🚨 Aisyah Zakkiyah, KEPONAKAN MENTERI PU dijadikan Tenaga Ahli Kementerian PU — jalur ordal lewat Om Dody 🤪
Lalu dijadikan Komisaris PT PP di bulan Mei 2026
Mentang2 Om nya Menteri PU, kelakuannya udah kayak "Ratu" ya di kantor. Queenbee bgt nih? 🥰❤️
Dulu jaksa nuduh Nadiem: "Hartamu lebih gede dari gajimu, berarti hasil korupsi. Bayar sini 5,68 T"
Sekarang netizen nanya balik:
"Loh Pak... laporan harta bapak 18 M, kok yang ditemukan polisi (diduga terkait bapak) 543 M? Hartanya lebih gede dari gaji tuh. Pake rumus bapak sendiri ya, itu artinya apa?" 🤔
Rumus yang dipake buat nuduh orang, sekarang muter balik ke yang bikin rumus. 😛
Banyak yang gak tau vonis Nadiem itu gak kompak. Dari 3 hakim, ada 1 yang bilang "buktinya gak cukup, harusnya dia BEBAS."
Dulu suara hakim ini tenggelam. Sekarang, pas kredibilitas penuntutnya lagi diobok-obok polisi, semua orang bakal ke notice:
"Eh bener juga kata hakim yang satu itu..."
Kasus nya sampe sekarang belum selesai sob tapi timing nya tepat banget
Nadiem gak terima → banding. Kejagung juga gak puas (maunya 18 tahun) → banding juga.
Artinya apa? perkara ini masih lanjut ke pengadilan yang lebih tinggi. Dan PAS banget di tengah-tengah itu... kantor yang nuntut Nadiem malah digeledah polisi.
Vonis Nadiem 30 Juni. Geledah 8 Juli. Cuma 8 hari cuy 😄 Pengacara Nadiem gak perlu kerja berat amunisinya dianterin sendiri wkwk
Yang paling bikin nyesek Nadiem nangis di pengadilan:
"Uang Rp809 M itu gak pernah sepeser pun masuk kantong saya. Saya gak punya uang segitu. Cek aja harta saya."
8 hari kemudian, polisi bongkar brankas rahasia di balik dinding rumah yang diduga terkait pimpinan yang nanganin kasusnya. Isinya 74 kg emas + tumpukan dolar. Total setengah triliun 🌛
Kebagian juga nih sensus.
Mama ku : kok hutangnya ga ditanya bu?
Petugas : yaah klo itu kan urusan pribadi pak, bu.
Kami serempak : ya penghasilan juga urusan pribadi kali buu..
Maaf ya bu, kita tau ibu2 ini hanyalah petugas lapangan aja. Tapi zuzur.. udh keburu gondok aja klo udh menyangkut sama govt. Skrg tuh.
Kamu udh ada yg didatengin petugas sensus ekonomi kah?
Sepakat dengan poin dari mas Ramzy dan temen-temen @rememberpersib di sini.
Bahwa sepak bola tidak selalu soal hitam dan putih terutama dalam beberapa hal. Serta poin soal menit bermain adalah kebutuhan personal dan jaminan yang harusnya bisa terpenuhi secara maksimal sebagai seorang atlit professional selain aspek finansial.
Seperti yang dilansir oleh @nielsdijkhuizen, baru-baru ini terdengar kabar soal Tim Geypens yang tidak menemui titik temu dengan FC Emmen dalam hal perpanjangan kontrak.
Bahkan, tawaran dengan nilai lebih rendah pun dinilai tidak memadai, sehingga menyebabkan keduanya resmi berpisah.
Dan rumornya Bali United siap memakai jasa dari Tim. Dalam konteks sepak bola, saya rasa ini adalah hal yang wajar. Amat, sangat, wajar.
