Banyak orang mengira hasil MK kemarin itu mengarah ke pelengseran Gibran. Mereka tertawa-tawa seakan Gibran sudah berhasil mereka turunkan.
Sejak 2014 tawa itu sudah sering kita dengar. Seakan-akan "sebentar lagi" bisa menurunkan Jokowi.
Mimpi basah terpanjang dalam sejarah.👇
Kesalahan Gibran Rakabuming Raka itu cuman satu ☝ia bersedia mendampingi Prabowo Subianto dengan segala jenis resikonya.
Buat saya justru kekuatan terbesar Gibran Rakabuming Raka ada di situ, sebagai anak muda dan juga anak Presiden Republik ia bisa saja memilih menikmati hidupnya sendiri bersama keluarganya, bodoh amat sama politik Indonesia yang acak kadut ini.
Tapi...
Ia memilih mengambil tanggungjawab besar itu secara bersemangat dan dengan lantang di atas panggung sejarah 📜 ia bersuara "saya sudah ada di sini" ini bukan sekedar suara, ini adalah panggilan sejarah untuk anak-anak muda yang kita tau mereka apatasi sama politik, mereka apatis karena mereka muak dengan perilaku elit politik Indonesia yang memang seringkali lebih sering menebar ranjau konflik antara sesama bangsa dari pada membangkitkan rasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa.
Anak muda bernama Gibran Rakabuming Raka ini mungkin melihat bahwa ini bisa dijawab dengan pendekatan yang beda, tapi apa yang ia dapat?
Ia menjadi sasaran tembak dari kelompok-kelompok elite yang otaknya menurut saya sudah tidak bisa diupgrade lagi, ibarat OS lama yang sudah waktunya di buang atau dipajang sebagai barang antik.
Sebagai anak muda yang hampir seumuran dengan Gibran Rakabuming Raka saya akan terus berteriak dan mendukung agar anak muda ini bisa bertahan dalam pusaran politik busuk ala pikiran-pikiran busuk, saya mungkin hanya bisa berteriak di media seperti X dan sepertinya memang waktu akan saya habiskan untuk mendorong anak-anak muda seusia Gibran Rakabuming Raka untuk bersatu melawan "ke-uzuran" cara berpikir bangsa ini, sekaligus memutus rantai kutukan sejarah 📜
Ayo mase @gibran_tweet jangan takut, jangan menyerah dan jangan melemah, siapkan kendaran tempur sejak saat ini mari kita menangkan kembali suara-suara anak muda yang ditindas oleh ke-uzuran zaman ✊🇮🇩
Semua juga tau kemenangan Pilpres 2024 itu karena ada kehadiran Mas Gibran
Mas Gibran tidak ada niat untuk jadi cawapres kalau tidak di minta sampai 5 X oleh Pak Prabowo
Sekarang setelah melihat kemenangan dan hasil kerja dan antusiasme masyarakat pd Mas Gibran.
Mereka MULAI KETAKUTAN Menghadapi Pilpres 2024 dan dengan berbagai cara LICIK dan FITNAH Bersatu untuk MENJATUHKAN mas Gibran
Rakyat yang cerdas dan Semesta tak kan berpihak pada manusia Jahat dan sepertinya Ketakutan mereka akan TERJADI ...
Tetap Tangguh Mas Wapres @gibran_tweet ✊🇮🇩
Dalam kasus mas Gibran, analoginya lebih pas: anda diminta belanja minimal 30 ribu. Anda belanja 150 ribu dan punya nota. Lalu anda bilang 150 ribu itu melampaui 30 ribu sebagai permintaan minimal. Namun lawan bicara anda terlalu menikmati kebodohannya & tetap minta nota 30 ribu.
Wagub ini juga ga ada ijazah SMA karena kuliah luar negeri, tapi karena bukan Wapres makanya aman.
Nenek tua bau tanah baju merah terbuka sendiri kedoknya sebagai lampir
Bunyi UU: "Berpendidikan paling rendah tamat SMA, MA, SMK, MAK, atau bentuk lain yang sederajat."
