng. mau ke toilet aja kadang males karena harus lewat proses cleaning (sanitasi) lagi. istirahat 45 menit, 10 menitnya habis buat bebersih 😭
pernah bikin geger satu pabrik. tebukuro (sarung tangan) tiba-tiba robek pas kerja. aku di bagian sortir keripik kentang yang baru keluar dari penggorengan, suhunya panas jadi emang gampang robek.
waktu itu shift malam. sadar robeknya jam 21.00, langsung buru-buru lapor operator.
diinterogasi kira-kira robeknya jam berapa. akhirnya ditarik perkiraan sekitar jam 19.00.
masalahnya robeknya sampai bolong dan potongannya gak ketemu. dikhawatirkan masuk ke dalam kemasan.
akhirnya produksi dihentikan. semua produk dari jam 19.00–21.00 dibongkar buat nyari potongan sarung tangan itu.
ribuan kemasan dibongkar. jangan tanya keadaan mentalku saat itu. rasanya pengen menghilang dari bumi 😭
komat-kamit dzikir minta keajaiban biar ketemu… tapi nihil 😭
untung gak jadi musuh line produksi, tapi emang sejak hari itu langsung di pindah line 😭
kalo nanya kemasan yang dibongkar itu apakah di re-pack? enggak ya, jadi gomi (sampah) biasanya buat makan ternak khususnya babi.
intinya standar food safety di jepang gak kaleng-kaleng 😭
rela rugi banyak demi sebuah kualitas
Penjelasan Ferry Irwandi tentang masalah gaji guru honorer telah digunakan oleh banyak pihak untuk menormalisasi nasib guru honorer agar mereka menyalahkan dirinya sendiri, yayasan, dan pemerintah daerah. Padahal, masalah guru adalah masalah kepemimpinan nasional.
-Thread-
[Chart] kata kata BEST SELLER 2026:
#1 atur sebrengsek mungkin (+10 NEW PEAK)
#2 adalah pokoknya (=)
#3 plenger final boss (+7)
#4 jangan terlalu diiniin apasih namanya (=)
#5 sewajarnya manusia aja lah (-1)
Ini keliru, ketika Jawa kena tanam paksa hutan2 di Jawa habis dibabat, berganti kebun kopi (yg di dataran tinggi) atau kebun gula (yg di dataran rendah).
Pasca pemberlakuan UU Agraria tahun 1870 sampe era kemerdekaan hutan Deli habis jadi kebun tembakau, di Priangan jd teh).
FYI teori evolusi manusia dari kera itu cuma cerita karangan buatan hatersnya Darwin.
Darwin sebenarnya ga pernah mengatakan kalau manusia berasal dari kera, waktu itu dia bilang kalau manusia pertama kali berasal dari Afrika. Tapi karena waktu itu orang kulit putih (cont--)
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh: Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Copas FB Samsul Arifin
💚 td di aku ada reels lewat, nah ngejelasin soal penipuan baru, katanya uangnya jgn di TF balik, nanti datanya ke ambil
aku udh nonton videonya, tapi gada penjelasan si uang tsb harus di gimanain selanjutnya
mungkin disini ada yg punya pengetahuan soal ini bisa di share.
Hormat saya pada penggagas dan pelaksana Parenting Day di SMA Negeri 1 Pulung, Ponorogo. Sebuah langkah dari sekolah yang patut diapresiasi dalam mempererat hubungan siswa dengan orang tua mereka. Buat yang jarang ngobrol, yang kangen didandanin orang tua, semua tumpah di sini.🥺