Saya memahami keresahan temen-temen yang peduli dengan Timnas dan para pemain keturunan-nya. Tapi, rasanya untuk membakar bola api dan mengeluarkan statement yang tendensius juga gak bikin masalahnya jadi hilang.
Jangan lupa, semua klub professional di manapun berhak untuk kontrak siapapun pemain-nya selama kesepakatan professional terjadi antara kedua belah pihak.
Bahwa Liga Indonesia ini masih banyak kurangnya adalah sebuah hal yang harus diakui. Tapi, kita pun tidak bisa memungkiri jika Liga Indonesia adalah salah satu Liga "terpanas" yang ada di Asia.
Pendiskreditan yang terjadi pada Liga Indonesia ini saya rasa sudah terlalu berlebihan. Bahkan saya merasa kalo hal-hal tersebut malah seakan menghambat perkembangan dari Liga Indonesia dan bahkan Sepakbola Indonesia secara keseluruhan.
Kaya... Dukung Tim Nasional tapi terus-menerus mendiskreditkan Liga-nya tuh buat saya jadi hal aneh yang muncul dari mereka yang menyebut dirinya peduli pada sepak bola Indonesia. Hal-hal tersebut pada akhirnya membuat saya ingin berucap... "Ari sia cageur?!"
"Jika timnas-nya bagus, itu hanya akan menjadi modal Politik; Tapi jiga sepak bola-nya yang baus, itu bisa menjadi modal sosial."
Saya rasa kutipan dari Zen RS soal sepak bola tersebut akan selalu mempunyai makna dan korelasi terhadap kondisi persepakbolaan di negara ini. Terlebih lagi di kondisi Sosial-Politik seperti sekarang.
Juga... rasanya penggunaan diksi "Liga Kangkung, Lig Ang, Liga antah-berantah" dari para Influencer ulung-pun menjadi salah satu alasan kenapa polemik soal pemain keturunan yang memilih untuk bermain di Liga 1 ini selalu jadi hal panas yang gak pernah berhenti.
Yang uniknya, liga yang sering mereka anggap sebagai "Liga yang buruk" malah menjadi salah satu ladang pendapatan yang cukup besar untuk pribadinya masing-masing. Sebuah ironi yang saya rasa sudah bukan hal aneh lagi di Indonesia.
Terlepas dari itu semua, semenjak Persib Bandung berhasil meraih titel Juara selama tiga tahun berturut-turut, saya rasa pada akhirnya Liga Indonesia mulai memiliki daya tawar dan mendorong tim-tim pesaingnya di Liga untuk berada di level yang lebih baik lagi.
Dari Shin Tae Yong yang mulai menahkodai Persija Jakarta, hingga Johnny Jansen yang sekarang memasuki tahun kedua-nya bersama Bali United. Belum lagi Layvin Kurzawa yang secara tidak langsung mengangkat nama Liga Indonesia menjadi lebih dikenal oleh publik yang lebih luas. Bahkan soal rumor kedatangan Ante Rebic ke Persija Jakarta yang ramai belakangan.
Saya rasa, itu semua terjadi bukan hanya karena sebuah kebetulan. Tapi memang perlahan, nilai dan daya saing dari Liga Indonesia perlahan menuju ke sisi yang lebih baik. (meskipun emang masih banyak kurangnya, but hey! It's a good thing!)
Sebagai penutup, izinkan saya untuk mengutop cuitan Coach @ardynshufi di salah satu tulisannya.
"Jika para pemain dan nama-nama besar dapat melihat dan menilai bahwa Liga Indonesia mampu menjadi kompetisi yang menjaga performa sekaligus meningkatkan kualitas dirinya, kenapa kita tidak?"
Terpapar konten ini, lalu ada akun bobotoh yg menarik kesimpulan ini adalah nilai sponsorship Persib.
Saya jadi tertarik utk sedikit menjelaskan, agar tidak salah kaprah.
Market cap itu nilai seluruh perusahaan di bursa saham, di harga saham dikali jumlah saham beredar.
