𝐓𝐫𝐚𝐠𝐞𝐝𝐢 𝐊𝐚𝐧𝐣𝐮𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧
Di atas altar Kanjuruhan Menjadi saksi kebengisan Ratusan nyawa yang meregang Akibat kepongahan sang tiran
Di tengah permadani hijau yang membentang Nyanyian suka berganti rupa Dihujani gas air mata Menjadikan bola seharga nyawa
Berbekal fanatisme buta Tragedi Kanjuruhan menjadi sejarah Agar para pemuda mengambil hikmah Betapa potensi tergadai sia-sia belaka
Menggoyang singgasana sang penguasa Agar tak bersembunyi dibalik kelalaian tahta Cuci tangan saling melempar kata Membiarkan si kecil terinjak sesak di dada Menjadi korban tak berdaya
𝙋𝙪𝙞𝙨𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙎𝙚𝙨𝙖𝙣𝙩𝙞 𝘿𝙞𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙮𝙖𝙨𝙖𝙧𝙞
Time flies...
Untukmu, semua saudaraku, 135+ meninggal dunia dan ratusan lainnya korban selamat, maafkan aku dan teman-teman lainnya. Dalam setahun setelah malam kelam itu, kami semua belum bisa mewujudkan keadilan yang belum sedikitpun kalian dapatkan. Tetapi, kami akan melakukan semua yang terbaik untukmu dan untuk kita semua.
Untukmu, saudaraku yang telah pergi meninggalkan kami semua, pergilah dengan tenang, damailah dalam pelukan semesta.
Percayalah, kami akan terus berjuang untuk mewujudkan keadilan untukmu, yang akan hadir di masa yang akan datang. Negara masih berhutang kepada kita semua.
#1TahunTragediKanjuruhan #KanjuruhanBelumTuntas #DontStopTalkingAboutKanjuruhan
Tentang perjuangan orang tua untuk keadilan anaknya, serta perjuangan seorang anak untuk ayah dan adiknya. Luka Tragedi Kanjuruhan masih menganga, sementara keadilan menguap entah ke mana.
#1TahunTragediKanjuruhan#UsutTuntas
Ada 135 orang tewas saat menyaksikan pertandingan bola. Kematian itu sebabnya hanya dua: brutalitas aparat keamanan & tidak becusnya panitia penyelenggara pertandingan.
Mustahil kita diam menyaksikan ketidakadilan ini. Kita WAJIB membela korban tragedi Kanjuruhan!
#usuttuntas