part of: INTERROBANG, RYFC, STAND BY YOU, PRIMAL FOOTMARK & Sesang 🎶🎵
I ship openly for my sanity; I tweet what I want; NOT affiliated to certain fandom.
To all foreigners/overseas dorama fans esp. #吉高由里子 (Yoshitaka Yuriko) and #北村匠海 (Kitamura Takumi) fans, you can watch Hoshifuru Yoru ni #星降る夜に on Rakuten Viki app/website https://t.co/rbsEsSp47e
Subtitles available: English, Bahasa, and many more languages 😘
aku sering dikira sebagai "girl boss high achiever gk mau nikah maunya kejar karir" type of person when i actually just trying my best to barely survive and is a certified lover girl yang sangat amat ingin menikah dan membangun keluarga dan berkebun dan memasak dan bahagia
paling benci kalo tbtb muncul perasaan gaenak, kaya pengen nangis tapi gak ada yang harus di tangisin gitu. hati rasanya kaya berat banget padahal semuanya lagi aman terkendali, gasuka banget dah perasaan kaya gini.
Jujur ya.. Jakarta itu mahal buat SEMUA orang!
Gak peduli tinggal di Senopati atau di pinggiran Jaktim. Bedanya cuma di apa yang kamu korbankan buat bisa bertahan di sini.
3 "mata uang" yang biasa dikorbankan orang Jakarta:
- Uang: bayar lebih demi waktu/kenyamanan
- Waktu: komuting jam-jaman demi ngirit sewa
- Kewarasan: tinggal numpang demi nabung, tapi bayar pakai stres
Ada yang rela komuting 4 jam PP naik angkutan umum dari Pinggiran Jkt ke kantornya di Jakarta Selatan, demi nggak perlu ngekos di tengah kota.
Ada juga yang udah 40-an tahun tapi masih tinggal di rumah orang tua, bukan karena nggak mampu ngekos, tapi karena dia hitung-hitung sendiri dan itu emang lebih masuk akal secara finansial. Cuma "bayarnya" pakai kesehatan mental.
Buat yang udah berkeluarga, mainnya beda lagi.
Kalau masih single, struggle-nya soal kos vs komuting. Tapi buat yang udah punya anak, ceritanya soal berapa persen gaji yang abis buat kebutuhan sosial anak, sekolah, kegiatan, pergaulan.
Salah satu temen bilang dia alokasiin sampai 80% gajinya ke rekening keluarga, dan tetap ngerasa kerja keras tapi nggak pernah kerasa "kaya" .. yang ada cuma mode survival terus.
Yang bikin capek bukan cuma harga, tapi rasa "kurang" yang nggak pernah abis.
Jakarta didesain buat bikin orang terus ngerasa kurang: gaji harus lebih gede, lingkungan harus lebih oke, gaya hidup yang "dikit lagi" keraih.
Makin ngejar standar orang lain (atau standar yang muncul di linimasa), makin jauh juga rasa "cukup" itu kekejar.
Jadi strategi paling realistis buat hidup di Jakarta bukan nyari cara biar nggak ngorbanin apa-apa, karena emang nggak ada caranya.
Tapi nyari tau: dari uang, waktu, atau kewarasan, mana yang paling worth buat LO korbanin?