Market cap Indofood Rp51,59 triliun itu nilai Indofood secara keseluruhan: mie instan, tepung, minyak goreng, ratusan brand di seluruh Indonesia. Kalo angka per-hari ini malah udh tembus di atas Rp. 70T.
Sponsorship ke Persib mungkin cuma sebagian kecil dari aktivitas bisnis mereka. Menjumlahkan market cap semua sponsor lalu bilang “ini nilai sponsor Persib” itu seperti bilang kekayaan sekomplek perumahan adalah total kekayaan semua warga yang kebetulan tinggal di situ.
Yang seharusnya diukur untuk “nilai sponsorship” adalah deal value, nilai kontrak per tahun antara brand dan klub. Bukan market cap perusahaan sponsornya. Dan ini memang tidak dibuka oleh Persib karena mereka bkn perusahan tbk. Tebak?
Jadi headline “Rp92,9 triliun kapitalisasi sponsor Persib” itu angka yang secara metodologi tidak menggambarkan apa-apa soal nilai sponsorship sesungguhnya. Dan SWA sudah menggunakan diksi yg tepat, kebetulan kita aja yg kurang pas narik jadi kesimpulannya 🙏🙏
🚨🔵 THE END OF THIS HOT SAGA?!
Saga transfer 🇦🇷Mariano Peralta (28/MF) dikabarkan telah usai.
Nama MVP 🇮🇩ISL musim 2025/26 tersebut dikabarkan bakal gabung PERSIB untuk musim 2026/27 mendatang.
#intinyadeh komisaris PT Pertamina Retail, Ginka Febriyanti Ginting, lg jd sorotan netizen krn:
> Usia 28thn, gak ada pengalaman korporat/ industri energi
> Background sbg Koordinator Nasional BISON (relawan Prabowo-Gibran)
> Organisasi sayap BISON merupakan mitra Polri
(1/3)
Maret 2026.
Mitra MBG bernama Hendrik Irawan viral joget-joget sambil pamer dapat Rp6 juta per hari.
Publik marah. BGN menegur. Dapurnya disuspend.
Tapi berhenti dulu. Mari ikuti angkanya.
BGN dalam siaran pers resminya mengkonfirmasi:
insentif Rp6 juta per hari memang hak setiap mitra SPPG.
Diatur dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025.
Berlaku untuk semua 27.735 dapur yang aktif.
Tetap cair meski sekolah libur, cuti bersama, atau dapur di-suspend sekalipun.
Hitung sendiri:
Rp6 juta × 27.735 dapur = Rp166 miliar per hari× 313 hari operasional = ~Rp52 triliun per tahun , hanya untuk insentif fasilitas, belum bahan makanan, belum operasional
Total anggaran MBG 2026: Rp268 triliun dari APBN , sekitar 7% dari total belanja negara. Tidak ada program makan sekolah di negara mana pun di dunia yang menyedot porsi APBN sebesar ini (rata-rata global: 0,1–0,5%).
Hasil programnya:
a. 37.270 anak keracunan sejak Januari 2025 (JPPI, Mei 2026), tersebar di 31 provinsi
b. Mayoritas SPPG belum bersertifikat laik higiene sanitasi
c. Program berjalan tanpa Perpres, tanpa audit independen yang bisa diakses publik
Masalahnya bukan Hendrik yang joget.
Hendrik satu dari 27.735 mitra yang menerima insentif yang sama dari sistem yang sama.
Yang patut dipertanyakan bukan orang yang joget di depan kamera.
Yang patut dipertanyakan adalah: siapa yang merancang sistem di mana Rp268 triliun uang pajak rakyat mengalir lewat puluhan ribu dapur swasta tanpa transparansi, tanpa Perpres, tanpa audit publik , sementara 37.270 anak sudah jadi korban keracunan dan program ini tetap jalan?
Madilog: ikuti logika angkanya. Bukan jogetnya.