Namun hanya karena kepentingan politik, kita bisa berbeda menafsirkan kalimat di atas. Penafsiran di kalimat inilah inti perdebatan dan kegaduhan yang ada.
Sekarang saya tanya, misal Ijazah SMA sederajat HARUS ADA, kenapa di ayat itu ada kata "paling rendah"? Seharusnya kalimatnya cukup seperti ini:
"Berpendidikan tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat."
Kenapa harus ada kata "paling rendah"? Coba kita pakai logika saja.
Jika ada kata "paling rendah" BERARTI jika mempunyai ijazah yang lebih tinggi, berarti sudah memenuhi syarat.
YANG PENTING: Ijazah di atas SMA itu sah dan sesuai prosedur. Untuk itu, tinggal ditanyakan ke MDIS, dulu Gibran itu masuk ke MDIS itu pakai sertifikat apa? Sah atau tidak? Itu saja kan yang perlu kita tahu?
Ini beda banget dengan kasus Bupati Pesawaran (Aries Sandi Darma Putra) yang didiskualifikasi karena ijazah SMA-nya bermasalah.
Dia tak lulus SMA tapi kemudian mengakali ijazahnya sehingga bisa kuliah. Tentu saja ijazah S1 dan S2-nya otomatis gugur ketika terbujti bahwa cara masuknya tidak sah alias ilegal.
Nanti, MK atau lembaga yang mau menyelidiki kasus ijazah Gibran, sudah pasti harus mengonfirmasi ini ke MDIS selaku tempat kuliah Gibran.
Kepada MDIS, negara cukup bertanya 2 hal berikut ini:
- Benar tidak Gibran lulus pendidikan S1 di sana?
- Prosedur masuknya sah atau tidak?
Jika sudah dinyatakan sah oleh MDIS, jelas kita nggak punya alasan menyatakan Gibran tak memenuhi syarat sebagai cawapres. Lha wong sudah melebihi syarat minimal.
Betapa anehnya jika siapapun yang sudah punya ijazah S1 di luar negeri masih diwajibkan ikut Paket C hanya karena tidak ada sertifikat yang bisa disetarakan dengan SMA.
Bakal jadi tertawaan dunia kalau kita bersikukuh dengan aturan konyol seperti itu.
Dan bagi Anda yang ngeyel, Anda sendiri akan berbalik lidah ketika orang yang Anda dukung ternyata berada di kondisi yang sama.
1.
SHALAWAT ASYGHIL berkumandang di hari pertama abad ke-2 Nahdlatul Ulama dengan balutan suara simfoni.
Bbrp kali mataku basah saat menulis aransemen Shalawat ini. Ada getaran yg mengharukan saat merangkai harmoninya. Ada rasa yg sulit dijelaskan saat merajut orkestrasinya.
Ada 2 orang hebat di Indonesia yang saat sedang melakukan banyak perbaikan melalui jabatannya, dia dijegal dan dihentikan secara brutal oleh orang yang diuntungkan dari sistem yang buruk.
Mereka adalah Gus Dur dan Ahok.
@Joker_Dodol @msaid_didu Meskipun mahal tapi rakyat Indonesia mampu membelinya, daripada murah tak mampu membeli seperti zaman orde baru, mahal itu biasa, yg gak boleh itu miskin
Kedatangan menemui Presiden Volodymyr Zelenskyy adalah wujud kepedulian masyarakat Indonesia terhadap situasi di Ukraina.
Spirit perdamaian jangan pernah luntur. Saya menawarkan diri untuk membawa pesan dari Presiden Zelenskyy untuk Presiden Putin yang akan saya kunjungi pula.
@detikcom Krn mereka mau bikin pusing para penumpang gelap dan pemangku kepentingan politik yg haus kekuasaan yg berharap demo mahasiswa bs dimanfaatkan utk menggulingkan presiden,tp ternyata zonk..
wkwkwkwk...